Teman yang Telah Lalu

Ingatkah teman, ketika kita duduk ngobrol di tikungan jalan
Orang lewat menjuluki kita pemimpi?
Ingatkah kau ketika kita mendapat wangsit
Kerabat mengatakan kita mengigau?

Pasti kau tak lupa,
betapa banyak manusia terluka yang kita lihat
dan ingin kita sentuh,
namun tangan kita hanya dua.

Dunia yang lalu lalang,
Orang-orang yang terburu memapan,
Si sisa-sisa yang terbuang,
Semuanya itu lewat di depan kita
Dan kitapun bertekad
Akan terus “bermimpi” dan “mengigau”

Di sepanjang perjalanan
Kita lihat ada kawan datang dan kawan pergi
Ada suka menyetubuhi dan duka menghampiri
Namun kita ingin tangan tetap mengepal
Walau kadang berhenti sejenak menggaruk rasa gatal

Ketika matahari menjelang redup barusan,
Aku bertanya dalam hati,
Akankah mimpi siang bolong kita akan segera berakhir?
Akankah ketika kita bangun
Hari sudah jauh gelap?

Betapa aku ingin terjadi,
Bahwa selama ini kitalah yang selalu terjaga
Dan bahwa banyak orang justru tertidur,
Namun apa yang kita jaga?
Si orang-orang terlukakah?
Atau jati diri dan cita-cita kita?

Impian adalah tenaga bagi setiap orang,
Orang yang tak punya impian adalah orang yang kering
Aku harap kita selalu bisa dan berani bermimpi,
Baik saat kita bangun maupun tertidur.
Aku harap ada wangsit tenaga
Untuk merubah mimpi jadi nyata

Dunia mesin yang mandul bermimpi,
Akan selalu berusaha merenggut impian
Namun jangan lupa akan aku, teman
Nanti kita ngobrol lagi di tikungan jalan.

Jakarta, 29 Januari 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s