800 tahun kemudian

    Tahun 1590, di sebuah negeri yang damai, seorang anak bertanya kepada ayahnya; “Ayahanda, di pendopo keraton tadi aku mendengar Raja berkata- kata kepada ayah soal peradaban, apakah peradaban itu ayah?”. Sang Ayah, yang termasuk salah seorang bijak penasehat raja menjawab; “Jawabannya atas pertanyaanmu cukup sulit untuk kau mengerti jika aku jelaskan, tapi aku jelaskan begini saja; peradaban adalah wujud akal budi manusia, semakin maju akal budi, semakin maju peradaban dan semakin baik pula nasib kita manusia ini. Hidup akan menjadi lebih mudah. Lihat saja kerajaan kita ini, jaman dahulu tak ada istana semegah ini, seorang raja ketika itu hanyalah pemimpin dari beberapa puluh orang saja. Hidup mereka berpindah- pindah, baju mereka terbuat dari kulit rusa atau babi, tidak ada kain pelapis sutra seperti yang kau kenakan sekarang ini. Rakyat masih biadab, saling berebut pangan dan daerah perburuan karena tak ada yang mengatur mereka. Saat itu belum ada tamu- tamu dari negeri seberang. Pendek kata, hidup masih serba susah. Dengan adanya peradaban, hidup kita menjadi makin manusiawi dan dapat dibedakan dari hewan.” Sang anak, walau belum mengerti benar, mengangguk- anggukkan kepalanya sambil membayangkan hidupnya di masa depan akan menjadi lebih baik karena hal yang bernama peradaban itu.

Tahun 2390, yaitu 800 tahun kemudian, di sebuah lembah hijau yang damai, dua orang anak duduk bersama ayah mereka sambil membakar hewan hasil buruan mereka. Ketiganya menggunakan baju yang terbuat dari kulit rusa. Tiga malam sebelumnya mereka baru saja berpindah dari daerah lain sepuluh kilometer jauhnya, dan sampai di tempat ini mengikuti pergerakan hewan buruan mereka.  Anak yang sulung memegang selembar potongan kertas tua yang nyaris rusak, sementara yang bungsu pergi mengambil air ke sebuah sungai di atas bukit tempat mereka menetap saat ini.
Si Sulung bertanya pada ayahnya; “Ayah, aku menemukan selembar kertas tua yang bertuliskan ‘peradaban’ di atasnya. Apakah arti peradaban itu ayah?”
Sang Ayah yang terkejut segera merebut kertas tua itu dan melemparkannya ke dalam api. Sementara Sang anak terheran- heran, sang Ayah berkata; “Segera lupakan kata- kata itu nak, karena bila kau ingat, kau akan mengalami bencana dan hidupmu akan susah.”
Sang anak bertanya lagi; “Tapi mengapa harus kulupakan ayah? Bagaimana aku bisa terhindar dari suatu bencana jika aku tak tahu seperti apa bencana itu?”
Sang ayah terdiam menimbang beberapa saat sebelum akhirnya mulai bercerita dengan pelan. “Seratus tahun yang lalu, hidup manusia amat sengsara, bumi ini begitu penuh dengan manusia sementara lahan untuk hidup semakin sempit. Hutan terakhir telah ditebang untuk pemukiman, kekayaan alam telah habis digali demi kemajuan tehnologi dan tetes air hujan terakhir telah ditukarkan dengan benda yang bernama uang. Semua habis. Hutan, sawah, padi, air bersih, semua habis. Yang masih banyak tersisa adalah air laut asin yang tercemar dan sejumlah besar uang..ya, benda yang bernama uang itu.”
Ia terdiam sejenak, menelan ludah dan melanjutkan ceritanya, kali ini dengan tempo yang cepat; “Udara panas seperti api yang membakar, es- es di kutub mencair, banjir, kelaparan, penyakit dan saling bunuh terjadi dimana- mana. Orang- orang mencari sebab dari semua itu, ada yang mengatakan itu semua karena lapisan ozon yang telah hilang, ada yang bilang karena cinta kasih telah hilang dari hati manusia, dan berbagai sebab lainnya. Tapi aku berani berkata padamu bahwa semua kesengsaraan itu ada karena ‘peradaban’! Peradabanlah yang membuat manusia tidak puas dengan alam ini. Peradabanlah yang membuat manusia mengeksploitasi alam ini. Dan peradabanlah yang membuat manusia mempunyai berbagai macam prinsip sehingga bertengkar satu sama lain. Mereka mengira bahwa peradaban membuat hidup manusia menjadi lebih baik. Tapi mereka salah, peradaban membuat hidup manusia hancur. Peradaban hanya membuat kita terasing dari alam. Yang dihasilkannya hanyalah sejumlah besar benda bernama uang yang tidak bisa mengobati penyakit kita, yang tidak bisa mencegah manusia saling bunuh. Aku bahkan berpikir bahwa peradaban adalah buah terlarang yang dimakan Adam dan Hawa.”
“Pada suatu hari Tuhan datang ke dunia ini. Ya..Tuhan sendiri, Tuhan yang ditinggalkan manusia karena mereka mempunyai dewa lain bernama peradaban. Ia datang dan memulihkan semua keadaan yang kacau balau itu. Hutan- hutan ia tumbuhkan lagi, Ia ciptakan air yang bisa diminum di mana- mana, Ia sembuhkan semua penyakit dan Ia pindahkan separuh penduduk bumi ke planet Mars yang tiba- tiba menjadi hijau seperti Bumi. Dan yang paling penting, Ia menumbuhkan kembali Kasih di dalam hati manusia. Ia ikat peradaban dengan rantai dan melemparkannya ke jurang yang dalam di mana hanya terdapat ratap tangis dan kertak gigi. Dan seperti kau lihat kini, Bumi menjadi begitu indah dan damai. Jadi jangan pernah kau singgung- singgung lagi soal peradaban, mengerti?”
Si Sulungpun mengangguk- angguk dengan wajah penuh syukur karena tidak merasakan Sang Peradaban itu.

Sementara itu, si bungsu yang baru datang mengambil air, datang terengah-engah karena naik turun bukit, ia tidak mendengar percakapan keduanya. Ia anak yang cerdas, karena itu sambil duduk terengah- engah ia berpikir, “Tak ada bedanya aku ini dengan kuda yang kutemui di sungai tadi, iapun harus naik turun bukit untuk minum. Sesampainya di bawah sini aku sudah haus kembali. Aku harus lebih pandai dari kuda tadi, karena itulah bedaku dengannya. Jadi supaya aku tak seperti kuda, aku harus memikirkan caranya supaya air dapat mengalir dari sungai diatas sana sampai kemari”
Dan seiring matahari yang terbenam, otaknyapun sibuk berpikir tentang hal itu. Tanpa ia sadari peradaban mulai muncul seperti matahari terbit di benaknya…

Januari 1996

2 thoughts on “800 tahun kemudian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s