Kartun Denmark dan Pelajaran tentang Agama-Agama

Pemunculan karikatur Nabi Muhammad di sebuah koran Denmark yang lantas direproduksi oleh sejumlah media massa di negara-negara lainnya menunjukkan tipisnya kepekaan sebagian masyarakat dunia (saya tidak menggunakan istilah barat – selain karena kartun tersebut terbit juga di negara-negara “bukan barat” juga karena istilah barat-timur cenderung dikotomis dan penuh praduga) terhadap masyarakat lainnya. Ada sebagian warga masyarakat dunia yang tidak tahu dan tidak menghargai bagaimana warga masyarakat lainnya menganut dan memelihara dengan serius sebuah nilai. Pelecehan yang terkandung dalam karikatur tersebut sebenarnya juga merupakan pelecehan terhadap prinsip multikulturalisme dan pluralisme, yaitu dengan tidak menghargai keyakinan orang lain. Terbukti bahwa dialog antara budaya belum berjalan dengan amat mulus, walaupun saya tahu bahwa lebih banyak warga masyarakat dunia lainnya yang mencurahkan tenaga serta hidup mereka untuk membuka ruang-ruang dialog itu.

Pelajaran dari Denmark itulah yang harus kita petik. Jangan sampai prasangka yang tumbuh antara golongan warga masyarakat dunia “di luar sana” terjadi dan meluas “di dalam sini”, di Indonesia. Kita harus akui bahwa hubungan antar umat beragama di Indonesia tidaklah selalu berjalan dengan mulus. Kecurigaan-kecurigaan masih bermunculan di sana-sini. Masih masuk akal jika kecurigaan tersebut masih dalam ruang lingkup politik praktis atau persinggungan kepentingan, namun yang sekarang terjadi, prasangka tersebut juga mulai sampai pada kecenderungan untuk mengadili apakah keyakinan orang lain benar atau salah. Ketika kita mulai mengadili seperti itu, maka sebenarnya kita sedang melecehkan warga masyarakat lainnya yang menganut dan memelihara dengan serius sebuah nilai. Kita sedang melecehkan prinsip multikulturalisme.

Kecurigaan dan prasangka model begini sayangnya mudah muncul, karena memang dalam dunia pendidikan kita peserta didik jarang sekali diperkenalkan dengan agama-agama lain selain yang kita anut. Survei kecil-kecilan yang saya lakukan terhadap tetangga dan rekan-rekan kerja saya menunjukkan betapa rendahnya pemahaman mereka terhadap agama yang bukan agamanya. Yang tidak beragama Islam tidak tahu apa arti peringatan Isra Miraj, dan hanya tahu bahwa hari itu libur. Yang tidak beragama Kristen tidak tahu apa arti perayaan Paskah itu sebenarnya. Apalagi soal agama-agama lain yang penganutnya lebih sedikit. Sangat sedikit yang kita ketahui tentang tetangga kita, padahal pengetahuan itu diperlukan agar kita bisa hidup berdampingan dengan baik. Anda bisa melakukan survei ini kepada sekitar anda dan saya cukup yakin bahwa apa yang anda temukan juga tidak akan jauh berbeda dengan saya.

Ide beberapa pakar pendidikan dan kemasyarakatan untuk mengadakan pelajaran tentang agama-agama di sekolah atau dunia akademis tampaknya perlu mulai dipikirkan. Pelajaran tentang agama-agama bukanlah pelajaran agama, apalagi bukan pelajaran memindahkan orang yang sudah beragama ke agama lainnya. Pelajaran ini akan lebih bersifat sosiologis – antropologis dari pada soal iman, yang tujuannya membuka ruang dialog antara warga masyarakat Indonesia yang amat heterogen ini untuk mulai lebih mengenal warga masyarakat Indonesia lainnya. Dalam pelajaran ini sangatlah penting untuk dihadirkan beberapa nara sumber, yang kompeten berbicara soal agama yang diwakilinya, dan metodenya pun lebih cenderung pada diskusi dan dialog. Sebaiknya tidak perlu ada ujian akhir untuk mata pelajaran ini, karena tujuannya bukan membangun kompetensi, namun membangun pengertian.

Jika ada ketakutan bahwa pelajaran semacam ini akan membuat orang berpindah agama atau menjadi saran bagi penyebaran agama, tentu hal ini bisa dikontrol dengan berbagai cara, misalnya dalam ruang kelas, semua narasumber hendaknya hadir bersamaan sehingga tidak memberikan kesempatan bagi narasumber lainnya untuk melangkah lebih jauh dari hanya sekedar membangun pengertian. Atau jika dirasa bahwa pelajar setingkat SLTP atau SMU masih terlalu mudah digoyahkan imannya, maka bisa diberikan di tingkat perguruan tinggi sebagai mata kuliah dasar umum. Namun justru dari ruang kelas inilah kita mulai mencoba bisa saling percaya dan mengikis kecurigaan-kecurigaan kita.

Selama ini warga masyarakat justru memperoleh informasi tentang agama sesamanya melalui sumber-sumber lain yang sering tidak tepat. Melalui kabar burung, gosip, media massa yang kurang bertanggung jawab seperti sebuah media di Denmark itu atau bahkan dari selebaran kala demo berlangsung. Bahkan ada sebuah novel yang laris manis karena dianggap dapat membongkar konspirasi yang dilakukan oleh otoritas sebuah agama. Jelas belajar dari sumber-sumber yang demikian ini malah akan memicu kecurigaan antar warga masyarakat.

Diharapkan dari pelajaran tentang agama-agama ini kita akan saling lebih mengenal, sehingga mereka yang bukan beragama Islam akan mengetahui bahwa Islam adalah agama pembawa damai dan tidak menganjurkan terorisme, mereka yang bukan beragama Kristen tahu bahwa Kristen bukanlah penyembah tiga tuhan, mereka yang bukan beragama Hindu tidak menuduh bahwa agama itu menyembah patung dan seterusnya. Untuk melakukan perubahan ini diperlukan keberanian, dan setiap perubahan pasti akan mendapat hambatan-hambatannya. Hambatan besar mungkin akan datang dari golongan konservatif dari setiap agama.

2 thoughts on “Kartun Denmark dan Pelajaran tentang Agama-Agama

    • Pelajarai buku tentang agama-agama
      BHinneka Catur Sila Tunggal Ika
      Tersedia di
      Perumahan Puri BSI Permai Blok A3
      Jl. Samudera Jaya
      Kellurahan Rangkapan Jaya
      Kecamatan Pancoran Mas
      Depok 16435
      Telp. 02177884755
      HP. 085881409050

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s