Mengapa kita tak pantas lagi bilang “suka sama suka” – Versi 2.0

Posted on Desember 5, 2013. Filed under: Hari Ini |

Kekerasan seksual pada bentuknya yang tradisional mungkin tidak ditemukan dalam kasus-kasus tertentu. Jangan bayangkan seseorang yang menunggu di tikungan jalan lantas menyergap perempuan yang sedang lewat lalu memperkosanya, atau maling yang masuk ke rumah sasarannya dan memperkosa karyawan rumah tangga yang sedang seorang diri menunggu rumah.

Saya sedang mengkhayalkan skenario seperti berikut:

Kekerasan itu mungkin berawal dari sebuah café di sebuah tempat kebudayaan dimana seorang laki-laki menatap seorang perempuan dan memutuskan dalam hati bahwa ia akan meniduri perempuan tersebut. Laki-laki tersebut punya perjalanan karir cukup panjang dalam bidang sastra dan sudah menghasilkan beberapa karya sastra. Lantas kesempatan itu datang dan si perempuan ini ternyata seorang mahasiswa yang menaruh minat terhadap sastra (mungkin pernah menerbitkan buku kumpulan puisinya secara indie) dan si laki-laki menawarkan berdiskusi tentang sastra secara lebih personal di kamar kost-nya.

“Ayo kita belajar baca puisi di kamar kost saya, kalau di tempat ini kita tidak bisa teriak-teriak” kata si Laki.

Sebagai seorang perempuan yang kagum terhadap si laki yang punya track record cukup baik di bidang sastra tersebut, tentu ia tidak menolak. Apalagi sikap si Laki yang kebapakan dan momong membuat si perempuan muda tersebut merasa aman untuk berurusan dengannya.

Pergilah mereka ke kamar kost si laki dan mereka berdiskusi dan mereka membaca puisi dan si laki dengan satu-dua cara akhirnya bisa berhubungan seks dengan perempuan tersebut. Sesi tersebut selesai dan si perempuan pulang.

Suka sama suka?

Bagaimana jika skenario tersebut berulang dan berulang dan dilakukan dengan banyak perempuan? Bukankah skenario tersebut akhirnya menjadi modus operandi? Bukankah akhirnya deretan perempuan-perempuan tersebut menjadi target operasi belaka, bukan pribadi-pribadi yang direncanakan untuk disayangi atau dikasihi? Dan masih bisakah kita menyebutnya dengan suka-sama-suka?

Batas tipis ini yang kurang dimengerti oleh banyak laki-laki, bahwa kekerasan seksual bukan hanya terjadi jika ada pemaksaan fisik yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan visum seketika, namun terjadi jika sejak dari awal ada ketimpangan kuasa dan ketimpangan ekspektasi. Kekerasan seksual terjadi sejak lelaki memandang perempuan sebagai target dan obyek seks. Lelaki memanfaatkan wibawa, pengalaman, ketenaran dan sejumlah pesona lainnya untuk menggaet target seks tersebut. Bahkan posisi tertentu di institusi tertentu menjadi nilai tambah untuk menjerat targetnya. Maka seringkali kita dengar ada dosen bisa berhubungan seks dengan mahasiswanya, seniman ternama tidur dengan pengagumnya dan seterusnya. Maka kita sering kita lihat tempat kejadian perkara dimulai dari wilayah sebuah institusi lantas bergeser ke wilayah yang lebih “aman” (untuk tidak menyebutnya wilayah privat karena akan menyebabkan kesalahpahaman).

Bagi si perempuan kesadaran bahwa dirinya merupakan target operasi mungkin datang sangat belakangan ketika peristiwa tersebut lewat dalam kenangannya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah namun tidak bisa mengidentifikasinya karena ia “buta huruf” terhadap jenis relasi semacam itu. Referensi terdekat yang bisa ia ingat hanyalah adegan one night stand di sebuah episode “How I Met Your Mother” yang makin membuatnya menganggap bahwa kejadian yang ia alami lumrah adanya. Kecuali jika pada bulan berikutnya ada kejadian yang tak lumrah yaitu menstruasinya tak kunjung datang.

Kekerasan seksual terjadi bukan hanya ketika ada “lelaki yang pergi sebelum hubungan emosional dan psikologis diselesaikan dengan pantas” (1), namun sudah dimulai sejak ada lelaki yang menatap perempuan sebagai obyek seks dan merencanakan serangkaian modus operasional untuk mendapatkan target seksnya tersebut. Hubungan amat sulit diselesaikan dengan pantas jika memang diawali dengan sesuatu yang tidak pantas dan timpang.

(1). Lihat tulisan Ayu Utami : http://ayuutami.com/mengapa-kita-tak-pantas-lagi-bilang-suka-sama-suka/

 


Baca Tulisan Lengkap | Make a Comment ( 11 so far )

Recently on Kemarin, Hari Ini dan Esok…

@sahabat

Posted on Desember 16, 2011. Filed under: Puisi |

Kebijaksanaan Instan Para Motivator

Posted on Desember 14, 2011. Filed under: Hari Ini |

Tentang Anak Muda – Anak Muda Butuh Diakui

Posted on Desember 1, 2010. Filed under: Hari Ini |

Kenapa Kita Harus Mati?

Posted on November 25, 2009. Filed under: Esok |

Akankah Kiamat Tahun 2012?

Posted on November 25, 2009. Filed under: Esok |

Semaraknya Escher dan Hundertwasser

Posted on November 25, 2009. Filed under: Kemarin |

Aku Baca Namamu

Posted on Maret 30, 2009. Filed under: Puisi Cinta |

Jaipongan vs Kesejahteraan

Posted on Februari 9, 2009. Filed under: Hari Ini |

Ketika Aksi Solidaritas Pilih-Pilih Sasaran

Posted on Januari 5, 2009. Filed under: Hari Ini |

  • Foto-foto

    Lombok - Ahead to Gili Trawangan

    Lombok 2

    Lombok 3

    Lombok 4 - The beach of Gilis

    Lombok 5 - The Beach of Gilis

    More Photos
  • RSS Berita dari Adbusters

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Cool Stuffs

    Gue pakai ini: openSUSE.org


  • My Del.iciou.us

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.