Fenomena Kerelawanan Dalam Kemenangan Jokowi

Dari website: https://www.selasar.com/politik/fenomena-kerelawanan-dalam-kemenangan-jokowi

Selasa malam (22/7) pasca pengumuman rekapitulasi akhir KPU, Jokowi bersama kompatriotnya Jusuf Kalla menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Di atas kapal Phinisi, presiden terpilih tersebut kemudian menyampaikan pidato kemenangannya yang diberi judul “Saatnya Bergerak Bersama”.

Satu bagian pidato tersebut menyiratkan satu sejarah baru dalam perjalanan politik Republik ini. “Apa yang ditunjukkan para relawan mulai dari pekerja budaya dan seniman sampai pengayuh becak memberikan harapan bahwa ada semangat kegotong-royongan yang tak pernah mati,” tegas Jokowi. “Relawan” menjadi sebuah idiom baru yang membawa pengaruh besar dalam pemilu negeri ini.

Kemenangan Jokowi memang tak bisa dilepaskan dari kerja keras para relawan. Namun, kemunculan relawan tentu bukan instan dan tanpa alasan. Ardi Wilda mencoba merunut perjalanan kemunculan gerakan kerelawanan di Indonesia dengan mewawancarai Aquino Hayunta. Ia dikenal sebagai pegiat organisasi anak muda Pamflet dan Koalisi Seni Indonesia.

Ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, ia banyak bercerita mengenai kemunculan relawan dalam empat lima tahun ke belakang, problem yang dihadapi kerelawanan, serta apa yang bisa relawan Jokowi lakukan ke depan. Berikut petikan hasil wawancara penulis:

Bila ditilik ke belakang bagaimana gerakan kerelawanan mulai marak?

Saya perhatikan dalam konteks Indonesia kerelawanan muncul mulai 2008, khususnya di kota besar. Penyebabnya karena banyak anak muda memiliki kesempatan untuk berorganisasi di luar kampus.

Ditarik ke belakang lagi, 2002-2006 seperti ada kekosongan gerakan mahasiswa dan kurangnya regenerasi bagi gerakan aktivis sipil. Mungkin karena para mahasiswa angkatan 1998 sudah lulus dan keluar kampus di 2002.

“Untungnya” pada tahun 2006 itu ada Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi (RUU APP), yang penuh kontroversi sehingga merangsang begitu banyak orang untuk bereaksi.

Saya ingat dulu demo menolak RUU APP pada April 2006 adalah demo terbesar sejak 2002. Sejak 2002 saya tidak pernah melihat demo sebesar RUU APP. Di situ juga mulai organisasi-organisasi yang menentang RUU tersebut menerima relawan dari mahasiswa. Aliansi Mawar Putih yang menolak RUU APP misalnya, menggunakan banyak tenaga relawan mahasiswa untuk mengumpulkan petisi dari masyarakat. Ketika itu petisi masih dilakukan secara manual, menyebarkan kertas tercetak atau melalui SMS dan terkumpul sekitar 16 ribu petisi.

Kenapa mahasiswa? Karena yang terganggu kebanyakan anak muda. Terganggu dalam konteks terancam kebebasan berekspresinya. Selain itu juga punya kelebihan waktu dan tenaga.

Terus 2008 kesempatan untuk membuat organisasi makin besar, karena ada berbagai organisasi internasional maupun nasional yang membuka kesempatan untuk pertukaran budaya, short course atau pelatihan bagi anak muda sehingga mulailah banyak bermunculan organisasi anak muda. Sejak itu aktivisme jadi seperti tren. Sesuatu yang cool buat anak muda. Anak muda yang cool itu yang berwawasan luas dan yang berwawasan luas itu punya kepedulian sosial. Kegiatan sosial juga menjadi poin plus untuk cari kerjaan atau cari beasiswa.

Baru sekitar dua-tiga tahun ini kerelawanan terasa sangat meledak. Bahkan ada organisasi yang sengaja memfokuskan diri pada kerelawanan seperti Indo Relawan juga Indonesia Mengajar. Namun, memang kalau dilihat ini masih bergerak di kota-kota besar, mungkin karena faktor informasi yang lebih mudah didapat.

Faktor pendukung selain itu?

Saya belum pernah melakukan studi mendalam soal ini, Pamflet yang pernah melakukan. Hipotesanya adalah kampus saat ini minim aktivisme sosial, kalaupun ada kesibukan di dalam kampus hanya dikuasai oleh kelompok tertentu dan masih kentalnya senioritas. Jadi seringnya sekadar menjadi sayap politik saja.

Di sisi lain, anak-anak yang tidak tertampung di situ akan membuat organisasi lain yang modelnya sebenarnya seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Jadi, ada beberapa individu punya minat sama kemudian membuat organisasi. Kalau dulu basisnya almamater atau lingkungan pendidikan, sekarang basisnya kesadaran atau isu.

Apakah organisasi sayap parpol di kampus juga bisa disebut kerelawanan?

Menurut saya tidak. Itu lebih pada bentuk politisasi mesin partai terkait, usaha mesin partai mencari konstituennya, memperluas kekuasaan dan jangkauannya.

Itu bukan bentuk kerelawanan. Kalau kerelawanan bentuknya lintas identitas dengan disatukan oleh kepentingan bersama.

Kalau bentuk kepartaian sulit untuk dikatakan kerelawanan walaupun tidak dibayar sekalipun. Karena ia bekerja untuk membesarkan organisasi bukan menangani isu. Kalau kerja kerelawanan lebih pro aktif pada isunya.

Bukankah pola-pola yang digunakan oleh parpol mirip dengan kerelawanan, dalam pengkaderan misalnya?

Tidak. Partai tentu sudah punya standar dahulu baru merekrut. Orang diminta untuk mengikuti standarnya.

Kalau kerelawanan sifatnya biasanya berbasis isu. Polanya biasanya diawali oleh kumpul dan diikat oleh keprihatinan yang sama dan tergerak untuk melakukan sesuatu. Baru kemudian membuat organisasi. Setelah itu baru melakukan kerja organisasi seperti perekrutan. Mungkin kesamaannya setelah jadi organisasi, tapi awalnya jelas sangat berbeda.

Semangat relawan selalu dekat dengan filantropi, apakah memang selalu murni filantropi atau justru transaksional?

Tentu ada unsur filantropinya, tapi juga ada sedikit transaksional. Sederhananya begini, dengan ikut kegiatan relawan anak-anak sekarang jadi bisa nambah portofolio di CV. Mungkin ketika mencari beasiswa atau pekerjaan akan lebih mudah. Mereka juga bisa ikut konferensi, seminar atau pertukaran aktivis dengan negara lain, bahkan bisa dimuat di media massa.

Namun, justru yang dominan bukan itu, yang saya lihat malah anak muda ini sedang mencari jati diri, punya banyak waktu dan memang punya kepedulian sosial. Sehingga secara umum tetap lebih banyak unsur filantropinya.

Kerja relawan biasanya lebih dekat dengan kepentingan banyak orang. Dalam kontestasi pemilu kali ini tentu tak bisa lepas dari kepentingan satu orang, Jokowi. Apa yang bisa menjelaskan ini?

Sebenarnya ini bukan sekadar masalah Jokowi, tapi ini soal menaikkan demokrasi ke level yang lebih tinggi.

Kita melihat pemenuhan hak asasi yang stuck di pemerintahan SBY, sulit mendefinisikan karena dibilang jelek tidak, dibilang bagus juga tidak. Yang jelas adalah kenyataan bahwa negara sering tidak hadir dalam berbagai persoalan masyarakat, sehingga negara ini kerap disebut sebagai negara auto pilot.

Kita berharap jika Jokowi yang jadi presiden maka level demokrasi Indonesia bisa naik. Karena kalau kita tak bergerak atau malah mundur, perjuangan reformasi selama 16 tahun ini bisa jadi percuma, sebab semua ciri yang kita tolak selama reformasi ini ada di kubu Prabowo. Ibarat cerita maka Prabowo menjadi tokoh antagonis sehingga lebih banyak orang berkepentingan supaya si tokoh ini tidak memegang kekuasaan, maka mereka menjadi relawan.

Kerelawanan ini bukan hanya soal mendukung Jokowi. Ini lebih kepada cita-cita bersama yang menurut orang dipertaruhkan pada saat pemilu ini. Itu juga dipertegas dengan mesin partai pendukung Jokowi yang disinyalir tidak berjalan maksimal. Juga fitnah-fitnah yang menerpa Jokowi. Itu yang membuat orang bergerak sebenarnya. Ibaratnya muncul semangat, “Kalau gue enggak turun, gue sendiri yang akan rugi”.

Tadi dikatakan kerelawanan muncul pada 2008, kita tahu di 2009 juga ada Pemilu, tapi kenapa kerelawanan di politik praktis baru terjadi saat ini?

Pertama, karena capres-capres di 2009 tidak menarik kalau diibaratkan sebagai produk dagang maka semuanya mirip-mirip, masih produk lama semua. Lagipula sebelum 2009 evolusi politik kita belum sampai seperti sekarang ini. Dulu, orang yang terjun ke politik masih sangat dinyinyirin. Kita masih selalu jadi oposan, gerakan masyarakat sipil hanya tahu bagaimana menjadi oposan.

Pada 2004 itu awal ketika segelintir aktivis mencoba masuk parlemen, kemudian jumlahnya bertambah lagi pada 2009. Orang mulai sadar tidak bisa terus menerus jadi oposan, tetapi juga bisa masuk ke sistem dan membenahi sistem dari dalam.

Selama empat lima tahun ke belakang, kesadaran dan praktek-praktek tersebut terus berkembang. Titiknya di 2014 ini ketika makin banyak aktivis yang menjadi caleg. Jadi evolusi gerakan masyarakat sipil kita juga berubah.

Jokowi itu seperti hadir di saat yang tepat. Evolusi politik kita berubah, kerelawanan makin banyak dan jenuh dengan stagnannya pemerintahan SBY. Itu semua bertemu dan berjodoh dengan Jokowi.

Sebelum relawan Jokowi lebih banyak relawan dalam gerakan sosial. Jokowi jadi momentum relawan di politik. Apakah di kerelawanan ada dikotomi kerelawanan sosial dan politik?

Tidak. Tidak cocok bahkan dikotomi seperti itu. Kerelawanan itu basisnya kesadaran individu, kesadaran sosial dan politik, sekecil apapun itu. Ada dialektika antara dirinya dengan lingkungannya, dengan persoalan sosial.

Itu yang tidak saya lihat di “kerelawanan politik” dalam konteks partai. Tapi, kerelawan yang mendukung Jokowi ini beranjaknya dari kesadaran politik individu.

Lihat misalnya gerakan relawan yang mengawal perhitungan surat suara itu, kalau dia tidak punya kesadaran politik maka dia tidak akan bikin itu. Juga artis-artis misalnya kalau tidak sadar suara Jokowi harus didongkrak maka mereka tidak akan bikin konser yang di Gelora Bung Karno (GBK).

Animo kerelawanan masyarakat dalam mendukung Jokowi juga bisa kita lihat dengan membandingkan laporan keuangan Prabowo dengan Jokowi. Individu yang menyumbang Prabowo sedikit sekali kalau tidak salah sekitar 40-an individu. Sedangkan individu yang menyumbang untuk Jokowi lebih dari 40 ribu. Ini kan seperti seperti crowdfunding, kita tidak akan menyumbang kalau kita tidak suka dengan projectnya.

Kuatnya relawan Jokowi ini bisa dibaca sebagai fenomena apa?

Fenomena kalau ini sudah zamannya pemerintahan partisipatif. Kita selama ini belum pernah lihat pemerintahan partisipatif seperti yang Jokowi-Ahok lakukan di Jakarta.

Sekarang masyarakat memang ingin berperan dalam pembangunan, ingin menentukan nasibnya sendiri. Bedanya orang dijajah dengan tidak adalah kalau kita dijajah kita tidak bisa menentukan nasib sendiri. Sekarang ini kita berharap kita bisa menentukan nasib sendiri, bahwa kita ingin usulan atau keluhan kita ditampung pemerintah. Mungkin fenomena ini bisa dibaca sebagai itu, masyarakat yang lebih sadar politik.

Bahkan yang memilih Prabowo juga bisa dilihat mereka berani menentukan pilihannya dan mengemukakan argumen. Menurut saya fenomena-fenomena ini kemajuan penting. Kalau ada yang bilang ini pemilu terbaik saya setuju.

Yang terjadi di lapangan dengan masifnya kampanye hitam sangat berbeda dengan keriuhan relawan sosial media, mengapa ini bisa terjadi?

Soalnya penetrasi internet masih minim. Yang tinggal di luar kota besar hidupnya juga lebih pragmatis. Akar rumput masih bergulat dengan kehidupan ekonomi sehari-harinya. Atau terserap perhatiannya ke politik lokal.

Titik kelemahannya bisa jadi adalah infrastruktur dimana akses internet yang belum merata dan yang bekerja di sosial media tidak pernah benar-benar bekerja di akar rumput. Itu juga kritik buat kita sendiri. Kita hanya bermain di kota-kota besar tapi tidak pernah punya metode atau cara menjangkau mereka yang berada di luar akses internet.

Dari situ apa bisa dikatakan pola-pola atau metode yang dilakukan relawan Jokowi sifatnya masih bias kelas?

Dari posisi saya, saya bisa bilang iya. Karena saya tidak turun ke daerah. Tapi tentu perlu ditanyakan juga  ke relawan-relawan yang turun ke daerah tentunya. Secara umum bisa dikatakan masih bias kelas dan sangat kelas menengah sekali. Kita harus menemukan metode kerelawanan di akar rumput, itu yang jarang kita pikirkan.

Kalau akar rumput kan simpel, misalnya gotong royong membangun rumah, ada bencana alam dibantu. Kerelawanan di akar rumput ini biasanya belum terstruktur. Struktur itu pasti ada peraturan, budaya, produk-produk informasi, dan dokumentasi. Di akar rumput sifatnya masih sekadar responsif, artinya saat ada kejadian kemudian merespon. Dia belum menjadi suatu sistem yang sudah jadi.

Saat ini hasil sudah menempatkan Jokowi sebagai pemenang pilpres. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh relawan-relawan yang selama ini membantu?

Sebenarnya pekerjaan ke depan masih banyak. Kebijakan Jokowi pasti akan diserang kanan kiri. Relawan bisa jadi bumper-nya dia ketika kebijakan-kebijakan dia yang pro-reformasi hendak dijegal oleh parlemen. Relawan-relawan ini bisa jadi kekuatan. Yang penting harus dijaga bagaimana relawan-relawan ini tetap punya akses ke Jokowi. Mereka ini seperti lingkar duanya Jokowi.

Coba sekarang kalau SBY lingkar keduanya siapa? Tidak ada. Akibatnya ketika kita mau menyampaikan sesuatu ke SBY jadinya kita bingung bagaimana caranya, akhirnya lewat jalur formal.

Bisa juga menjadi gerakan sipil yang sudah sinergis dengan pemerintah bukan yang beroposisi lagi. Dalam suatu perubahan sosial kan selalu ada dua unsur yakni agency dan struktur. Selama ini agen-agen ini selalu oposan terhadap struktur. Sehingga saling jalan sendiri-sendiri.

Yang bisa dilakukan ke depan bisa jadi bagaimana yang terjadi di agency ini bisa masuk ke struktur. Mengubah struktur jadi lebih baik. Dikeroyok aja strukturnya, misalnya UU MD3. Setelah Jokowi naik pekerjaan besarnya itu, relawan bisa maju lagi.

Artinya relawan tidak mengambil jarak tapi partisipatif?

Iya. Partisipatif kritis. Artinya ia tetap setia bergerak berbasis pada suatu isu, bukan berbasis pada kepentingan politik praktis, tapi di sisi lain dia menjadi orang yang mau memberi masukan ke birokrasi. Kalau dulu kan karena birokrasinya menutup diri kita mau tidak mau harus membuat sistem alternatif yang kemudian disebut oposisi.

Kalau sekarang kita menganggap bahwa Jokowi ini orang baik dan dia butuh dukungan maka support dukungannya berubah dengan memberi dia masukan. Supportnya bukan karena kita mengkultuskan dia, tapi karena ada struktur yang harus diubah dan kebetulan ada orang baik di dalam. Lebih ke sinergis dan itu belum ada presedennya di Indonesia.

Catatan: tulisan ini hasil wawancara Ardi Wilda kepada Hayunta Aquino (pegiat organisasi anak muda Pamflet dan Koalisi Seni Indonesia).

Mengapa kita tak pantas lagi bilang “suka sama suka” – Versi 2.0

Kekerasan seksual pada bentuknya yang tradisional mungkin tidak ditemukan dalam kasus-kasus tertentu. Jangan bayangkan seseorang yang menunggu di tikungan jalan lantas menyergap perempuan yang sedang lewat lalu memperkosanya, atau maling yang masuk ke rumah sasarannya dan memperkosa karyawan rumah tangga yang sedang seorang diri menunggu rumah.

Saya sedang mengkhayalkan skenario seperti berikut:

Kekerasan itu mungkin berawal dari sebuah café di sebuah tempat kebudayaan dimana seorang laki-laki menatap seorang perempuan dan memutuskan dalam hati bahwa ia akan meniduri perempuan tersebut. Laki-laki tersebut punya perjalanan karir cukup panjang dalam bidang sastra dan sudah menghasilkan beberapa karya sastra. Lantas kesempatan itu datang dan si perempuan ini ternyata seorang mahasiswa yang menaruh minat terhadap sastra (mungkin pernah menerbitkan buku kumpulan puisinya secara indie) dan si laki-laki menawarkan berdiskusi tentang sastra secara lebih personal di kamar kost-nya.

“Ayo kita belajar baca puisi di kamar kost saya, kalau di tempat ini kita tidak bisa teriak-teriak” kata si Laki.

Sebagai seorang perempuan yang kagum terhadap si laki yang punya track record cukup baik di bidang sastra tersebut, tentu ia tidak menolak. Apalagi sikap si Laki yang kebapakan dan momong membuat si perempuan muda tersebut merasa aman untuk berurusan dengannya.

Pergilah mereka ke kamar kost si laki dan mereka berdiskusi dan mereka membaca puisi dan si laki dengan satu-dua cara akhirnya bisa berhubungan seks dengan perempuan tersebut. Sesi tersebut selesai dan si perempuan pulang.

Suka sama suka?

Bagaimana jika skenario tersebut berulang dan berulang dan dilakukan dengan banyak perempuan? Bukankah skenario tersebut akhirnya menjadi modus operandi? Bukankah akhirnya deretan perempuan-perempuan tersebut menjadi target operasi belaka, bukan pribadi-pribadi yang direncanakan untuk disayangi atau dikasihi? Dan masih bisakah kita menyebutnya dengan suka-sama-suka?

Batas tipis ini yang kurang dimengerti oleh banyak laki-laki, bahwa kekerasan seksual bukan hanya terjadi jika ada pemaksaan fisik yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan visum seketika, namun terjadi jika sejak dari awal ada ketimpangan kuasa dan ketimpangan ekspektasi. Kekerasan seksual terjadi sejak lelaki memandang perempuan sebagai target dan obyek seks. Lelaki memanfaatkan wibawa, pengalaman, ketenaran dan sejumlah pesona lainnya untuk menggaet target seks tersebut. Bahkan posisi tertentu di institusi tertentu menjadi nilai tambah untuk menjerat targetnya. Maka seringkali kita dengar ada dosen bisa berhubungan seks dengan mahasiswanya, seniman ternama tidur dengan pengagumnya dan seterusnya. Maka kita sering kita lihat tempat kejadian perkara dimulai dari wilayah sebuah institusi lantas bergeser ke wilayah yang lebih “aman” (untuk tidak menyebutnya wilayah privat karena akan menyebabkan kesalahpahaman).

Bagi si perempuan kesadaran bahwa dirinya merupakan target operasi mungkin datang sangat belakangan ketika peristiwa tersebut lewat dalam kenangannya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah namun tidak bisa mengidentifikasinya karena ia “buta huruf” terhadap jenis relasi semacam itu. Referensi terdekat yang bisa ia ingat hanyalah adegan one night stand di sebuah episode “How I Met Your Mother” yang makin membuatnya menganggap bahwa kejadian yang ia alami lumrah adanya. Kecuali jika pada bulan berikutnya ada kejadian yang tak lumrah yaitu menstruasinya tak kunjung datang.

Kekerasan seksual terjadi bukan hanya ketika ada “lelaki yang pergi sebelum hubungan emosional dan psikologis diselesaikan dengan pantas” (1), namun sudah dimulai sejak ada lelaki yang menatap perempuan sebagai obyek seks dan merencanakan serangkaian modus operasional untuk mendapatkan target seksnya tersebut. Hubungan amat sulit diselesaikan dengan pantas jika memang diawali dengan sesuatu yang tidak pantas dan timpang.

(1). Lihat tulisan Ayu Utami : http://ayuutami.com/mengapa-kita-tak-pantas-lagi-bilang-suka-sama-suka/

 

@sahabat

Kalau boleh aku mau nitip masa depan yang tidak sempat kami benahi

Karena kami asyik sendiri mencari kebenaran untuk khayalan kami, dan lupa akan kebenaran untuk masyarakat kami.

Kalau kamu sanggup ingin kupercayakan padamu untuk menadahi air mata mereka yang bergelimang susah, suatu kerjaan yang kami tidak sanggup kerjakan karena kami sendiri banyak berkeluh kesah tentang hal-hal kecil.

Kalau boleh ceritakanlah padaku bagaimana indahnya matahari terbit pagi hari, suatu pemandangan yang mungkin kami lupa karena terlalu sering merutuki gelapnya malam.

Kami ini ingin berarti, ingin menjadi pembebas, ingin menjadi pencerah.

Namun kami memuja kesadaran kami sendiri, kami memuja sedikit kerja kami, kami ini mengagumi diri kami sendiri. Kami bertengkar sendiri satu sama lain.

Kini siapa lagi yang kuharap bisa menggantikan kami bermimpi selain dirimu? Aku tahu ini bukan suatu beban yang kualihkan padamu. Hanya dan hanya jika kesadaranmu sendiri yang memutuskan itu. Jika bukan dari hatimu sendiri yang menggerakkanmu, baliklah langkah dan pergilah pulang.

Cepatlah ubah dunia sebelum dunia mengubahmu

Sebelum rasa marah mengubahmu menjadi raksasa hijau

Sebelum rasa kecewa mengubahmu menjadi kering renta

Sebelum itu semua terjadi nyalakanlah sebanyak mungkin lilin,

Agar jika dirimu padam, telah ada nyala dari lilin-lilin lainnya.

Aku sendiri mungkin telah padam, dan dari nyalamulah akan kukenang cahayaku dulu.

 

Jakarta, 14 Mei 2011

Kebijaksanaan Instan Para Motivator

Banyak orang yang senang sekali dengan para motivator. Itu sebabnya banyak motivator bermunculan tahun-tahun belakangan ini dan laris manis, nasihat mereka disukai orang, mereka diundang untuk mengisi banyak acara dan seminar (tidak peduli  betapa honor menyewa mereka tinggi sekali), kutipan kata-kata mereka di copy-paste di berbagai media sosial, SMS dan Blackberry Mesengger atau Whatsapp. Tak perlu heran kenapa orang-orang bisa senang dengan para motivator itu, di negara yang banyak menyimpan ketidakberesan, orang butuh asupan vitamin penyegar rohani, makanya agama dan motivasi amat laris sebagai tempat pelarian orang untuk mencari secercah cahaya di kehidupan bernegara yang suram. Nah, benarkah para motivator itu memberikan solusi beneran terhadap masalah sosial bangsa ini, kalau iya solusi yang seperti apa?

 

Mereka yang belajar ilmu-ilmu sosial tentu sedikit banyak tahu bahwa nasib kita (individu-individu dalam masyarakat) ditentukan oleh sistem sosial yang melingkupi kita. Kita tidak punya banyak pilihan karena terbatas oleh struktur sosial di sekitar kita. Misalnya seorang yang berasal dari pedesaan dan pendidikannya hanya lulus SD atau SMP tidak punya banyak pilihan selain menjadi buruh, pembantu rumah tangga atau buruh migran. Sulit baginya untuk bisa kerja kantoran, jadi jurnalis, guru, dosen atau pengusaha.  Seorang mahasiswa yang mengalami masalah di rumahnya sulit menjadi mahasiwa berprestasi karena misalnya dia harus bekerja menafkahi keluarganya dan mengurusi adik-adiknya. Masih untung dia tidak drop out. Seorang anak jalanan perempuan memiliki resiko besar terkena pelecehan seksual karena situasi lingkungannya yang tanpa perlindungan. Bahkan diantara orang-orang yang kelihatannya punya banyak kesempatanpun ternyata pilihan tersebut tidak begitu banyak. Seorang politikus yang berpendidikan dan punya uangpun tidak mudah untuk jadi gubernur, padahal ia ingin mengubah keadaan. Ia masih dibatasi oleh aturan pemilihan umum yang cuman sedikit memberi ruang untuk calon independen. Kalau mau jadi gubernur, ia harus masuk partai politik dan tentu sedikit banyak akan kecipratan kekotoran budaya politik yang ada.

 

Intinya, seringkali problem-problem yang kita hadapi bukan karena kita ini individu bodoh, malas, atau sesat. Seringkali masalah itu datang dari sistem sosial yang tidak adil, yang mengabaikan hak-hak kita, yang penuh diskriminasi dan tidak berpihak pada yang lemah. Apakah motivasi-motivasi yang dilantunkan oleh para motivator tersebut berguna untuk mengatasi masalah sosial tersebut? Paling tidak bergunakah untuk membantu memahami  persoalan?

 

Silahkan tengok koleksi kata-kata mutiara para motivator, hampir semuanya ditujukan untuk individu, bagaimana menjadi individu yang lebih baik, lebih ulet, lebih merawat diri, yang mengembangkan inner beauty, yang ikhlas, yang soleh, yang sopan, yang mencinta dan seterusnya. Jarang sekali kita temui motivasi yang membantu pembacanya membuka pikiran kritis tentang masalah sosial di sekitarnya. Akibatnya seolah-olah letak kesalahan dunia ini ada di dalam diri kita: jika kita miskin, itu salah kita kenapa kita tidak ulet. Jika nasib kita ditindas, maka itu karena kita masih jadi ‘pribadi yang lama’. Jika kita stres, itu karena kita tidak mampu memilih pikiran yang tepat dan seterusnya. Kita diarahkan untuk melihat bahwa persoalan utama ada di dalam diri kita, sementara dunia di luar sana akan baik-baik saja jika kita mau mengubah diri kita. Bukan berarti nasihat-nasihat seperti ini jelek, sama sekali bukan. Nasihat-nasihat ini bisa berguna jika memang masalahnya ada di dalam diri kita, tapi jadi tidak berguna kalau masalahnya terletak di sistem sosial yang melingkupi kita. Alih-alih membantu kita berpikir kritis, motivasi-motivasi semacam ini malah akan membuat frustasi, karena tidak membantu memecahkan masalah dalam lingkup yang lebih luas. Boleh dibilang motivasi-motivasi tersebut bersifat individualistis karena ditujukan untuk ‘kepentingan’ individu, namun tidak menyentuh masalah kita bersama sebagai sebuah masyarakat. 

 

Ini ada satu contoh motivasi yang saya temukan diluar sana:

“Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah”

 

Bayangkan jika nasihat ini dikutip oleh para pemilik modal dan menggunakannya sebagai cara untuk memacu anak buahnya atau buruhnya untuk bekerja lebih keras, pokoknya sampai lelah (baca: sakit) dulu deh, baru berhenti kerja.

 

Atau:

“Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stres adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.”

 

Bayangkan jika nasihat ini anda berikan kepada korban penggusuran atau mereka yang rumahnya terpendam lumpur Lapindo. Mereka stres karena kehilangan rumahnya, lalu anda menasihati mereka untuk memilih pikiran yang tepat, mencari jalan keluar masalah. Kalau pada akhirnya mereka menemukan jalan keluar permasalahannya (misalnya meminta pertanggungjawaban pemerintah atau pihak lain yang merugikan mereka), apakah kira-kira mereka mampu memperoleh pertanggungjawaban tersebut? Apakah cring, stres mereka  bisa hilang?

 

Model nasihat-nasihat seperti itu tanpa kita sadari sebetulnya sudah lama digunakan oleh para pemilik modal, politikus dan kaum moralis untuk menekan masyarakat agar tidak menjadi pribadi yang kritis. Persoalan-persoalan yang timbul karena adanya kuasa yang tidak adil dipindahkan seolah-olah jadi kesalahan individu. Pemilik modal bisa memaksa buruh bekerja lebih keras misalnya dengan alasan agama atau etika moral tertentu mengharuskan setiap orang bekerja keras, padahal mereka bekerja keras supaya para pemilik modal mendapat tambahan keuntungan. Dengan kata lain, nasihat-nasihat bagus semacam itu sudah berabad-abad lamanya digunakan orang untuk membuat orang lain tidak kritis; “sebelum mengkritik orang lain lebih baik lakukan introspeksi dulu”.  Nasihat ini hanya bagus untuk tingkat individu, tapi tidak membantu memahami persoalan sosial, akibatnya tidak ada perubahan sehingga orang bisa jadi makin frustasi, mengerti nasihat-nasihat yang baik namun toh dunia disekitarnya tetap tak berubah.

 

Sedangkan orang yang kerap menyarankan perubahan sosial sering di cap sebagai provokator, sebagai perusak tatanan, pencari perhatian atau kurang kerjaan. Sebagian bahkan di cap tidak nasionalis dan bahkan separatis. Sungguh, ini saatnya kita butuh kecerdasan sosial bukan hanya IQ atau EQ atau Q-Q yang lain.

 

Persoalan lainnya adalah  begitu banyaknya pesan yang kita terima. Para motivator bermunculan, dan begitu banyak nasihatnya bertebaran diluar sana, kita dibombardir oleh begitu banyak kata-kata mutiara padahal daya serap manusia terhadap pencerahan sangat rendah. Pencerahan sejati umumnya didapat dari hasil refleksi dan permenungan, proses yang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Bisa jadi kejadian berbulan atau bertahun yang lalu baru kita mengerti maknanya hari ini, setelah melalui sejumlah peristiwa yang serupa. Nasihat-nasihat bijak baru akan menemui makna sejatinya jika bertemu dengan pengalaman. Dan kalau kita percaya pada gerakan spiritual ala new wave dekade belakangan ini, kesemua pemahaman tersebut adalah hasil rajutan semesta, takdir yang sedang mengajari kita. Kurikulum takdir tidak bisa diraih dalam waktu singkat, apalagi dalam hitungan hari. Sedangkan lihatlah betapa motivasi-motivasi tersebut diproduksi dalam hitungan hari, disebarkan lewat BBM, lewat status Twitter dan Facebook, lewat seminar-seminar dan acara televisi. Mampukah kita mengingat semua nasihat-nasihat tersebut dan melahirkan pencerahan baru dalam waktu yang demikian singkat? Kecil kemungkinannya. Pencerahan melalui status twitter atau Facebook hanya akan lewat seperti status-status lainnya, dengan kata lain, akan menjadi basi keesokan harinya. Basi bukan karena tidak relevan, tapi basi karena kita sudah tidak ingat lagi.

 

Fenomena kebijaksanaan instan ini sudah sering kita temui dalam kehidupan dewasa ini. Begitu banyak mutiara kebijaksanaan masa lampau yang sudah dibukukan, dibaca orang dan menjadi best seller. Banyak praktek-praktek meditasi, yoga dan pengobatan alternatif yang dilakukan orang, namun dunia kita hanya sedikit berubah. Apakah kita sempat meresapkan semua kebijaksanaan yang kita baca itu? Semua ini karena perubahan ke dalam diri tidak akan berarti tanpa adanya perubahan sosial, kita ibarat punya banyak pilihan namun masih terkurung dalam satu ruang besar. Pilihan-pilihan tersedia di dalam ruangan itu namun sama sekali tidak membantu kita untuk keluar dari ruangan itu. Pilihan-pilihan tersebut sifatnya menjadi virtual karena tidak berdampak pada kenyataan. Kita merasa seolah-olah sudah berubah hanya karena bisa memilih. Sebetulnya yang terjadi adalah kita diberi banyak pilihan supaya kita tidak menyadari bahwa tidak ada perubahan yang terjadi.

 

Persoalan-persoalan diatas adalah persoalan isi dari nasihat-nasihat yang dilontarkan para motivator, persoalan ‘barang dagangan’ yang dijual. Persoalan berikutnya ada di dalam diri para motivator tersebut. Pertama, cara mereka sendiri menghadapi masalah, sebut saja kritik dari orang lain. Bagaimana sang motivator bersikap terhadap kritik yang ditujukan pada dirinya? Menerima atau menolak dengan keras? Konsistenkah mereka dengan nasihat-nasihat yang mereka lontarkan? Silahkan anda jawab sendiri berdasarkan pengamatan anda terhadap motivator favorit anda, sudah ada beberapa kasus yang bisa jadi contoh. Kedua, bagaimana mereka memproduksi ‘barang dagangan’ tersebut? Materinya orisinil hasil permenungan mereka, atau mereka mengolahnya dari sumber lain? Maksudnya mereka ini produsen langsung atau sekedar distributor yang hanya mengubah kemasan? Coba saja anda riset kecil-kecilan di internet membandingkan nasihat-nasihat yang mereka produksi dengan kata-kata mutiara yang tersebar di internet.

 

Kita bisa mulai dari kalimat mutiara berikut:

“Mustahil semua orang akan menyukai kita walau kita berbuat baik semaksimal mungkin. Tak usah aneh dan kecewa, terus saja berbuat yang terbaik, karena itulah yang kembali kepada kita.”

 

Kalau kita search di google, ada beberapa kalimat yang mirip:

 

Just try your best, try everything you can. And don’t you worry what they tell themselves when you’re away.”

Atau:

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.

Give the world the best you have anyway.”

 

Tentu ada banyak sekali nasihat-nasihat yang bukan benar-benar orisinil, dan apakah memang perlu orisinalitas tersebut? Bukankah yang penting adalah inti dari pesannya? Tentu tak ada yang salah dengan memproduksi sendiri atau hanya sebagai distributor, namun jelas kini bahwa semuanya terkait dengan proses produksi dan distribusi, alias ini semua hanya barang dagangan yang masih bercokol dalam sistem yang sama, sistem kapitalisme. Makin mirip dengan kapitalisme ketika anda merasa bahwa dengan meng-copy paste nasihat-nasihat tersebut dan menyebarkannya lantas orang akan memandang anda sebagai manusia bijak. Persis sama seperti ketika anda pakai baju merk Zara supaya orang lain mengira anda modis.

 

Saran saya jika memang anda suka sekali dengan nasihat-nasihat seperti itu, perlakukanlah mereka seperti alarm atau reminder, untuk mengingatkan anda akan sesuatu yang perlu dikerjakan atau dilakukan. Kayaknya sulit kalau anda berharap semua itu bisa membantu anda ‘keluar dari ruangan’ yang mengungkung anda. Toh anda masih nyaman ada di ruangan itu kan?

Tentang Anak Muda – Anak Muda Butuh Diakui

Apakah istilah “anak muda” ada gunanya? Apakah ada gunanya kita membuat suatu golongan usia yang kira-kira berentang antara umur 15-30 tahun? Yang jelas penggolongan ini amat berguna untuk dunia bisnis, yang gemar menjual hampir segala sesuatu kepada anak muda. Anak muda bagi dunia bisnis adalah ladang uang karena sifatnya yang dianggap konsumtif, labil, aktif dan gemar mencoba-coba, sehingga mereka akan mencoba berbagai macam produk-produk baru dan mudah dibujuk untuk mengkonsumsi.

Namun bagi anak muda sendiri, adakah suatu keuntungan yang bisa dipetik dari penggolongan usia tersebut? Untuk menjawabnya kita bisa mulai dengan melihat kenyataan sosial dari Indramayu. Di daerah tersebut orang (terutama perempuan) yang sudah akil balik akan segera disuruh nikah oleh orangtuanya. Dan ada kepercayaan setempat bahwa jika ada seorang anak gadis menolak lamaran pertama yang ia terima, maka nasibnya akan buruk dikemudian hari dan seret jodoh. Tidak heran jika dalam usia yang relatif muda seseorang sudah pernah kawin-cerai beberapa kali. Sebuah film dokumenter singkat berjudul “17 Tahun Keatas” yang dibuat oleh remaja-remaja perempuan asal Indramayu menggambar kebiasaan kawin pada usia yang sangat muda itu dengan jenaka. Bahkan digambarkan ada seorang perempuan lanjut usia yang dalam hidupnya sudah pernah menikah 12 kali. Pernikahan pertamanya hanya berlangsung selama 3 bulan dan pernikahan keduanya hanya setahun (ini nikah atau pacaran?).

Tentu banyak penjelasan kenapa kebiasaan ini terjadi di masyarakat, namun salah satu penjelasan yang masuk akal adalah karena dalam masyarakat tradisional orang tidak mengenali fase “remaja” atau “anak muda”. Pada masyarakat Jawa dan banyak masyarakat tradisional lainnya, perubahan jenjang kehidupan seorang anak terjadi ketika ia mengalami kematangan seksual. Seseorang dianggap matang secara seksual ketika yang perempuan sudah mendapatkan haidnya dan ketika laki-laki mulai mimpi basah atau berubah suaranya dan mulai tumbuh kumisnya. Pada saat ini seseorang dianggap memasuki kondisi tubuh dewasa, karena sudah mampu menghasilkan keturunan. Karena itulah begitu seorang anak matang secara seksual, ia langsung disuruh nikah. Ada banyak alasan bagi orangtua untuk segera menikahkan anaknya, misalnya dapat segera melepaskan tanggung jawabnya untuk mengasuh anak, daripada terjadi perzinahan lebih baik segera dinikahkan, alasan ekonomi dan lain-lain.

Namun bagi si anak, kebiasaan ini jelas tidak menguntungkan, karena walaupun ia sudah mulai matang secara seksual, namun secara intelektual ia masih bertumbuh, ia sedang belajar banyak hal. Kematangan fisiknya belum tentu seiring dengan kematangan mental dan intelektualnya. Ini dapat diandaikan dengan meningkatnya kemampuan seorang bayi yang sudah bisa merangkak, namun belum memiliki kemampuan untuk memberikan respon memadai terhadap dunia sekitarnya, sehingga ada kemungkinan ia terjatuh dari tempat tidur atau terantuk benda yang ada dihadapannya.

(By the way, pernahkah anda heran kenapa ketika binatang lahir, ia langsung bisa berdiri, bersuara dan kadang mencari makan sendiri? Sedangkan manusia tidak? Ini karena manusia memiliki akal dan pikiran, perkembangan ketrampilan fisiknya akan lebih lambat dari binatang agar selaras dengan perkembangan kemampuan intelektualnya. Manusia bukan hanya diciptakan, tapi ia juga “menjadi” manusia karena proses berkembang ini.)

Disinilah gunanya kita memasukkan suatu jenjang tersendiri dalam alur hidup seorang manusia, yaitu jenjang yang biasa disebut remaja, dan mereka yang ada dalam jenjang ini dipanggil sebagai ‘anak muda’ (walaupun seringkali istilah ‘anak muda’ atau ‘pemuda’ bernada politis). Dengan mengakui jenjang ini kita memperoleh kesadaran bahwa ada suatu periode dalam hidup manusia dimana pertumbuhan dan kemampuan fisik seseorang lebih cepat dari pertumbuhan mental dan intelektualnya. Fase remaja memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan mental dan intelektualitasnya sehingga pada akhirnya menjadi dewasa.

Fase remaja mempunyai hak-hak khusus tersendiri. Jika inti hak anak-anak adalah perlindungan, maka inti hak dari remaja adalah kebebasan. Kebebasan adalah syarat mutlak untuk meraih kedewasaan, termasuk kebebasan untuk berbuat kesalahan. Seringkali orangtua justru menerapkan sekian banyak larangan dan batasan untuk anak muda, sehingga yang terjadi adalah mengekang pertumbuhan mental dan emosinya. Anak muda disuruh untuk meredam gejolak mereka, untuk mengingkari ritme alam yang dinamis di dalam jiwa mereka, dan diharapkan menjadi pasukan yang patuh kepada kehendak orangtua. Alasannya karena orangtua dianggap telah melalui fase remaja dan lebih berpengalaman sehingga harus didengarkan. Dengan demikian anak muda tidak belajar kehidupan secara langsung, namun dari pengalaman yang sudah dikunyahkan oleh orangtua dan dijejalkan kepada pikiran mereka.

Anak muda perlu belajar langsung dari pengalaman-pengalamannya dan dari usaha-usahanya untuk berkembang. Anak muda kerap dituduh sebagai pemberontak, padahal sikap bertentangan dengan kehendak orangtua tersebut adalah olah intelektual dan emosinya yang sedang memberikan makna-makna tersendiri pada dunia sekitarnya. Kalau anak-anak masih lekat kepada orangtuanya karena masih membutuhkan perlindungan dan momongan, maka ketergantungan pada fase remaja mulai digantikan dengan keinginan untuk menjelajahi dunianya. Seringkali anak muda menjadi lebih dekat dengan temannya dibanding dengan orangtuanya karena merasa ada persamaan nasib dalam menjelajahi dunia ini. Dan sebisa mungkin ia perlu mendapat ruang untuk eksplorasi ini. Pertukaran pengetahuan dengan orangtua dilakukan dengan dialog, bukan pemaksaan. Orangtua ditantang untuk mampu menjadi teman menjelajah bagi anak muda.

Satu-satunya kesalahan yang tidak boleh ditolerir dari anak muda adalah ketika ia bertindak anti-sosial terhadap sesamanya (apalagi kalau sifatnya kriminal!) dan melakukan hal yang destruktif (merusak) terhadap dirinya sendiri. Diluar itu kesalahan adalah kurikulum belajar yang dikirimkan oleh alam.

Dengan menyadari adanya fase remaja dan mengakui adanya hak-hak khusus pada fase tersebut, kita dapat mengembangkan pendekatan dan pengertian baru. Misalnya saja pada kasus nikah muda diatas. Ketika kita mengakui adanya fase remaja, maka akan mudah bagi kita untuk mengerti bahwa kematangan fisik tidak bisa jadi ukuran untuk menikahkan seseorang. Yang jadi patokan adalah kesiapan mentalnya, kesiapan intelektualnya, dan kesiapan ekonomi.

Pada dunia pendidikan pengakuan ini juga banyak gunanya sehingga sekolah tidak akan menerapkan aturan-aturan aneh yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan kedewasaan seseorang seperti aturan tidak boleh berambut gondrong untuk anak laki-laki, atau mengharuskan memakai sepatu berwarna hitam, menambah jam pelajaran sampai sore hanya supaya tidak tawuran, aturan harus berkerudung untuk anak perempuan dan aturan-aturan aneh lainnya. Dengan adanya pengakuan ini maka kecanggungan orangtua dalam menyikapi dinamika anak muda akan berkurang, karena dapat memandang dinamika itu sebagai proses, bukan sebagai kekacauan. Bagi orangtua dinamika seringkali dikira kekacauan karena dunia orangtua sudah mulai mapan, mereka kebanyakan sudah tahu apa yang mereka cari dan inginkan dan mereka energinya terbatas untuk mengantisipasi perubahan. Mereka mulai khawatir (dan kekurangan energi) melihat hal-hal disekitarnya bergerak diluar pagar-pagar kemapanan mereka.

Sudah saatnya anak muda memperoleh pengakuan dan kebebasan, agar mereka bisa menjadi orang dewasa yang sungguh-sungguh dewasa dalam arti matang dan bijak dalam merespon kehidupan yang penuh dinamika ini.

Kenapa Kita Harus Mati?

Kenapa Kita Harus Mati?

Berapa lama pantasnya seorang manusia hidup? Lima puluh, 70, 100 tahun? Semakin panjang usia seseorang dianggap semakin bagus, tentu kalau ia hidup dengan kondisi sehat. Karena itu usaha manusia di dunia ini banyak diarahkan untuk mencapai umur panjang dan kondisi yang sehat. Bahkan salah satu ukuran maju tidaknya suatu negara diukur dari angka rata-rata harapan hidup warganya. Kabar baiknya, sering usaha manusia untuk memperpanjang umur itu berhasil. Manusia saat ini bisa dengan mudah mengatasi penyakit tetanus yang seratusan tahun yang lalu mungkin dapat mengancam jiwa. Kecanggihan tehnologi kedokteran mampu membuat saluran arteri darah yang mampet jadi lancar lagi misalnya. Dan masih banyak lagi pencapaian manusia supaya bisa hidup makin panjang umur dan sehat. Kabar buruknya, apapun kemajuan yang dibuat manusia sebetulnya relatif sementara sifatnya, dan hanya bersifat menunda kematian.

Banyak bugs yang terdapat di dalam tubuh manusia dan di alam sekitar kita, yang menyebabkan usaha manusia meraih umur panjang tampak tidak terlalu banyak berguna. Sejumlah “disain” yang membentuk tubuh kita bisa dikatakan tidak menunjang untuk memberi umur yang lebih panjang. Contoh paling sederhana adalah mekanisme refleksi dari tenggorokan kita. Dalam banyak kasus, semakin banyak lendir di tenggorokan kita, saluran itu secara refleks justru makin mengecil, sehingga muncul kondisi yang sering disebut sebagai sesak nafas dan asma. Padahal idealnya menurut orang awam, semakin banyak lendirnya harusnya salurannya makin diperbesar. Atau lihatlah bagaimana kemampuan sel untuk meregenerasi dirinya terkadang justru menjadi tak terkendali dan berubah menjadi penyakit tumor atau kanker. Padahal di sisi lain fungsi regenerasi sel ini terbatas, ia tak mampu meregenerasi jari yang putus misalnya. Jadi bisa dibilang fungsi regenerasi ini nanggung, ia tidak mampu menggantikan sel-sel yang rusak berat secara sempurna, namun disisi lain dapat berpotensi menjadi penyakit. Dalam dunia pengembangan software, kekurangan-kekurangan yang berasal dari tahap perancangan atau tahap disain seperti itu disebut sebagai bugs. Biasanya bugs diatasi dengan mengeluarkan versi software yang lebih baru. Apakah manusia perlu perbaikan seperti itu, misalnya keluar Human version 3.0? Ataukah kita hanya perlu bersabar menanti proses evolusi hingga jutaan tahun dimasa depan ketika nanti tubuh manusia mengalami perbaikan-perbaikan?

Sementara itu persoalan diluar tubuh manusia juga banyak. Di luar sana bertebaran bakteri dan berbagai macam virus yang siap menghantar berbagai macam penyakit ke dalam tubuh manusia. Orang yang percaya teori penciptaan dapat bertanya, kenapa Tuhan menciptakan bakteri dan virus? Sedangkan orang yang percaya teori evolusi mungkin dapat bertanya; kenapa ada organisme yang dapat berevolusi sedemikian kompleks seperti manusia dan ada yang “mentok” tetap menjadi bakteri? Dan kenapa manusia tidak compatible dengan sekelompok bakteri, sementara compatible dengan sekelompok bakteri lainnya (ingat minuman fermentasi yang dipromosikan mengandung bakteri bersahabat)? Bukankah proses evolusi dikatakan mengarahkan alam ini kepada the fittest? Kenapa juga proses tersebut tidak mengarah kepada keserasian seluruh mahluk hidup, termasuk manusia dan bakteri dapat hidup berdampingan- dan situasi-situasi lainnya yang mendukung mahluk hidup untuk semakin memperpanjang umurnya- the most fittest condition of all? Bakteri dan virus justru makin berkembang dan makin beragam, seolah-olah berlomba dengan kemampuan manusia untuk menemukan obat pemberantasnya.

Belum lagi kalau kita membicarakan soal gravitasi, energi panas, dingin atau faktor-faktor alam lainnya yang dapat mempercepat kematian manusia. Bahkan tata surya kita peredarannya disusun/tersusun sedemikian rupa sehingga selalu ada bahaya planet kita ini tertabrak oleh meteor atau benda angkasa lainnya.

Seolah semua itu mengarahkan kita pada satu titik, yaitu kematian. Uraian diatas belum cukup, masih ada lagi.

Dari sononya manusia dan mahluk hidup lainnya membutuhkan makanan. Disain dari tubuh manusia, perutnya, pencernaannya, membutuhkan pasokan mahluk hidup lain supaya dapat bertahan hidup. Dari sononya kita seolah sudah dirancang untuk membunuh mahluk hidup lain. Kita ditakdirkan menghisap energi dari mahluk lain supaya bertahan hidup. Kita menjadi sarana agar mahluk lain menemui kematiannya. Dan karena manusia merupakan mahluk paling pintar, ia menjadi mahluk paling banyak membawa kematian bagi mahluk lainnya. Ironisnya, manusia justru seringkali menemui kematian oleh mahluk-mahluk yang paling tidak berakal; bakteri dan virus.

Semua diatas memunculkan pertanyaan abadi, mengapa kita harus mati? Dan lebih lagi, kenapa kita harus hidup pada awalnya? Ini mirip pertanyaan orang bercinta yang patah hati: “Bukan perpisahan yang aku sesali, tapi kenapa kita harus bertemu pada awalnya”. Aku tidak tahu apakah sudah ada yang mampu menyediakan jawabnya secara ilmiah. Sementara sejumlah orang mencoba menawarkan jawabannya secara spiritual atau lewat agama.

Salah satu penjelasan mitologis yang menarik buatku adalah yang tercantum di dalam Kitab Kejadian, Alkitab (kitab suci orang Kristen). Walau mirip dengan yang dijelaskan di Al Quran, namun di Kitab Kejadian ada cerita yang lebih mendetil soal ini. Disitu dikatakan manusia tinggal di Taman Eden dengan bahagia, berkecukupan dan tanpa kesusahan sampai suatu saat mereka diusir dari situ. Mereka diusir karena makan buah dari pohon terlarang, yaitu pohon pengetahuan. Ketika Tuhan tahu bahwa manusia telah makan buah dari pohon pengetahuan, Ia mengusir manusia dari taman itu, dan meletakkan sejumlah Kerubin (sejenis mahluk surgawi namun bukan malaikat) untuk menjaga taman tersebut. Tugas para Kerubin adalah menjaga agar manusia tidak kembali ke taman itu dan tidak makan buah dari pohon terlarang lainnya; pohon kehidupan. Jadi manusia sudah terlanjur makan buah pohon pengetahuan, namun ia tidak dapat makan buah pohon kehidupan.

Dari kisah mitologis diatas kita dapat mengira-ngira sebabnya manusia bisa mengembangkan ilmu pengetahuan sampai pada taraf yang mengagumkan, namun tidak dapat memperoleh hidup yang kekal. Aku tidak tahu mengapa Tuhan mencegah manusia makan buah kehidupan. Bahkan aku juga tidak dapat mencerna kenapa sebelumnya buah pengetahuan juga dilarang. Apakah Tuhan tidak ingin manusia itu berpengetahuan? Dan aku juga lebih tidak mengerti mengapa Tuhan toh meletakkan pohon-pohon itu di Taman Eden jika memang ia tidak menghendaki manusia memakannya?

Tentu penjelasan mitologis diatas tidak banyak membantu untuk saat ini, ia tetaplah penjelasan yang mengandung misteri. Yang bisa kita gali dari mitologi itu ialah orang jaman dulu pun telah memikirkan persoalan kehidupan dan kematian, lengkap dengan pertanyaan mengapa manusia harus hidup sedemikian rupa diatas bumi.

Kira-kira apa yang terjadi kalau manusia sempat makan juga dari pohon kehidupan, apakah ia tidak akan mati-mati? Segala bugs yang ada di dalam tubuhnya akan hilang? Apakah lantas bakteri dan virus akan hilang? Apakah gravitasi atau panas atau energi lainnya tidak akan berpotensi membawa kematian pada manusia? Apakah letak tata surya akan berubah sehingga tidak ada lagi meteorit yang mengancam menabrak bumi? Lucu rasanya jika lantas semua kondisi diatas otomatis berubah hanya karena kita memakan buah kehidupan. Bukan hanya lucu, tapi juga tidak mungkin terjadi. Kalau semua itu tiba-tiba berubah ia akan menentang hukum-hukum alam, hukum-hukum fisika, kimia dan biologi yang ada.

Karena itulah selama kita hidup di dunia fisik ini pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan hidup kekal tidak akan mampu terjawab, karena dunia fisik mengarah pada kematian.

Hanya satu kunci yang saat ini disediakan oleh penjelasan fisika, yaitu bahwa energi itu kekal, tidak akan habis, ia hanya akan berubah bentuk. Disinilah mungkin penjelasan fisika nyambung dengan penjelasan spiritual, bahwa ada kehidupan sesudah kematian, energi manusia berkonversi menjadi sesuatu yang lain bentuknya. Tidak tahu apa itu, namun yang jelas ia tidak akan habis.

Jadi, mungkin saja kehidupan yang kekal itu ternyata memang ada setelah kita melalui konversi energi, alias ketika kita sudah mati. Keinginan manusia untuk hidup abadi baru bisa terjawab setelah diri kita berkonversi menjadi bentuk energi yang lain, padahal pada saat itu kita mungkin sudah tidak ingin bertanya lagi, atau tepatnya kita sudah merasakan pertanyaan-pertanyaan awal itu tidak cocok lagi untuk ditanyakan.

Semua kesalahan disain, semua tata alam yang telah disebut diatas, yang dikatakan dapat mencegah manusia dari hidup kekal, seakan diarahkan memang agar manusia berkonversi menjadi energi yang lain, atau dalam bahasa agamanya, diarahkan untuk membawa manusia “pulang” kembali ke Tuhan. Sejumlah aliran spiritual dan keagamaan menyatakan bahwa kematian adalah penyatuan kembali manusia dengan Tuhan. Jadi pertanyaan abadi “mengapa kita harus mati?” mungkin bisa kita jawab; “karena kita harus kembali” atau “karena kita harus berkonversi” terserah yang mana yang cocok untuk anda.

Beres? Belum. Jika dikatakan bahwa kematian adalah penyatuan kembali dengan Tuhan, perlu diingatkan disini kalau sejumlah aliran spiritual dan agama juga menyatakan bahwa sepanjang hidupnya manusia juga selalu menyatu dengan Tuhan, ini terungkap melalui istilah “manusia adalah bait Allah”, “manunggaling kawula Gusti” dan sejumlah istilah lainnya menggambarkan penyatuan ini. Jadi, kalau selama hidup kita sudah bersatu dengan Tuhan, mengapa juga kematian diperlukan? Fisika menjelaskan bahwa energi memang kekal, namun bentuk-bentuknya tidak kekal. Energi kinetik dari sebuah kincir angin dapat diubah menjadi energi listrik, yang berubah menjadi bentuk suara dan cahaya yang keluar dari sebuah layar televisi. Mungkin dapat kita katakan kematian mengubah bentuk manusia, dari bentuknya yang fana ini menjadi bentuk yang lain. Jika dalam bentuk fana manusia amat rentan dari kehancuran dan kerusakan, mungkin saja bentuk selanjutnya tidak lagi memiliki hambatan dan kekurangan seperti bentuk lamanya. Jadi, selain kematian membawa kita kembali, ia juga membebaskan kita dari bentuk lama kita yang rentan dan lebih primitif.

Pertanyaan “mengapa kita harus mati” sudah kita coba jawab secara sederhana. Yang tersisa kini adalah pertanyaan lainnya, “mengapa kita harus hidup”, jika pada akhirnya kita harus pulang? Mengapa kita harus menjalani nasib kita di dunia ini dan pada akhirnya toh juga kembali. Anda bisa bantu menjawabnya?

============================

Soundtrack :) :
The Spirit Carries On
There Must Be More To Life Than This

Catatan:
1. Dalam catatan ini selalu diungkapkan hal-hal yang membawa manusia kepada sakit atau kematian. Jangan lupa bahwa banyak hal lainnya yang sebaliknya justru menunjang kehidupan, membantu perkembangan kehidupan pada segala mahluk dan membantu memperpanjang umur manusia.

2. Catatan ini menganggap bahwa setiap kematian –dalam kacamata spiritual- adalah proses kembali ke Tuhan, menyatu dengan Tuhan. Jika dalam tradisi agama penyatuan kembali dengan Tuhan sering disebut dengan “masuk surga”, konsekuensinya tidak ada tempat bagi konsep neraka dalam catatan ini.

Akankah Kiamat Tahun 2012?

Sejumlah ramalan mengatakan kalau tahun 2012 dunia akan kiamat. Benarkah? Amina Wadud, seorang perempuan intelektual Muslim, mengatakan kalau dunia saat ini sebaiknya meninggalkan cara hidup purba, yaitu cara hidup yang memang dulu dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam ini. Saat ini semua sudah berubah, kita tidak bisa lagi mempertahankan cara hidup seperti manusia kuno. Kita harus lebih menghargai hidup dan lebih mengedepankan sifat-sifat kasih dan pemeliharaan. Saat ini kecenderungan dunia sedang kesana, ke arah yang lebih etis, lebih ramah lingkungan, lebih adil dan lebih menyayangi.

Pada kenyataannya, cara-cara hidup lama yang penuh kekerasan sudah banyak ditolak manusia. Tindakan teror misalnya, akan dengan mudah mendapat kutuk dibanding mendapat simpati. Sikap yang diskriminatif juga mulai ditolak dimana-mana. Betul bahwa masih banyak manusia yang mempertahankan pola lama yang tidak adil. Betul ada sebagian orang yang masih menggunakan kekerasan dan manipulasi untuk mencapai tujuannya. Namun perilaku semacam ini bisa diandaikan seperti lilin yang hendak mati karena habis. Pada saat-saat lilin sudah mau habis, nyalanya justru makin terang, namun tak lama kemudian ia mati sama sekali. Kita boleh berharap demikian dalam hidup yang sekarang ini, perilaku yang tidak etis makin kentara untuk dijauhi orang dan kemudian padam. Ada istilah Jawa untuk ini: sing becik ketitik, sing ala ketara (yang baik akan terlihat dan yang buruk akan terpampang). Akan makin jelas bagi masyarakat mana yang baik dan yang buruk. Semoga.

Jika benar dunia saat ini sedang berada pada titik balik, akankah kiamat datang? Tentu secara ilmiah masih bisa kiamat terjadi walaupun manusia sudah memperbaiki sikapnya. Mungkin saja polusi berkurang, atau lubang ozone mampu diselamatkan, namun masih ada kemungkinan bencana datang dengan cara yang lain, misalnya komet nyasar yang datang ke bumi.

Tapi konsep kiamat muncul justru muncul dalam pola pikir keagamaan atau mitologis. Dalam konsep ini kiamat datang karena campur tangan Tuhan langsung ke bumi untuk mengakhiri satu angkatan di bumi, biasanya karena angkatan tersebut dianggap jahat dan berdosa sehingga perlu dimurnikan. Paling tidak ada dua cerita tentang kiamat di dalam kitab suci agama Samawi, yaitu ketika banjir besar datang pada jaman Nabi Nuh dan ketika kota Sodom dan Gomorah dihancurkan (ini kiamat “kecil”).

Sekarang kalau umat manusia sedang menuju arah perbaikan (istilahnya bertobat) tentu Tuhan tidak jadi menimpakan kiamat itu. Manusia tidak perlu dimurnikan lewat kiamat, karena ia sedang membersihkan dirinya sendiri. Walapun proses “pemurnian” itu tentu akan makan waktu lama, tapi besar kemungkinannya Tuhan akan sabar menunggu. Bukankah kemurahan hati Tuhan melebihi kemarahan-Nya?

Jadi kalau benar kita saat ini menuju perbaikan dan kalau benar fungsi kiamat adalah pemurnian, maka besar kemungkinannya tahun 2012 nanti tidak akan ada kiamat. Atau dengan kata lain, kalau benar anda sekarang ini mampu merubah kebiasaan, pola pikir dan tindakan anda yang jelek dan menuju perbaikan, maka besar kemungkinannya kiamat tidak jadi datang.

Paling tidak kalau kiamat benar-benar datang juga, anda sudah lebih “bersih” dan lebih siap :)