<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kemarin, Hari Ini dan Esok</title>
	<atom:link href="http://aquinohayunta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aquinohayunta.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Dec 2011 02:04:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aquinohayunta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kemarin, Hari Ini dan Esok</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aquinohayunta.wordpress.com/osd.xml" title="Kemarin, Hari Ini dan Esok" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aquinohayunta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>@sahabat</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2011/12/16/sahabat/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2011/12/16/sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 16:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Kalau boleh aku mau nitip masa depan yang tidak sempat kami benahi Karena kami asyik sendiri mencari kebenaran untuk khayalan kami, dan lupa akan kebenaran untuk masyarakat kami. Kalau kamu sanggup ingin kupercayakan padamu untuk menadahi air mata mereka yang bergelimang susah, suatu kerjaan yang kami tidak sanggup kerjakan karena kami sendiri banyak berkeluh kesah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=95&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau boleh aku mau nitip masa depan yang tidak sempat kami benahi</p>
<p>Karena kami asyik sendiri mencari kebenaran untuk khayalan kami, dan lupa akan kebenaran untuk masyarakat kami.</p>
<p>Kalau kamu sanggup ingin kupercayakan padamu untuk menadahi air mata mereka yang bergelimang susah, suatu kerjaan yang kami tidak sanggup kerjakan karena kami sendiri banyak berkeluh kesah tentang hal-hal kecil.</p>
<p>Kalau boleh ceritakanlah padaku bagaimana indahnya matahari terbit pagi hari, suatu pemandangan yang mungkin kami lupa karena terlalu sering merutuki gelapnya malam.</p>
<p>Kami ini ingin berarti, ingin menjadi pembebas, ingin menjadi pencerah.</p>
<p>Namun kami memuja kesadaran kami sendiri, kami memuja sedikit kerja kami, kami ini mengagumi diri kami sendiri. Kami bertengkar sendiri satu sama lain.</p>
<p>Kini siapa lagi yang kuharap bisa menggantikan kami bermimpi selain dirimu? Aku tahu ini bukan suatu beban yang kualihkan padamu. Hanya dan hanya jika kesadaranmu sendiri yang memutuskan itu. Jika bukan dari hatimu sendiri yang menggerakkanmu, baliklah langkah dan pergilah pulang.</p>
<p>Cepatlah ubah dunia sebelum dunia mengubahmu</p>
<p>Sebelum rasa marah mengubahmu menjadi raksasa hijau</p>
<p>Sebelum rasa kecewa mengubahmu menjadi kering renta</p>
<p>Sebelum itu semua terjadi nyalakanlah sebanyak mungkin lilin,</p>
<p>Agar jika dirimu padam, telah ada nyala dari lilin-lilin lainnya.</p>
<p>Aku sendiri mungkin telah padam, dan dari nyalamulah akan kukenang cahayaku dulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta, 14 Mei 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=95&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2011/12/16/sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebijaksanaan Instan Para Motivator</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2011/12/14/kebijaksanaan-instan-para-motivator/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2011/12/14/kebijaksanaan-instan-para-motivator/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 04:07:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang senang sekali dengan para motivator. Itu sebabnya banyak motivator bermunculan tahun-tahun belakangan ini dan laris manis, nasihat mereka disukai orang, mereka diundang untuk mengisi banyak acara dan seminar (tidak peduli&#160; betapa honor menyewa mereka tinggi sekali), kutipan kata-kata mereka di copy-paste di berbagai media sosial, SMS dan Blackberry Mesengger atau Whatsapp. Tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=91&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang yang senang sekali dengan para motivator. Itu sebabnya banyak motivator bermunculan tahun-tahun belakangan ini dan laris manis, nasihat mereka disukai orang, mereka diundang untuk mengisi banyak acara dan seminar (tidak peduli&nbsp; betapa honor menyewa mereka tinggi sekali), kutipan kata-kata mereka di <em>copy-paste</em> di berbagai media sosial, SMS dan Blackberry Mesengger atau Whatsapp. Tak perlu heran kenapa orang-orang bisa senang dengan para motivator itu, di negara yang banyak menyimpan ketidakberesan, orang butuh asupan vitamin penyegar rohani, makanya agama dan motivasi amat laris sebagai tempat pelarian orang untuk mencari secercah cahaya di kehidupan bernegara yang suram. Nah, benarkah para motivator itu memberikan solusi beneran terhadap masalah sosial bangsa ini, kalau iya solusi yang seperti apa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka yang belajar ilmu-ilmu sosial tentu sedikit banyak tahu bahwa nasib kita (individu-individu dalam masyarakat) ditentukan oleh sistem sosial yang melingkupi kita. Kita tidak punya banyak pilihan karena terbatas oleh struktur sosial di sekitar kita. Misalnya seorang yang berasal dari pedesaan dan pendidikannya hanya lulus SD atau SMP tidak punya banyak pilihan selain menjadi buruh, pembantu rumah tangga atau buruh migran. Sulit baginya untuk bisa kerja kantoran, jadi jurnalis, guru, dosen atau pengusaha.&nbsp; Seorang mahasiswa yang mengalami masalah di rumahnya sulit menjadi mahasiwa berprestasi karena misalnya dia harus bekerja menafkahi keluarganya dan mengurusi adik-adiknya. Masih untung dia tidak drop out. Seorang anak jalanan perempuan memiliki resiko besar terkena pelecehan seksual karena situasi lingkungannya yang tanpa perlindungan. Bahkan diantara orang-orang yang kelihatannya punya banyak kesempatanpun ternyata pilihan tersebut tidak begitu banyak. Seorang politikus yang berpendidikan dan punya uangpun tidak mudah untuk jadi gubernur, padahal ia ingin mengubah keadaan. Ia masih dibatasi oleh aturan pemilihan umum yang cuman sedikit memberi ruang untuk calon independen. Kalau mau jadi gubernur, ia harus masuk partai politik dan tentu sedikit banyak akan kecipratan kekotoran budaya politik yang ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Intinya, seringkali problem-problem yang kita hadapi bukan karena kita ini individu bodoh, malas, atau sesat. Seringkali masalah itu datang dari sistem sosial yang tidak adil, yang mengabaikan hak-hak kita, yang penuh diskriminasi dan tidak berpihak pada yang lemah. Apakah motivasi-motivasi yang dilantunkan oleh para motivator tersebut berguna untuk mengatasi masalah sosial tersebut? Paling tidak bergunakah untuk membantu memahami&nbsp; persoalan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Silahkan tengok koleksi kata-kata mutiara para motivator, hampir semuanya ditujukan untuk individu, bagaimana menjadi individu yang lebih baik, lebih ulet, lebih merawat diri, yang mengembangkan <em>inner beauty</em>, yang ikhlas, yang soleh, yang sopan, yang mencinta dan seterusnya. Jarang sekali kita temui motivasi yang membantu pembacanya membuka pikiran kritis tentang masalah sosial di sekitarnya. Akibatnya seolah-olah letak kesalahan dunia ini ada di dalam diri kita: jika kita miskin, itu salah kita kenapa kita tidak ulet. Jika nasib kita ditindas, maka itu karena kita masih jadi &#8216;pribadi yang lama&#8217;. Jika kita stres, itu karena kita tidak mampu memilih pikiran yang tepat dan seterusnya. Kita diarahkan untuk melihat bahwa persoalan utama ada di dalam diri kita, sementara dunia di luar sana akan baik-baik saja jika kita mau mengubah diri kita. Bukan berarti nasihat-nasihat seperti ini jelek, sama sekali bukan. Nasihat-nasihat ini bisa berguna jika memang masalahnya ada di dalam diri kita, tapi jadi tidak berguna kalau masalahnya terletak di sistem sosial yang melingkupi kita. Alih-alih membantu kita berpikir kritis, motivasi-motivasi semacam ini malah akan membuat frustasi, karena tidak membantu memecahkan masalah dalam lingkup yang lebih luas. Boleh dibilang motivasi-motivasi tersebut bersifat individualistis karena ditujukan untuk &#8216;kepentingan&#8217; individu, namun tidak menyentuh masalah kita bersama sebagai sebuah masyarakat.&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini ada satu contoh motivasi yang saya temukan diluar sana:</p>
<p>“Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bayangkan jika nasihat ini dikutip oleh para pemilik modal dan menggunakannya sebagai cara untuk memacu anak buahnya atau buruhnya untuk bekerja lebih keras, pokoknya sampai lelah (baca: sakit) dulu deh, baru berhenti kerja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Atau:</p>
<p>“Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stres adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bayangkan jika nasihat ini anda berikan kepada korban penggusuran atau mereka yang rumahnya terpendam lumpur Lapindo. Mereka stres karena kehilangan rumahnya, lalu anda menasihati mereka untuk memilih pikiran yang tepat, mencari jalan keluar masalah. Kalau pada akhirnya mereka menemukan jalan keluar permasalahannya (misalnya meminta pertanggungjawaban pemerintah atau pihak lain yang merugikan mereka), apakah kira-kira mereka mampu memperoleh pertanggungjawaban tersebut? Apakah cring, stres mereka&nbsp; bisa hilang?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Model nasihat-nasihat seperti itu tanpa kita sadari sebetulnya sudah lama digunakan oleh para pemilik modal, politikus dan kaum moralis untuk menekan masyarakat agar tidak menjadi pribadi yang kritis. Persoalan-persoalan yang timbul karena adanya kuasa yang tidak adil dipindahkan seolah-olah jadi kesalahan individu. Pemilik modal bisa memaksa buruh bekerja lebih keras misalnya dengan alasan agama atau etika moral tertentu mengharuskan setiap orang bekerja keras, padahal mereka bekerja keras supaya para pemilik modal mendapat tambahan keuntungan. Dengan kata lain, nasihat-nasihat bagus semacam itu sudah berabad-abad lamanya digunakan orang untuk membuat orang lain tidak kritis; “sebelum mengkritik orang lain lebih baik lakukan introspeksi dulu”.&nbsp; Nasihat ini hanya bagus untuk tingkat individu, tapi tidak membantu memahami persoalan sosial, akibatnya tidak ada perubahan sehingga orang bisa jadi makin frustasi, mengerti nasihat-nasihat yang baik namun toh dunia disekitarnya tetap tak berubah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan orang yang kerap menyarankan perubahan sosial sering di cap sebagai provokator, sebagai perusak tatanan, pencari perhatian atau kurang kerjaan. Sebagian bahkan di cap tidak nasionalis dan bahkan separatis. Sungguh, ini saatnya kita butuh kecerdasan sosial bukan hanya IQ atau EQ atau Q-Q yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Persoalan lainnya adalah&nbsp; begitu banyaknya pesan yang kita terima. Para motivator bermunculan, dan begitu banyak nasihatnya bertebaran diluar sana, kita dibombardir oleh begitu banyak kata-kata mutiara padahal daya serap manusia terhadap pencerahan sangat rendah. Pencerahan sejati umumnya didapat dari hasil refleksi dan permenungan, proses yang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Bisa jadi kejadian berbulan atau bertahun yang lalu baru kita mengerti maknanya hari ini, setelah melalui sejumlah peristiwa yang serupa. Nasihat-nasihat bijak baru akan menemui makna sejatinya jika bertemu dengan pengalaman. Dan kalau kita percaya pada gerakan spiritual ala <em>new wave </em>dekade belakangan ini, kesemua pemahaman tersebut adalah hasil rajutan semesta, takdir yang sedang mengajari kita. Kurikulum takdir tidak bisa diraih dalam waktu singkat, apalagi dalam hitungan hari. Sedangkan lihatlah betapa motivasi-motivasi tersebut diproduksi dalam hitungan hari, disebarkan lewat BBM, lewat status Twitter dan Facebook, lewat seminar-seminar dan acara televisi. Mampukah kita mengingat semua nasihat-nasihat tersebut dan melahirkan pencerahan baru dalam waktu yang demikian singkat? Kecil kemungkinannya. Pencerahan melalui status twitter atau Facebook hanya akan lewat seperti status-status lainnya, dengan kata lain, akan menjadi basi keesokan harinya. Basi bukan karena tidak relevan, tapi basi karena kita sudah tidak ingat lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fenomena kebijaksanaan instan ini sudah sering kita temui dalam kehidupan dewasa ini. Begitu banyak mutiara kebijaksanaan masa lampau yang sudah dibukukan, dibaca orang dan menjadi <em>best seller</em>. Banyak praktek-praktek meditasi, yoga dan pengobatan alternatif yang dilakukan orang, namun dunia kita hanya sedikit berubah. Apakah kita sempat meresapkan semua kebijaksanaan yang kita baca itu? Semua ini karena perubahan ke dalam diri tidak akan berarti tanpa adanya perubahan sosial, kita ibarat punya banyak pilihan namun masih terkurung dalam satu ruang besar. Pilihan-pilihan tersedia di dalam ruangan itu namun sama sekali tidak membantu kita untuk keluar dari ruangan itu. Pilihan-pilihan tersebut sifatnya menjadi virtual karena tidak berdampak pada kenyataan. Kita merasa seolah-olah sudah berubah hanya karena bisa memilih. Sebetulnya yang terjadi adalah kita diberi banyak pilihan supaya kita tidak menyadari bahwa tidak ada perubahan yang terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Persoalan-persoalan diatas adalah persoalan isi dari nasihat-nasihat yang dilontarkan para motivator, persoalan ‘barang dagangan’ yang dijual. Persoalan berikutnya ada di dalam diri para motivator tersebut. Pertama, cara mereka sendiri menghadapi masalah, sebut saja kritik dari orang lain. Bagaimana sang motivator bersikap terhadap kritik yang ditujukan pada dirinya? Menerima atau menolak dengan keras? Konsistenkah mereka dengan nasihat-nasihat yang mereka lontarkan? Silahkan anda jawab sendiri berdasarkan pengamatan anda terhadap motivator favorit anda, sudah ada beberapa kasus yang bisa jadi contoh. Kedua, bagaimana mereka memproduksi ‘barang dagangan’ tersebut? Materinya orisinil hasil permenungan mereka, atau mereka mengolahnya dari sumber lain? Maksudnya mereka ini produsen langsung atau sekedar distributor yang hanya mengubah kemasan? Coba saja anda riset kecil-kecilan di internet membandingkan nasihat-nasihat yang mereka produksi dengan kata-kata mutiara yang tersebar di internet.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita bisa mulai dari kalimat mutiara berikut:</p>
<p>“Mustahil semua orang akan menyukai kita walau kita berbuat baik semaksimal mungkin. Tak usah aneh dan kecewa, terus saja berbuat yang terbaik, karena itulah yang kembali kepada kita.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalau kita search di google, ada beberapa kalimat yang mirip:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Just try your best, try everything you can. And don&#8217;t you worry what they tell themselves when you&#8217;re away</em>.”</p>
<p>Atau:</p>
<p>“<em>Give the world the best you have and you&#8217;ll get kicked in the teeth.</em></p>
<p><em>Give the world the best you have anyway.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentu ada banyak sekali nasihat-nasihat yang bukan benar-benar orisinil, dan apakah memang perlu orisinalitas tersebut? Bukankah yang penting adalah inti dari pesannya? Tentu tak ada yang salah dengan memproduksi sendiri atau hanya sebagai distributor, namun jelas kini bahwa semuanya terkait dengan proses produksi dan distribusi, alias ini semua hanya barang dagangan yang masih bercokol dalam sistem yang sama, sistem kapitalisme. Makin mirip dengan kapitalisme ketika anda merasa bahwa dengan meng-copy paste nasihat-nasihat tersebut dan menyebarkannya lantas orang akan memandang anda sebagai manusia bijak. Persis sama seperti ketika anda pakai baju merk Zara supaya orang lain mengira anda modis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saran saya jika memang anda suka sekali dengan nasihat-nasihat seperti itu, perlakukanlah mereka seperti alarm atau reminder, untuk mengingatkan anda akan sesuatu yang perlu dikerjakan atau dilakukan. Kayaknya sulit kalau anda berharap semua itu bisa membantu anda ‘keluar dari ruangan’ yang mengungkung anda. Toh anda masih nyaman ada di ruangan itu kan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=91&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2011/12/14/kebijaksanaan-instan-para-motivator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Anak Muda – Anak Muda Butuh Diakui</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2010/12/01/tentang-anak-muda-%e2%80%93-anak-muda-butuh-diakui/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2010/12/01/tentang-anak-muda-%e2%80%93-anak-muda-butuh-diakui/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2010 17:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Apakah istilah “anak muda” ada gunanya? Apakah ada gunanya kita membuat suatu golongan usia yang kira-kira berentang antara umur 15-30 tahun? Yang jelas penggolongan ini amat berguna untuk dunia bisnis, yang gemar menjual hampir segala sesuatu kepada anak muda. Anak muda bagi dunia bisnis adalah ladang uang karena sifatnya yang dianggap konsumtif, labil, aktif dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=87&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah istilah “anak muda” ada gunanya? Apakah ada gunanya kita membuat suatu golongan usia yang kira-kira berentang antara umur 15-30 tahun? Yang jelas penggolongan ini amat berguna untuk dunia bisnis, yang gemar menjual hampir segala sesuatu kepada anak muda. Anak muda bagi dunia bisnis adalah ladang uang karena sifatnya yang dianggap konsumtif, labil, aktif dan gemar mencoba-coba, sehingga mereka akan mencoba berbagai macam produk-produk baru dan mudah dibujuk untuk mengkonsumsi.</p>
<p>Namun bagi anak muda sendiri, adakah suatu keuntungan yang bisa dipetik dari penggolongan usia tersebut? Untuk menjawabnya kita bisa mulai dengan melihat kenyataan sosial dari Indramayu. Di daerah tersebut orang (terutama perempuan) yang sudah akil balik akan segera disuruh nikah oleh orangtuanya. Dan ada kepercayaan setempat bahwa jika ada seorang anak gadis menolak lamaran pertama yang ia terima, maka nasibnya akan buruk dikemudian hari dan seret jodoh. Tidak heran jika dalam usia yang relatif muda seseorang sudah pernah kawin-cerai beberapa kali. Sebuah film dokumenter singkat berjudul “17 Tahun Keatas” yang dibuat oleh remaja-remaja perempuan asal Indramayu menggambar kebiasaan kawin pada usia yang sangat muda itu dengan jenaka. Bahkan digambarkan ada seorang perempuan lanjut usia yang dalam hidupnya sudah pernah menikah 12 kali. Pernikahan pertamanya hanya berlangsung selama 3 bulan dan pernikahan keduanya hanya setahun (ini nikah atau pacaran?).</p>
<p>Tentu banyak penjelasan kenapa kebiasaan ini terjadi di masyarakat, namun salah satu penjelasan yang masuk akal adalah karena dalam masyarakat tradisional orang tidak mengenali fase “remaja” atau “anak muda”. Pada masyarakat Jawa dan banyak masyarakat tradisional lainnya, perubahan jenjang kehidupan seorang anak terjadi ketika ia mengalami kematangan seksual. Seseorang dianggap matang secara seksual ketika yang perempuan sudah mendapatkan haidnya dan ketika laki-laki mulai mimpi basah atau berubah suaranya dan mulai tumbuh kumisnya. Pada saat ini seseorang dianggap memasuki kondisi tubuh dewasa, karena sudah mampu menghasilkan keturunan. Karena itulah begitu seorang anak matang secara seksual, ia langsung disuruh nikah. Ada banyak alasan bagi orangtua untuk segera menikahkan anaknya, misalnya dapat segera melepaskan tanggung jawabnya untuk mengasuh anak, daripada terjadi perzinahan lebih baik segera dinikahkan, alasan ekonomi dan lain-lain.</p>
<p>Namun bagi si anak, kebiasaan ini jelas tidak menguntungkan, karena walaupun ia sudah mulai matang secara seksual, namun secara intelektual ia masih bertumbuh, ia sedang belajar banyak hal. Kematangan fisiknya belum tentu seiring dengan kematangan mental dan intelektualnya. Ini dapat diandaikan dengan meningkatnya kemampuan seorang bayi yang sudah bisa merangkak, namun belum memiliki kemampuan untuk memberikan respon memadai terhadap dunia sekitarnya, sehingga ada kemungkinan ia terjatuh dari tempat tidur atau terantuk benda yang ada dihadapannya.</p>
<p>(By the way, pernahkah anda heran kenapa ketika binatang lahir, ia langsung bisa berdiri, bersuara dan kadang mencari makan sendiri? Sedangkan manusia tidak? Ini karena manusia memiliki akal dan pikiran, perkembangan ketrampilan fisiknya akan lebih lambat dari binatang agar selaras dengan perkembangan kemampuan intelektualnya. Manusia bukan hanya diciptakan, tapi ia juga “menjadi” manusia karena proses berkembang ini.)</p>
<p>Disinilah gunanya kita memasukkan suatu jenjang tersendiri dalam alur hidup seorang manusia, yaitu jenjang yang biasa disebut remaja, dan mereka yang ada dalam jenjang ini dipanggil sebagai ‘anak muda’ (walaupun seringkali istilah ‘anak muda’ atau ‘pemuda’ bernada politis). Dengan mengakui jenjang ini kita memperoleh kesadaran bahwa ada suatu periode dalam hidup manusia dimana pertumbuhan dan kemampuan fisik seseorang lebih cepat dari pertumbuhan mental dan intelektualnya. Fase remaja memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan mental dan intelektualitasnya sehingga pada akhirnya menjadi dewasa.</p>
<p>Fase remaja mempunyai hak-hak khusus tersendiri. Jika inti hak anak-anak adalah perlindungan, maka inti hak dari remaja adalah kebebasan. Kebebasan adalah syarat mutlak untuk meraih kedewasaan, termasuk kebebasan untuk berbuat kesalahan. Seringkali orangtua justru menerapkan sekian banyak larangan dan batasan untuk anak muda, sehingga yang terjadi adalah mengekang pertumbuhan mental dan emosinya. Anak muda disuruh untuk meredam gejolak mereka, untuk mengingkari ritme alam yang dinamis di dalam jiwa mereka, dan diharapkan menjadi pasukan yang patuh kepada kehendak orangtua. Alasannya karena orangtua dianggap telah melalui fase remaja dan lebih berpengalaman sehingga harus didengarkan. Dengan demikian anak muda tidak belajar kehidupan secara langsung, namun dari pengalaman yang sudah dikunyahkan oleh orangtua dan dijejalkan kepada pikiran mereka.</p>
<p>Anak muda perlu belajar langsung dari pengalaman-pengalamannya dan dari usaha-usahanya untuk berkembang. Anak muda kerap dituduh sebagai pemberontak, padahal sikap bertentangan dengan kehendak orangtua tersebut adalah olah intelektual dan emosinya yang sedang memberikan makna-makna tersendiri pada dunia sekitarnya. Kalau anak-anak masih lekat kepada orangtuanya karena masih membutuhkan perlindungan dan momongan, maka ketergantungan pada fase remaja mulai digantikan dengan keinginan untuk menjelajahi dunianya. Seringkali anak muda menjadi lebih dekat dengan temannya dibanding dengan orangtuanya karena merasa ada persamaan nasib dalam menjelajahi dunia ini. Dan sebisa mungkin ia perlu mendapat ruang untuk eksplorasi ini. Pertukaran pengetahuan dengan orangtua dilakukan dengan dialog, bukan pemaksaan. Orangtua ditantang untuk mampu menjadi teman menjelajah bagi anak muda.</p>
<p>Satu-satunya kesalahan yang tidak boleh ditolerir dari anak muda adalah ketika ia bertindak anti-sosial terhadap sesamanya (apalagi kalau sifatnya kriminal!) dan melakukan hal yang destruktif (merusak) terhadap dirinya sendiri. Diluar itu kesalahan adalah kurikulum belajar yang dikirimkan oleh alam.</p>
<p>Dengan menyadari adanya fase remaja dan mengakui adanya hak-hak khusus pada fase tersebut, kita dapat mengembangkan pendekatan dan pengertian baru. Misalnya saja pada kasus nikah muda diatas. Ketika kita mengakui adanya fase remaja, maka akan mudah bagi kita untuk mengerti bahwa kematangan fisik tidak bisa jadi ukuran untuk menikahkan seseorang. Yang jadi patokan adalah kesiapan mentalnya, kesiapan intelektualnya, dan kesiapan ekonomi.</p>
<p>Pada dunia pendidikan pengakuan ini juga banyak gunanya sehingga sekolah tidak akan menerapkan aturan-aturan aneh yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan kedewasaan seseorang seperti aturan tidak boleh berambut gondrong untuk anak laki-laki, atau mengharuskan memakai sepatu berwarna hitam, menambah jam pelajaran sampai sore hanya supaya tidak tawuran, aturan harus berkerudung untuk anak perempuan dan aturan-aturan aneh lainnya. Dengan adanya pengakuan ini maka kecanggungan orangtua dalam menyikapi dinamika anak muda akan berkurang, karena dapat memandang dinamika itu sebagai proses, bukan sebagai kekacauan. Bagi orangtua dinamika seringkali dikira kekacauan karena dunia orangtua sudah mulai mapan, mereka kebanyakan sudah tahu apa yang mereka cari dan inginkan dan mereka energinya terbatas untuk mengantisipasi perubahan. Mereka mulai khawatir (dan kekurangan energi) melihat hal-hal disekitarnya bergerak diluar pagar-pagar kemapanan mereka.</p>
<p>Sudah saatnya anak muda memperoleh pengakuan dan kebebasan, agar mereka bisa menjadi orang dewasa yang sungguh-sungguh dewasa dalam arti matang dan bijak dalam merespon kehidupan yang penuh dinamika ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=87&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2010/12/01/tentang-anak-muda-%e2%80%93-anak-muda-butuh-diakui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Harus Mati?</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/kenapa-kita-harus-mati/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/kenapa-kita-harus-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 08:47:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/kenapa-kita-harus-mati/</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa Kita Harus Mati? Berapa lama pantasnya seorang manusia hidup? Lima puluh, 70, 100 tahun? Semakin panjang usia seseorang dianggap semakin bagus, tentu kalau ia hidup dengan kondisi sehat. Karena itu usaha manusia di dunia ini banyak diarahkan untuk mencapai umur panjang dan kondisi yang sehat. Bahkan salah satu ukuran maju tidaknya suatu negara diukur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=83&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa Kita Harus Mati?</p>
<p>Berapa lama pantasnya seorang manusia hidup? Lima puluh, 70, 100 tahun? Semakin panjang usia seseorang dianggap semakin bagus, tentu kalau ia hidup dengan kondisi sehat. Karena itu usaha manusia di dunia ini banyak diarahkan untuk mencapai umur panjang dan kondisi yang sehat. Bahkan salah satu ukuran maju tidaknya suatu negara diukur dari angka rata-rata harapan hidup warganya. Kabar baiknya, sering usaha manusia untuk memperpanjang umur itu berhasil. Manusia saat ini bisa dengan mudah mengatasi penyakit tetanus yang seratusan tahun yang lalu mungkin dapat mengancam jiwa. Kecanggihan tehnologi kedokteran mampu membuat saluran arteri darah yang mampet jadi lancar lagi misalnya. Dan masih banyak lagi pencapaian manusia supaya bisa hidup makin panjang umur dan sehat. Kabar buruknya, apapun kemajuan yang dibuat manusia sebetulnya relatif sementara sifatnya, dan hanya bersifat menunda kematian.</p>
<p>Banyak bugs yang terdapat di dalam tubuh manusia dan di alam sekitar kita, yang menyebabkan usaha manusia meraih umur panjang tampak tidak terlalu banyak berguna. Sejumlah “disain” yang membentuk tubuh kita bisa dikatakan tidak menunjang untuk memberi umur yang lebih panjang. Contoh paling sederhana adalah mekanisme refleksi dari tenggorokan kita. Dalam banyak kasus, semakin banyak lendir di tenggorokan kita, saluran itu secara refleks justru makin mengecil, sehingga muncul kondisi yang sering disebut sebagai sesak nafas dan asma. Padahal idealnya menurut orang awam, semakin banyak lendirnya harusnya salurannya makin diperbesar. Atau lihatlah bagaimana kemampuan sel untuk meregenerasi dirinya terkadang justru menjadi tak terkendali dan berubah menjadi penyakit tumor atau kanker. Padahal di sisi lain fungsi regenerasi sel ini terbatas, ia tak mampu meregenerasi jari yang putus misalnya. Jadi bisa dibilang fungsi regenerasi ini nanggung, ia tidak mampu menggantikan sel-sel yang rusak berat secara sempurna, namun disisi lain dapat berpotensi menjadi penyakit. Dalam dunia pengembangan software, kekurangan-kekurangan yang berasal dari tahap perancangan atau tahap disain seperti itu disebut sebagai bugs. Biasanya bugs diatasi dengan mengeluarkan versi software yang lebih baru. Apakah manusia perlu perbaikan seperti itu, misalnya keluar Human version 3.0? Ataukah kita hanya perlu bersabar menanti proses evolusi hingga jutaan tahun dimasa depan ketika nanti tubuh manusia mengalami perbaikan-perbaikan?</p>
<p>Sementara itu persoalan diluar tubuh manusia juga banyak. Di luar sana bertebaran bakteri dan berbagai macam virus yang siap menghantar berbagai macam penyakit ke dalam tubuh manusia. Orang yang percaya teori penciptaan dapat bertanya, kenapa Tuhan menciptakan bakteri dan virus? Sedangkan orang yang percaya teori evolusi mungkin dapat bertanya; kenapa ada organisme yang dapat berevolusi sedemikian kompleks seperti manusia dan ada yang “mentok” tetap menjadi bakteri? Dan kenapa manusia tidak compatible dengan sekelompok bakteri, sementara compatible dengan sekelompok bakteri lainnya (ingat minuman fermentasi yang dipromosikan mengandung bakteri bersahabat)? Bukankah proses evolusi dikatakan mengarahkan alam ini kepada the fittest? Kenapa juga proses tersebut tidak mengarah kepada keserasian seluruh mahluk hidup, termasuk manusia dan bakteri dapat hidup berdampingan- dan situasi-situasi lainnya yang mendukung mahluk hidup untuk semakin memperpanjang umurnya- the most fittest condition of all? Bakteri dan virus justru makin berkembang dan makin beragam, seolah-olah berlomba dengan kemampuan manusia untuk menemukan obat pemberantasnya.</p>
<p>Belum lagi kalau kita membicarakan soal gravitasi, energi panas, dingin atau faktor-faktor alam lainnya yang dapat mempercepat kematian manusia. Bahkan tata surya kita peredarannya disusun/tersusun sedemikian rupa sehingga selalu ada bahaya planet kita ini tertabrak oleh meteor atau benda angkasa lainnya.</p>
<p>Seolah semua itu mengarahkan kita pada satu titik, yaitu kematian. Uraian diatas belum cukup, masih ada lagi.</p>
<p>Dari sononya manusia dan mahluk hidup lainnya membutuhkan makanan. Disain dari tubuh manusia, perutnya, pencernaannya, membutuhkan pasokan mahluk hidup lain supaya dapat bertahan hidup. Dari sononya kita seolah sudah dirancang untuk membunuh mahluk hidup lain. Kita ditakdirkan menghisap energi dari mahluk lain supaya bertahan hidup. Kita menjadi sarana agar mahluk lain menemui kematiannya. Dan karena manusia merupakan mahluk paling pintar, ia menjadi mahluk paling banyak membawa kematian bagi mahluk lainnya. Ironisnya, manusia justru seringkali menemui kematian oleh mahluk-mahluk yang paling tidak berakal; bakteri dan virus.</p>
<p>Semua diatas memunculkan pertanyaan abadi, mengapa kita harus mati? Dan lebih lagi, kenapa kita harus hidup pada awalnya? Ini mirip pertanyaan orang bercinta yang patah hati: “Bukan perpisahan yang aku sesali, tapi kenapa kita harus bertemu pada awalnya”. Aku tidak tahu apakah sudah ada yang mampu menyediakan jawabnya secara ilmiah. Sementara sejumlah orang mencoba menawarkan jawabannya secara spiritual atau lewat agama.</p>
<p>Salah satu penjelasan mitologis yang menarik buatku adalah yang tercantum di dalam Kitab Kejadian, Alkitab (kitab suci orang Kristen). Walau mirip dengan yang dijelaskan di Al Quran, namun di Kitab Kejadian ada cerita yang lebih mendetil soal ini. Disitu dikatakan manusia tinggal di Taman Eden dengan bahagia, berkecukupan dan tanpa kesusahan sampai suatu saat mereka diusir dari situ. Mereka diusir karena makan buah dari pohon terlarang, yaitu pohon pengetahuan. Ketika Tuhan tahu bahwa manusia telah makan buah dari pohon pengetahuan, Ia mengusir manusia dari taman itu, dan meletakkan sejumlah Kerubin (sejenis mahluk surgawi namun bukan malaikat) untuk menjaga taman tersebut. Tugas para Kerubin adalah menjaga agar manusia tidak kembali ke taman itu dan tidak makan buah dari pohon terlarang lainnya; pohon kehidupan. Jadi manusia sudah terlanjur makan buah pohon pengetahuan, namun ia tidak dapat makan buah pohon kehidupan.</p>
<p>Dari kisah mitologis diatas kita dapat mengira-ngira sebabnya manusia bisa mengembangkan ilmu pengetahuan sampai pada taraf yang mengagumkan, namun tidak dapat memperoleh hidup yang kekal. Aku tidak tahu mengapa Tuhan mencegah manusia makan buah kehidupan. Bahkan aku juga tidak dapat mencerna kenapa sebelumnya buah pengetahuan juga dilarang. Apakah Tuhan tidak ingin manusia itu berpengetahuan? Dan aku juga lebih tidak mengerti mengapa Tuhan toh meletakkan pohon-pohon itu di Taman Eden jika memang ia tidak menghendaki manusia memakannya?</p>
<p>Tentu penjelasan mitologis diatas tidak banyak membantu untuk saat ini, ia tetaplah penjelasan yang mengandung misteri. Yang bisa kita gali dari mitologi itu ialah orang jaman dulu pun telah memikirkan persoalan kehidupan dan kematian, lengkap dengan pertanyaan mengapa manusia harus hidup sedemikian rupa diatas bumi.</p>
<p>Kira-kira apa yang terjadi kalau manusia sempat makan juga dari pohon kehidupan, apakah ia tidak akan mati-mati? Segala bugs yang ada di dalam tubuhnya akan hilang? Apakah lantas bakteri dan virus akan hilang? Apakah gravitasi atau panas atau energi lainnya tidak akan berpotensi membawa kematian pada manusia? Apakah letak tata surya akan berubah sehingga tidak ada lagi meteorit yang mengancam menabrak bumi? Lucu rasanya jika lantas semua kondisi diatas otomatis berubah hanya karena kita memakan buah kehidupan. Bukan hanya lucu, tapi juga tidak mungkin terjadi. Kalau semua itu tiba-tiba berubah ia akan menentang hukum-hukum alam, hukum-hukum fisika, kimia dan biologi yang ada.</p>
<p>Karena itulah selama kita hidup di dunia fisik ini pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan hidup kekal tidak akan mampu terjawab, karena dunia fisik mengarah pada kematian.</p>
<p>Hanya satu kunci yang saat ini disediakan oleh penjelasan fisika, yaitu bahwa energi itu kekal, tidak akan habis, ia hanya akan berubah bentuk. Disinilah mungkin penjelasan fisika nyambung dengan penjelasan spiritual, bahwa ada kehidupan sesudah kematian, energi manusia berkonversi menjadi sesuatu yang lain bentuknya. Tidak tahu apa itu, namun yang jelas ia tidak akan habis.</p>
<p>Jadi, mungkin saja kehidupan yang kekal itu ternyata memang ada setelah kita melalui konversi energi, alias ketika kita sudah mati. Keinginan manusia untuk hidup abadi baru bisa terjawab setelah diri kita berkonversi menjadi bentuk energi yang lain, padahal pada saat itu kita mungkin sudah tidak ingin bertanya lagi, atau tepatnya kita sudah merasakan pertanyaan-pertanyaan awal itu tidak cocok lagi untuk ditanyakan.</p>
<p>Semua kesalahan disain, semua tata alam yang telah disebut diatas, yang dikatakan dapat mencegah manusia dari hidup kekal, seakan diarahkan memang agar manusia berkonversi menjadi energi yang lain, atau dalam bahasa agamanya, diarahkan untuk membawa manusia “pulang” kembali ke Tuhan. Sejumlah aliran spiritual dan keagamaan menyatakan bahwa kematian adalah penyatuan kembali manusia dengan Tuhan. Jadi pertanyaan abadi “mengapa kita harus mati?” mungkin bisa kita jawab; “karena kita harus kembali” atau “karena kita harus berkonversi” terserah yang mana yang cocok untuk anda.</p>
<p>Beres? Belum. Jika dikatakan bahwa kematian adalah penyatuan kembali dengan Tuhan, perlu diingatkan disini kalau sejumlah aliran spiritual dan agama juga menyatakan bahwa sepanjang hidupnya manusia juga selalu menyatu dengan Tuhan, ini terungkap melalui istilah “manusia adalah bait Allah”, “manunggaling kawula Gusti” dan sejumlah istilah lainnya menggambarkan penyatuan ini. Jadi, kalau selama hidup kita sudah bersatu dengan Tuhan, mengapa juga kematian diperlukan? Fisika menjelaskan bahwa energi memang kekal, namun bentuk-bentuknya tidak kekal. Energi kinetik dari sebuah kincir angin dapat diubah menjadi energi listrik, yang berubah menjadi bentuk suara dan cahaya yang keluar dari sebuah layar televisi. Mungkin dapat kita katakan kematian mengubah bentuk manusia, dari bentuknya yang fana ini menjadi bentuk yang lain. Jika dalam bentuk fana manusia amat rentan dari kehancuran dan kerusakan, mungkin saja bentuk selanjutnya tidak lagi memiliki hambatan dan kekurangan seperti bentuk lamanya. Jadi, selain kematian membawa kita kembali, ia juga membebaskan kita dari bentuk lama kita yang rentan dan lebih primitif.</p>
<p>Pertanyaan “mengapa kita harus mati” sudah kita coba jawab secara sederhana. Yang tersisa kini adalah pertanyaan lainnya, “mengapa kita harus hidup”, jika pada akhirnya kita harus pulang? Mengapa kita harus menjalani nasib kita di dunia ini dan pada akhirnya toh juga kembali. Anda bisa bantu menjawabnya?</p>
<p>============================</p>
<p>Soundtrack <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  :<br />
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=W70LZxzp2js">The Spirit Carries On</a><br />
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=j7hrUU-UeHk">There Must Be More To Life Than This</a></p>
<p>Catatan:<br />
1. Dalam catatan ini selalu diungkapkan hal-hal yang membawa manusia kepada sakit atau kematian. Jangan lupa bahwa banyak hal lainnya yang sebaliknya justru menunjang kehidupan, membantu perkembangan kehidupan pada segala mahluk dan membantu memperpanjang umur manusia.</p>
<p>2. Catatan ini menganggap bahwa setiap kematian –dalam kacamata spiritual- adalah proses kembali ke Tuhan, menyatu dengan Tuhan. Jika dalam tradisi agama penyatuan kembali dengan Tuhan sering disebut dengan “masuk surga”, konsekuensinya tidak ada tempat bagi konsep neraka dalam catatan ini. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=83&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/kenapa-kita-harus-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akankah Kiamat Tahun 2012?</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/akankah-kiamat-tahun-2012/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/akankah-kiamat-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 08:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/akankah-kiamat-tahun-2012/</guid>
		<description><![CDATA[Sejumlah ramalan mengatakan kalau tahun 2012 dunia akan kiamat. Benarkah? Amina Wadud, seorang perempuan intelektual Muslim, mengatakan kalau dunia saat ini sebaiknya meninggalkan cara hidup purba, yaitu cara hidup yang memang dulu dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam ini. Saat ini semua sudah berubah, kita tidak bisa lagi mempertahankan cara hidup seperti manusia kuno. Kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=82&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejumlah ramalan mengatakan kalau tahun 2012 dunia akan kiamat. Benarkah? Amina Wadud, seorang perempuan intelektual Muslim, mengatakan kalau dunia saat ini sebaiknya meninggalkan cara hidup purba, yaitu cara hidup yang memang dulu dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam ini. Saat ini semua sudah berubah, kita tidak bisa lagi mempertahankan cara hidup seperti manusia kuno. Kita harus lebih menghargai hidup dan lebih mengedepankan sifat-sifat kasih dan pemeliharaan. Saat ini kecenderungan dunia sedang kesana, ke arah yang lebih etis, lebih ramah lingkungan, lebih adil dan lebih menyayangi.</p>
<p>Pada kenyataannya, cara-cara hidup lama yang penuh kekerasan sudah banyak ditolak manusia. Tindakan teror misalnya, akan dengan mudah mendapat kutuk dibanding mendapat simpati. Sikap yang diskriminatif juga mulai ditolak dimana-mana. Betul bahwa masih banyak manusia yang mempertahankan pola lama yang tidak adil. Betul ada sebagian orang yang masih menggunakan kekerasan dan manipulasi untuk mencapai tujuannya. Namun perilaku semacam ini bisa diandaikan seperti lilin yang hendak mati karena habis. Pada saat-saat lilin sudah mau habis, nyalanya justru makin terang, namun tak lama kemudian ia mati sama sekali. Kita boleh berharap demikian dalam hidup yang sekarang ini, perilaku yang tidak etis makin kentara untuk dijauhi orang dan kemudian padam. Ada istilah Jawa untuk ini: sing becik ketitik, sing ala ketara (yang baik akan terlihat dan yang buruk akan terpampang). Akan makin jelas bagi masyarakat mana yang baik dan yang buruk. Semoga.</p>
<p>Jika benar dunia saat ini sedang berada pada titik balik, akankah kiamat datang? Tentu secara ilmiah masih bisa kiamat terjadi walaupun manusia sudah memperbaiki sikapnya. Mungkin saja polusi berkurang, atau lubang ozone mampu diselamatkan, namun masih ada kemungkinan bencana datang dengan cara yang lain, misalnya komet nyasar yang datang ke bumi.</p>
<p>Tapi konsep kiamat muncul justru muncul dalam pola pikir keagamaan atau mitologis. Dalam konsep ini kiamat datang karena campur tangan Tuhan langsung ke bumi untuk mengakhiri satu angkatan di bumi, biasanya karena angkatan tersebut dianggap jahat dan berdosa sehingga perlu dimurnikan. Paling tidak ada dua cerita tentang kiamat di dalam kitab suci agama Samawi, yaitu ketika banjir besar datang pada jaman Nabi Nuh dan ketika kota Sodom dan Gomorah dihancurkan (ini kiamat “kecil”).</p>
<p>Sekarang kalau umat manusia sedang menuju arah perbaikan (istilahnya bertobat) tentu Tuhan tidak jadi menimpakan kiamat itu. Manusia tidak perlu dimurnikan lewat kiamat, karena ia sedang membersihkan dirinya sendiri. Walapun proses “pemurnian” itu tentu akan makan waktu lama, tapi besar kemungkinannya Tuhan akan sabar menunggu. Bukankah kemurahan hati Tuhan melebihi kemarahan-Nya?</p>
<p>Jadi kalau benar kita saat ini menuju perbaikan dan kalau benar fungsi kiamat adalah pemurnian, maka besar kemungkinannya tahun 2012 nanti tidak akan ada kiamat. Atau dengan kata lain, kalau benar anda sekarang ini mampu merubah kebiasaan, pola pikir dan tindakan anda yang jelek dan menuju perbaikan, maka besar kemungkinannya kiamat tidak jadi datang.</p>
<p>Paling tidak kalau kiamat benar-benar datang juga, anda sudah lebih “bersih” dan lebih siap <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=82&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/akankah-kiamat-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semaraknya Escher dan Hundertwasser</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/semaraknya-escher-dan-hundertwasser/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/semaraknya-escher-dan-hundertwasser/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 08:05:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemarin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Jika Hunderwasser menghasilkan karya-karya segar karena ketidakpercayaannya pada pedoman, Escher justru menghasilkan karya-karya yang menarik karena mengandalkan pedoman.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=78&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=7692338&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=220711410467&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=220711410467&amp;id=731595563"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs112.snc1/4822_223679585563_731595563_7692338_1473799_a.jpg" align="left" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Suatu saat Friedensreich Hundertwasser, seorang pelukis asal Austria, pernah berkata; <em>&#8220;The rigid, straight line is fundamentally alien to humanity, life and the whole of creation&#8221;</em>; yang kalau diterjemahkan kurang lebih: “Garis lurus yang kaku pada dasarnya adalah barang yang asing dalam kemanusiaan, kehidupan dan seluruh penciptaan”.
<p>&nbsp;</p>
<p>Maksud Hundertwasser kita memang tidak bisa menemukan garis lurus alami di alam sekitar kita, termasuk diri kita. Tidak ada wajah manusia yang persis lurus, tidak ada tangkai pohon atau batu yang persis lurus. Bahkan bentuk-bentuk geometris seperti segi tiga atau segi empat yang benar-benar sempurna tidak pernah ada di alam ini. Lebih jauh lagi ia mengatakan kalau segala mahluk hidup berkembang dari sel, sehingga bentuk geometris yang rapih adalah bertentangan dengan hakikat mahluk hidup. Kita dapat melihat bahwa lukisan-lukisan Hundertwasser sama sekali tidak menyertakan pola geometris, apalagi garis lurus. Lukisannya penuh gairah, penuh warna dan bebas bermain-main dengan bentuk yang sebetulnya nyaris kekanak-kanakan. Hunderwasser bahkan tampaknya tidak membutuhkan bantuan garis perspektif atau bantuan divine proportion. Ia melukis sebagaimana ia pikir hidup itu berjalan, dengan spontan penuh warna dan bisa ia tafsirkan sendiri.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=7692346&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=220711410467&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=220711410467&amp;id=731595563"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs112.snc1/4822_223680030563_731595563_7692346_2064976_a.jpg" align="right" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Di ujung lainnya adalah seorang Mauritz Cornelis Escher seorang seniman asal Belanda. Hasil karya seninya penuh dengan bidang geometris yang rapih. Ia mengukur dan menghitung betul gambar-gambar yang ia hasilkan. Ia menyebut dirinya seniman grafis, karena menurut kata-katanya sendiri; “…sudah dari sononya saya bukanlah seniman yang spontan. Cetakan grafis yang saya hasilkan memerlukan kesabaran dan pemikiran yang masak. Ide yang ingin saya ekspresikan biasanya mengkristal setelah saya perhitungkan masak-masak.”.</p>
<p>Kita bisa melihat Escher membuat banyak pedoman dan bantuan, serta beberapa kali uji coba serta variasi untuk mendapatkan hasil akhir seni yang membuat ia sreg. Namun lukisan cetak yang ia hasilkan mampu memukau, justru karena penguasaannya terhadap garis lurus, bentuk geometris serta bantuan perspektif, ia mampu menghasilkan suatu dunia yang absurd, penuh fantasi sekaligus menghibur.</p>
<p>Jika Hunderwasser menghasilkan karya-karya segar karena ketidakpercayaannya pada pedoman, Escher justru menghasilkan karya-karya yang menarik karena mengandalkan pedoman.</p>
<p>Di luar sana sebagian dari kita juga menyukai pedoman, sementara lainnya menyukai spontanitas spiritual ala Hundertwasser. Sebagian orang begitu percaya kekuatan pedoman rasio, ilmu pengetahuan atau logika. Sementara sebagian lainnya percaya pada kekuatan spiritualitas dan intuisi. Mereka yang percaya kekuatan rasio menggunakan pedoman obyektifitas, pembuktian dan akan mengkaitkan segala gejala sesuai dengan garis bantu pedoman ilmu pengetahuan. Mereka yang percaya intuisi percaya pada kekuatan subyektifitas, pesan tersembunyi di alam dan tidak takut keluar dari pedoman.</p>
<p>Sulit untuk menilai, mana tipe manusia yang lebih baik, apakah mereka yang percaya pada rasionalitas-obyektif ataukah mereka yang percaya pada spiritualitas-intuitif. Lukisan Hundertwasser maupun Escher sama-sama indah dan penuh inspirasi. Keindahan bisa datang dari mana saja tampaknya.</p>
<p>Yang tidak indah adalah kalau misalnya Hundertwasser kemudian punya kesempatan dan kekuasaan untuk menentukan metode berkesenian mana yang paling baik, lalu ia mengklaim cara dan filosofi menggambarnya adalah yang paling benar, cara lainnya adalah salah, keliru dan kafir. Ia mungkin saja lantas melarang melukis dengan cara Escher, karena dianggap bertentangan kemanusiaan, kehidupan dan seluruh penciptaan.</p>
<p>Yang tidak indah kalau seandainya Escher diangkat menjadi dewa kecil kesenian lalu menerbitkan sertifikat cara menggambar yang benar. Semua orang yang ingin menjadi seniman harus memperoleh sertifikat tersebut yang ujiannya ditentukan dengan cara dan metode Escher. Tiba-tiba semua seniman lukis diwajibkan memiliki penggaris, jangka dan alat-alat ukur lainnya. Mungkin saja seniman macam Hundertwasser akan dikucilkan dari pergaulan antar seniman lukis, atau lebih parah (jika Escher memiliki Pasukan Penegak Metode Escher) ia bisa dijebloskan ke penjara atau dianiaya.</p>
<p>Tentu seni jadi tidak lucu lagi. Hidup jadi tidak bergairah lagi. Dunia akan lebih semarak jika orang-orang macam Escher dan Hunderwasser sama-sama punya kesempatan mewarnai hidup. Dunia akan menjadi lebih nyaman ditinggali kalau anda dan saya punya kesempatan menunjukkan warna asli kita, mengetahui bahwa ada cara dan metode berpikir yang berbeda dan mengakui kalau kita berbeda.</p>
<p>***</p>
<p>Lihat karya-karya Hundertwasser disini: <a rel="nofollow" href="http://images.google.co.id/images?q=Hundertwasser&amp;oe=utf-8&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a&amp;um=1&amp;ie=UTF-8&amp;sa=N&amp;hl=id&amp;tab=wi" target="_blank">http://images.google.co.id/images?q=Hundertwasser&amp;oe=utf-8&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a&amp;um=1&amp;ie=UTF-8&amp;sa=N&amp;hl=id&amp;tab=wi</a></p>
<p>Lihat karya-karya Escher disini: <a rel="nofollow" href="http://images.google.co.id/images?hl=id&amp;client=firefox-a&amp;rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&amp;um=1&amp;sa=1&amp;q=escher&amp;btnG=Telusuri+gambar&amp;aq=f&amp;oq=" target="_blank">http://images.google.co.id/images?hl=id&amp;client=firefox-a&amp;rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&amp;um=1&amp;sa=1&amp;q=escher&amp;btnG=Telusuri+gambar&amp;aq=f&amp;oq=</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=78&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/11/25/semaraknya-escher-dan-hundertwasser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs112.snc1/4822_223679585563_731595563_7692338_1473799_a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs112.snc1/4822_223680030563_731595563_7692346_2064976_a.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Aku Baca Namamu</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/03/30/aku-baca-namamu/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/03/30/aku-baca-namamu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 17:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Sekali dalam sehari ingatan di kepalaku mencari-cari wajahmu
Dan rasa riang di hatiku mencari-cari tawamu
Penciuman di hidungku rindu bau rambutmu
Rasa sok bijak di jiwaku rindu menertawai pertanyaan garink-mu<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=75&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku warnai uban di rambutku<br />
Sebab setiap helainya iri pada rambut hitammu</p>
<p>Darah yang ada dalam nadiku memanggili namamu<br />
Sebab kau curi kemudaan yang mengalir di dalamnya</p>
<p>Kerutan awal di wajahku rindu sentuhan kulitmu<br />
Sebab kau mengingatkan pada kemulusannya</p>
<p>Sekali dalam sehari ingatan di kepalaku mencari-cari wajahmu<br />
Dan rasa riang di hatiku mencari-cari tawamu<br />
Penciuman di hidungku rindu bau rambutmu<br />
Rasa sok bijak di jiwaku rindu menertawai pertanyaan garink-mu</p>
<p>Dan kini aku hanya bisa membaca namamu<br />
Aku baca namamu sebab aku ingin mengenalmu huruf demi huruf<br />
Aku baca namamu sebab kini kau hanya:<br />
Sejumput kata<br />
Sebait masa lampau<br />
Separagraf kenangan<br />
Kata yang m e m u  d  a   r<br />
Kenangan yang m e n  g   h   i   l    a    n    g<br />
Jarak yang m  e  n   j   a   u    h<br />
Ingatan yang menua : : : . .  .<br />
&#8230;.<br />
..<br />
.</p>
<p>Aku baca namamu<br />
Sebab hurufmu tertulis di hatiku</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=75&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/03/30/aku-baca-namamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jaipongan vs Kesejahteraan</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/02/09/jaipongan-vs-kesejahteraan/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/02/09/jaipongan-vs-kesejahteraan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 17:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Jadi sungguh jauh lebih mudah membuat aturan-aturan berdasarkan moral atau agama daripada membuat peraturan yang sungguh-sungguh dapat menguntungkan rakyat. Jauh lebih gampang menyalahkan penari Jaipong daripada memberikan pendidikan gratis buat rakyatnya. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=72&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>What better way to &#8220;divide and conquer&#8221; a people than to turn the men against their own women?</em><br />
Untuk memecah suatu masyarakat, cobalah untuk membuat kaum laki-lakinya bersikap kontra terhadap kaum perempuannya sendiri. Kalimat di atas tercantum dalam sebuah jurnal feminis terbitan Kanada, Canadian Women Studies. Kalimat itu terdapat dalam suatu esai yang menceritakan bagaimana melalui kolonialisasi, kaum laki-laki suku aborigin telah direnggut kemampuan tradisionalnya seperti berburu dan memenuhi kebutuhan hidup, sehingga mereka menjadi tidak mampu memainkan perannya dalam masyarakat. Ini membuat para laki-laki itu menjadi pemarah, putus asa dan merasa gagal memenuhi “fungsinya” sebagai laki-laki. Pada gilirannya depresi yang mereka alami menyebabkan mereka menjadi keras hati dan melakukan kekerasan terhadap para perempuannya.</p>
<p>Walaupun kutipan di atas muncul dari situasi kolonial, namun sepertinya berlaku juga untuk sebagian besar kasus. Suatu masyarakat tidak akan maju jika kaum laki-lakinya selalu bersikap kontra terhadap kaum perempuannya. Bersikap kontra di sini bukan cuma menjajah atau melakukan kekerasan fisik saja, tapi juga termasuk tidak berbuat banyak untuk memperbaiki nasib perempuan atau menyalahkan perempuan atas penyakit sosial kemasyarakatan.</p>
<p>Baru-baru ini kita dengar kalau penari Jaipongan (yang tentunya perempuan) disalahkan karena dituduh dapat membangkitkan birahi laki-laki dengan 3G nya (goyang, geol dan gitek). Mereka disuruh menutupi ketiak karena dianggap merangsang. Sikap ini selaras dan sejalan dengan pemikiran di belakang terbentuknya UU Pornografi yang beberapa waktu lalu disahkan dengan alasan untuk melindungi moral bangsa dari serangan pornografi. Di balik UU itu tercetus pemikiran bahwa tubuh perempuan menjadi salah satu perusak moral bangsa. Walau banyak pasal dalam UU itu yang sudah direvisi karena desakan banyak pihak, namun jelas para pengusulnya memasukkan tubuh perempuan sebagai hal yang porno. Kita masih ingat ketika goyangan Inul Daratista dibilang porno, tarian Dewi Persik dibilang porno dan dilarang melakukan pertunjukkan di beberapa daerah seperti Cianjur. Padahal kita tahu bahwa di Cianjur praktik kawin kontrak sering berlangsung. Pemerintah daerahnya justru tidak berusaha supaya praktek kawin kontrak yang merugikan perempuan itu hilang, namun malah melarang Dewi Persik tampil di sana. Seolah-olah tubuh Dewi Persik yang bergoyang lebih merusak moral daripada kawin kontrak. Sementara itu di banyak tempat lain praktik poligami malah dianggap sebagai hal yang wajar.</p>
<p>Sebenarnya relasi laki-laki dan perempuan sifatnya timbal balik. Segala persoalan sosial baiknya dipecahkan bersama antara laki-laki dan perempuan, dan tidak perlu ada salah satu pihak yang menyalahkan pihak lainnya sebagai sumber persoalan bangsa. Namun karena kepentingan politik, tubuh dan perilaku perempuanlah yang diangkat sebagai permasalahan. Kenapa? Karena paling mudah bagi suatu pemerintahan untuk mengontrol wilayah pribadi warganya daripada memperbaiki kehidupan mereka. Karena dengan bertindak mengatur moral masyarakat, seolah-olah pemerintah sudah berbuat banyak, sudah membasmi penyakit masyarakat.</p>
<p>Padahal penyakit masyarakat bukan hanya moral (dan moralpun bukan hanya sebatas seksualitas) tp juga kemiskinan, pelanggaran hak asasi dan kebodohan. Di Pandeglang misalnya, pemerintah daerahnya mempromosikan kebijakan moral berupa pemisahan kelas antara laki-laki dan perempuan, namun di sisi lain beberapa program yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat malah tidak berhasil meningkatkan kualitas hidup warganya. Belakangan bupatinya malah tersangkut dugaan korupsi.</p>
<p>Jadi sungguh jauh lebih mudah membuat aturan-aturan berdasarkan moral atau agama daripada membuat peraturan yang sungguh-sungguh dapat menguntungkan rakyat. Jauh lebih gampang menyalahkan penari Jaipong daripada memberikan pendidikan gratis buat rakyatnya. Jauh lebih mudah mensahkan UU Pornografi daripada menuntaskan kasus-kasus pelanggaran hak asasi atau memenuhi ganti rugi korban lumpur Sidoarjo.</p>
<p>Kini tak perlu heran jika ada pejabat atau partai yang bicara soal moral, kita periksa baik-baik dulu apakah mereka memiliki program yang mampu mengangkat harkat hidup orang banyak atau tidak. Kebijakan soal moral, apalagi yang menyangkut tubuh perempuan, dapat membuat masyarakat terpecah, antara kaum laki dengan perempuannya sehingga mereka lupa akan tujuan hidup mereka yang lebih besar. Dan praktek seperti ini tidak banyak berbeda dengan praktek kolonialisme yang digunakan untuk memecah belah dan memperlemah masyarakat yang dijajahnya. Artinya pula, kita masih hidup dalam suasana pemikiran ala penjajahan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=72&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/02/09/jaipongan-vs-kesejahteraan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Aksi Solidaritas Pilih-Pilih Sasaran</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/01/05/ketika-aksi-solidaritas-pilih-pilih-sasaran/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/01/05/ketika-aksi-solidaritas-pilih-pilih-sasaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 17:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Gempa di Papua hari ini merupakan peringatan agar kita tidak melupakan sesama kita yang dekat sekaligus menjadi ujian apakah pihak2 yang menyatakan solidaritasnya ke Palestina juga melakukan hal yang sama untuk rekan satu negaranya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=69&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini aku pergi naik kereta rel listrik sampai stasiun Cawang, dan dari sana jalan kaki menuju kedutaan besar Saudi Arabia. Puluhan orang sudah dengan manisnya berdemo di sana (demo kok manis?). Beberapa wajah yang tak asing juga sudah nongkrong persis di depan gerbang kedutaan tersebut. Ada apa nih kok ngumpul-ngumpul di depan Kedubes Saudi Arabia siang-siang bolong 35 derajat celcius begini? Ini laporannya:</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Hari ini giliran Kedutaan Besar Saudi Arabia yang terkena demonstrasi terkait isu penyerangan Israel ke Jalur Gaza. Sejumlah anggota masyarakat tampak memenuhi gerbang kedutaan tersebut sambil meneriakkan tuntutan mereka.</p>
<p>Kelompok masyarakat ini menamakan dirinya Masyarakat Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina. Kelompok ini menilai bahwa negara-negara Timur Tengah, termasuk Saudi Arabia dan Mesir hanya bersikap ala kadarnya, memberi yang paling minim dari semestinya yang dapat mereka sumbangkan. Tak ada yang bisa dilakukan oleh negara-negara Timur Tengah tersebut kecuali melakukan ritus pertemuan, konferensi untuk kemudian menerbitkan rekomendasi yang tidak memiliki pengaruh nyata ke dalam penyelesaian konflik.</p>
<p>Padahal negara-negara Timur Tengah tersebut memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menekan baik Israel maupun sekutunya, Amerika Serikat. Dipercaya bahwa keterlibatan negara-negara Timur Tengah secara intensif akan mempercepat tercapainya negara Palestina merdeka.</p>
<p>Masyarakat Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina memandang bahwa bangsa Palestina berhak untuk merdeka, dan tindakan Israel kepada mereka sebetulnya mirip dengan tindakan Holocaust yang dulu diperbuat oleh Nazi Jerman kepada warga keturunan Yahudi di Eropa ketika Perang Dunia ke II dahulu.</p>
<p>Setelah menyampaikan pendapatnya, mereka bergerak ke Kedubes Mesir untuk menyampaikan tuntutan yang sama. (Ternyata baru keesokan harinya ke Kedutaan Mesirnya)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Aku bergabung dalam aksi itu karena ada dua keprihatinan sekaligus:<br />
1. Prihatin akan nasib korban-korban sipil (terutama anak-anak) dalam konflik antara Israel dan Hamas.<br />
2. Prihatin karena aksi-aksi keprihatinan yang ada sering dijual untuk kepentingan promosi politik, sehingga salah satu akibatnya adalah aksi solidaritas yang pilih-pilih sasaran.</p>
<p>Aku yakin kita semua berbagi keprihatinan yang sama untuk nomor 1 di atas, namun tidak untuk yang nomor 2. Kalau mau konsisten dan serius seharusnya aksi solidaritas ditujukan kepada semua pihak yang berkontribusi pada konflik ini dan yang membiarkan serta menarik keuntungan dari konflik ini. Dalam konsep Hak Asasi Manusia, pembiaran terhadap terjadinya pelanggaran HAM sesungguhnya adalah pelanggaran HAM juga.</p>
<p>Kita bisa lihat betapa negara-negara Arab tidak berbuat banyak, bahkan pemerintah Mesir tidak kunjung membuka pintu perbatasan di Rafah bagi bantuan ke Palestina (<a rel="nofollow" href="http://www.detiknews.com/read/2009/01/05/143246/1063265/10/krisis-tokoh-timur-tengah-terpaksa-cueki-palestina" target="_blank"><span>http://www.detiknews.com/r</span><span>ead/2009/01/05/143246/1063</span><span>265/10/krisis-tokoh-timur-</span><span>tengah-terpaksa-cueki-pale</span>stina</a>). Betapa ironisnya ketika &#8220;teman-teman dekat&#8221; Palestina juga membiarkan tragedi itu terjadi. Kalau AS dan Israel semua orang juga sudah tahu kalau mereka itu sumber permasalahannya, tapi orang sering lupa pada &#8220;teman-teman dekat&#8221; ini sebetulnya juga bermain dalam konflik ini.</p>
<p>Lihat juga tulisan ini:<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009010123594416" target="_blank"><span>http://www.lampungpost.com</span><span>/buras.php?id=200901012359</span>4416</a></p>
<p>Di mana puluhan ribu massa yang kemarin dg gagah berani mendemo kedutaan AS? Kenapa mereka tidak hadir di kedutaan Saudi Arabia juga hari ini? Kita bisa mempertanyakan ada apa di balik sikap mereka yang tidak konsisten tersebut? Ada banyak spekulasi beredar di luar sana bahwa mereka menjual isu Palestina untuk menggalang dukungan masyarakat. Menggalang dukungan di atas penderitaan rakyat Palestina. Tapi tentu kita tidak boleh percaya begitu saja dengan spekulasi. Kita mesti punya indikator yang lain untuk menilai apakah kira-kira spekulasi itu betul. Gempa di Papua yang baru saja terjadi bisa jadi salah satu indikator buat menilai keesungguhan gerakan kemanusiaan yg mereka gelar.</p>
<p>Gempa di Papua hari ini merupakan peringatan agar kita tidak melupakan sesama kita yang dekat sekaligus menjadi ujian apakah pihak2 yang menyatakan solidaritasnya ke Palestina juga melakukan hal yang sama untuk rekan satu negaranya. Yah, paling tidak kalau kemarin ada 50 ribu orang berhasil dikerahkan untuk demo Palestina, tentu tidak sulit menyisihkan 5000 orang saja untuk solidaritas dg Papua. Lagipula lebih murah biaya ke sananya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Omong-omong, Fadjroel Rachman juga membuat catatan serupa:<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=731595563&amp;ref=name#/note.php?note_id=54774198942&amp;ref=mf" target="_blank"><span>http://www.facebook.com/pr</span><span>ofile.php?id=731595563&amp;ref</span><span>=name#/note.php?note_id=54</span>774198942&amp;ref=mf</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=69&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2009/01/05/ketika-aksi-solidaritas-pilih-pilih-sasaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta yang Menyiksa dan Membebaskan</title>
		<link>http://aquinohayunta.wordpress.com/2008/12/30/cinta-yang-menyiksa-dan-membebaskan/</link>
		<comments>http://aquinohayunta.wordpress.com/2008/12/30/cinta-yang-menyiksa-dan-membebaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 17:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>awh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aquinohayunta.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Cinta sungguh sesuatu yang sulit dibicarakan. Demikian maju peradaban manusia, masih juga orang bicara tergagap-gagap tentang cinta. Tak beda ketika orang harus bicara masalah kebebasan, Tuhan dan soal seksualitas. Isu-isu ini tidak pernah tuntas dibicarakan dan tidak pernah berhenti menjadi problem sekaligus energi penggerak hidup manusia.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=66&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta sungguh sesuatu yang sulit dibicarakan. Demikian maju peradaban manusia, masih juga orang bicara tergagap-gagap tentang cinta. Tak beda ketika orang harus bicara masalah kebebasan, Tuhan dan soal seksualitas. Isu-isu ini tidak pernah tuntas dibicarakan dan tidak pernah berhenti menjadi problem sekaligus energi penggerak hidup manusia.</p>
<p>Minggu ini kebetulan topik yang lagi hangat di sekitaranku adalah soal cinta. Dan cinta benar-benar menjadi persoalan yang berat, merundung serta becek.</p>
<p>Berat karena yang terjadi adalah kesusahan, pembelengguan dan menghabiskan energi. Merundung karena orang-orang yang terlibat mengalami kesuntukan parah, tersiksa dan tidak bebas bergerak. Becek karena akibatnya kena ke orang-orang di sekitar mereka. Ada empat kasus soal cinta yang aku lihat minggu ini dan semuanya menyiksa. Ada cinta segi tiga, segi empat, ada soal kepribadian yang berubah karena berusaha mempertahankan cinta, ada yang rela diduakan karena tidak mau melepas pacarnya alias cinta mati. Dan ada fitnah bertebaran karena cinta.</p>
<p>Yang jelas kalau cinta biasanya membuat orang senyum, tertawa, bahagia dan awet muda, cinta yang mereka alami ini justru membuat pusing kepala, pengekangan, stres – bahkan sakit fisik parah.</p>
<p>Seorang teman berkomentar bahwa “cinta itu membebaskan, bila kemudian cinta membuat kita takut, khawatir, cemas, mengingat dan tidak menjadikan orang yang kita cintai berkembang, itu namanya bukan cinta, tapi cinta diri sendiri, karena kemudian orang lain sadar atau tidak &#8220;diperalat&#8217; untuk memberi keamanan terhadap dirinya &#8230;&#8230;.. dan bila cinta sudah membuat perhitungan itu bukan cinta namanya tapi barter&#8230;”</p>
<p>Bila memang cinta itu membebaskan, berarti hanya sedikit saja dari kita yang benar-benar dianugerahi kesempatan untuk merasakan cinta. Apakah sebagian besar orang sebetulnya hanya merasakan suatu perasaan cinta yang palsu? Kalau cinta memang harus membebaskan, betapa sulitnya manusia meraih cinta itu. Padahal dalam kenyataan sehari-hari begitu mudahnya orang merasakan jatuh cinta. Apakah perasaan yang demikian ini bukan cinta namanya?</p>
<p>Aku pikir persoalannya adalah karena cinta sering dipandang sebagai sesuatu yang ada di luar sana, di luar diri manusia. Sehingga manusia akan bahagia jika energi besar bernama cinta itu bersedia menghampiri manusia, dan dengan demikian melengkapi kekurangan manusia. Pandangan ini tercermin dari kisah Adam dan Hawa, dimana Adam mencari tulang rusuknya yang hilang di luar sana, dan sesuatu yang hilang itu adalah Hawa. Tanpa energi pelengkap ini orang percaya hidupnya tidak akan lengkap. Pandangan ini persis seperti cara pandang bahwa Tuhan adalah suatu entitas yang berada di luar diri manusia, energi yang sangat besar, yang sangat kuasa, sehingga manusia menjadi kecil di hadapan Entitas ini. Cara memandang Tuhan seperti ini membuat manusia takut akan Tuhan, menganggap bahwa Tuhan adalah mahluk penghukum yang posisinya jauh di atas manusia. Orangpun berlomba-lomba untuk semakin dekat dengan posisi yang “jauh di atas” sana dengan cara apapun, termasuk dengan cara menghakimi orang yang dianggap akan membuat Tuhan murka, dengan menghakimi orang-orang yang dianggap murtad, kafir dan sebagainya. Kebencian dan irasionalitaslah yang lantas muncul dari tuhan semacam ini.</p>
<p>Begitu juga jika kita memandang bahwa cinta adalah di luar diri manusia, kita akan selalu menganggap bahwa cinta itu datangnya dari luar diri kita, dan jika kita tidak dicintai oleh orang lain, maka diri kita menjadi kurang berharga. Atau bisa jadi kita merasa jadi pribadi yang lengkap hanya kalau kita bisa mengumpulkan sebanyak mungkin luapan asmara dari orang di sekitar kita. Orang jadi terobsesi untuk menguasai cinta, untuk mengumpulkan cinta sebagaimana mereka mengumpulkan harta. Dan otomatis mereka memperlakukan cinta dengan prinsip-prinsip orang berdagang; “ada uang, ada jasa” atau “anda cinta, saya cinta – anda tak cinta saya bisa kejam terhadap anda”. Mereka memperlakukan cinta seperti mereka memperlakukan berlian; menyimpannya erat di dalam lemari besi pengekangan, kewaspadaan dan kecurigaan.</p>
<p>Cinta yang demikian menjadi tidak bebas, karena takut barang miliknya hilang, maka seseorang mempertahankannya dengan segala cara, termasuk dengan bertikai, memfitnah atau bahkan main dukun. Dan ketika segala upaya sudah dikerahkan namun sang cinta tak bisa diperoleh, maka permusuhanlah yang muncul sebagai gantinya. Benci tapi rindu kata pepatah.</p>
<p>Cara pandang demikian ternyata juga menyebabkan manusia mengalami krisis kepercayaan diri. Karena menganggap diri gagal untuk menghimpun energi cinta dari orang lain, orang akan cenderung menganggap dirinya tidak berharga atau tidak pantas dicintai.</p>
<p>Kini saatnya kita sadar kalau cinta itu sebetulnya manunggal dalam diri setiap manusia. Manusia tidak perlu repot-repot menghimpun energi cinta seperti orang menghimpun kekayaan dari luar. Ini mirip dengan pandangan bahwa Tuhan itu bukan sekedar entitas di luar diri manusia yang tidak terjangkau, namun Tuhan itu sesungguhnya manunggal di dalam setiap unsur alam semesta, termasuk di dalam diri manusia, manunggaling kawula Gusti kata orang Kejawen. Segala sesuatunya adalah manifestasi Tuhan, sehingga tidak ada manusia yang lebih benar dan lebih baik dari manusia lain di hadapan Tuhan. Kalau kita memandang Tuhan dengan cara seperti ini, tentu kita tidak akan menuduh orang lain kafir, kita tidak akan ribut-ribut soal ajaran agama manakah yang paling benar. Karena kita percaya bahwa banyak jalan yang bisa membawa kita kepada Tuhan. Tuhan menjelma di mana-mana. Kita tidak berlomba-lomba meraih posisi Tuhan di atas sana dengan menumpuk pahala-pahala kita sebagai tumpuan menuju Tuhan yang tinggi. Hanya ketika kita “menarik” Tuhan keluar dari diri kita, maka kesengsaraan dan “dosa” terjadi. Kita meninggalkan Tuhan, bukan Tuhan yang meninggalkan kita.</p>
<p>Begitu pula dengan cinta, kalau kita sadar bahwa cinta itu mewujud dalam diri kita sejak kita ber-Ada, maka kita tidak tergantung dengan suplai cinta dari luar. Kita tidak akan menjadi posesif, kita tidak akan kecewa berkepanjangan kalau ada orang menolak memberikan energi cintanya kepada kita, kita tidak akan merasa diri kurang komplit tanpa cinta dari luar. Cinta semacam ini sifatnya lentur dan bebas. Kita bisa mencintai orang tanpa menganggapnya sebagai hak milik yang harus dipertahankan dari ancaman luar. Kita bahkan bisa mencintai banyak orang sekaligus dalam satu waktu dengan berbagai macam perasaan yang datang dan pergi. Cinta menjadi sesuatu yang menyenangkan karena sifatnya yang dinamis dan timbal balik. Energi cinta tidak dibekap sehingga menjadi keruh, namun ia dibiarkan mengalir dan lepas.</p>
<p>Tentu masih akan ada kekecewaan jika orang yang kita cintai bersikap buruk pada kita, namun rasa kecewa itu tidak menjadi rasa frustasi, tidak menjadi rasa benci, karena kita yakin bahwa tidak ada yang terenggut dari diri kita. Kita tetap bisa mencintai dan memiliki cinta walau orang lain tidak membalas cinta kita dengan perlakuan yang baik. Dengan demikian kita akan terfokus dengan cinta, bukan dengan individu. Kita kecewa bukan karena merasa diri tidak berharga namun lebih karena energi kita tidak bergayung sambut dengan orang lain. Dan kita bisa segera melanjutkan hidup kita tanpa perlu terpuruk lama-lama karena patah cinta.</p>
<p>Namun apakah cinta yang demikian lantas tidak memiliki bentuk? Kepada siapakah cinta yang paripurna akan kita persembahkan, jika memang cinta itu tidak berbatas dan tidak termonopoli? Komitmen adalah jawabannya. Kita bisa mencintai beberapa orang sekaligus dalam satu waktu, namun karena kita mahluk sosial yang bertanggung jawab kepada manusia lain, tentu kita harus menetapkan pilihan kepada siapa saya akan berbagi cinta dalam hidup ini. Komitmen ini berguna agar cinta yang tak berbatas itu tidak menjadi bahan rebutan atau pengumpulan selayaknya hak milik.</p>
<p>Pada akhirnya, cinta yang manunggal ini akan membebaskan manusia. Membebaskan seperti apa? Membebaskan dari keterlekatan dan keterikatan. Membebaskan karena ia sifatnya berbagi bukan menghimpun, melepaskan bukannya mengekang.</p>
<p>Setujukah anda dengan pendapatku ini? Sori kalau masih terlalu abstrak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aquinohayunta.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aquinohayunta.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aquinohayunta.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aquinohayunta.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aquinohayunta.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aquinohayunta.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aquinohayunta.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aquinohayunta.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aquinohayunta.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aquinohayunta.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aquinohayunta.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aquinohayunta.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aquinohayunta.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aquinohayunta.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aquinohayunta.wordpress.com&amp;blog=644624&amp;post=66&amp;subd=aquinohayunta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aquinohayunta.wordpress.com/2008/12/30/cinta-yang-menyiksa-dan-membebaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6cec711a7cd7b1f6913199e27fa51642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aquinohayunta</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
