Panggil Aku Luka

Panggil aku Luka
Karena telah berdarahlah aku.
Bercermin pada wajah bumi
Yang menjadi ungu karena dosa.

Panggil aku Luka
Karena putih tulangku terlihat
Menjadi tontonan anjing- anjing ngiler
Yang pernah aku pelihara.

Luka namaku
Karena sang malaikat penjaga Buku Kehidupan
Telah mengayunkan pedangnya padaku

Suatu hari, suatu saat
Aku tak punya nama
aku adalah pengikut sang binatang
yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh
yang menyapu sepertiga dari bintang- bintang di langit

Ke empat penjuru angin aku melesat
Bersama kuda dan pasukanku
Menebar segala dusta dan hujat
Berkawan dengan wabah kolera dan kusta

Hingga suatu hari, suatu saat
Berdiri merintangi jalanku
Seorang malaikat berdada emas bertangan besi
Betapa heran aku bahwa wajahnya
Adalah wajahku.

“Salam hai Luka!” katanya
“Ikutlah denganku kembali ke rahim ibumu
yang aman dan tenteram,
di mana bisa kau baringkan jiwa gelisahmu.”

“Siapa kau? Mengapa kau panggil aku Luka?
Beranjaklah dari jalanku,
karena kudaku sudah sehari puasa darah.
Jangan sampai dia minum dari darahmu!”

Namun ia tak beranjak
Dan mengulurkan tangannya kepadaku
Aku jawab ia dengan pedangku
Pedang yang berkarat karena kusta dan nanah

Ia tak menghindar
Namun patah pedangku mengenai lehernya.
Dan dengan sekali sabet,
Ia merubuhkan aku dengan pedangnya.

Lukaku menganga
Darah yang mengalir berwarna ungu kehitaman
Seiring dengan itu ia menuangkan
Secawan anggur ke lukaku.

Jiwa yang terbelah, sebagian hitam sebagian putih,
Dan warna putihnyapun makin cemerlang
Menghalau hitam yang telah menetes dari lukaku.

Jiwaku berpisah raga,
terbang menyatu awan
Ke rahim ibukulah kini aku kembali,
Aku telah luka namun jiwaku hidup kekal
Maka panggillah aku Luka.

“Kau bukan Luka, anakku.” Kata sebuah suara

Suara ibuku kah itu?

“Kini namamu telah tercantum
Di dalam buku kehidupan,
Sehingga namamu adalah Pengantin.”

Jadi, panggil aku Pengantin
Mulai saat ini namaku Pengantin.

Seorang malaikat berdada emas bertangan besi
Memberiku pelapis dada emas dan sarung tangan besi
Serta pedang yang panas bagai api
Tapi juga sejuk bagai air.
“Ikutlah aku dan pasukanku,
untuk membuat para pengikut sang binatang
berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh
menjadi pengantin seperti dirimu.”

(Jakarta 22 April 2001)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s