Bahasa Kita

Kemarin SMS-ku dibacain di Prambors. Ceritanya si penyiar (Desta dan satu lagi –cewek, lupa namanya) mau coba-coba siaran pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hasilnya mereka jadi kaku bicaranya, seolah-olah sedang ikut ujian. Bahasanyapun tidak selalu baik dan benar, ada beberapa kata yang “over correct”, misalnya kata “seringkali” sengaja mereka benarkan menjadi “acapkali”, karena kata mereka “seringkali” bukan bahasa Indonesia yang benar.

Trus aku kirim SMS yang isinya bilang kalau siaran pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan berarti gaya bahasanya juga lantas jadi kaku. Para penyiar tetap bisa menggunakan gaya mereka yg seru tapi dengan bahasa yang baik dan benar. Bahasa dan gaya adalah dua hal yang berbeda. Tampaknya mereka setuju.

Bukan maksud hati mau cerita kalau SMS dibacain di Prambors, tapi intinya soal bahasa Indonesianya itu lho. Dan perlu diingat kalau catatan ini juga nggak pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar seluruhnya.

Bahasa Indonesia mungkin adalah salah satu bahasa yang slank-nya paling banyak. Hampir tidak pernah ada orang yang memakai bahasa indonesia yang benar dalam percakapan sehari-hari. Tiap generasi punya bahasa slanknya sendiri, mulai dari “memble loe”-“tapi kece kan?” sampai bahasa binannya Dewi Sahertian dkk (aku dulu sempet baca juga kamusnya). Kita tentu tidak merasa perlu pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena toh dengan bahasa sehari-hari kita sudah cukup mengekspresikan semua kata hati dan pikiran. Intinya, bahasa Indonesia sehari-hari adalah bahasa yang sangat ekspresif. Coba saja terjemahkan ungkapan seperti “Hare gene?!” atau “ke laut aje” ke dalam bahasa Inggris. Soal fungsi ekspresif, kita nggak perlu minder dengan bahasa pergaulan kita.

Baru kita kepentok kalau ikut ujian di sekolah atau kampus, menulis skripsi, menulis surat lamaran kerja, dan yang paling kepentok kalo kita harus menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa asing atau sebaliknya. Lho, kok bahasa Indonesia ternyata terbatas ya untuk mewakili ungkapan pikiran dan perasaan? Mulailah kita menggunakan bahasa asing yang kita bisa untuk menggantikan kata-kata yang sebenarnya sudah ada bahasa Indonesianya tapi nggak biasa kita gunakan. Alhasil, bahasa percakapan kita jadi gado-gado campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa asing (terutama bahasa inggris). “Bapak silahkan lihatlah dulu kami punya product, Jepang punya, not so expensive lho, pokoknya just try lah!”.

Kalau lawan bicaraku gaya bicaranya seperti itu, kupingku menjadi berdenging-denging. Waktu Orde Baru baru berusia bayi, gaya bicara seperti ini mulai banyak dipakai karena saat itu orang-orang yang berkuasa adalah orang-orang yang tidak punya kepribadian (karena kalau kita punya kepribadian dan sedikit menunjukkan nuansa nasionalis akan di cap sebagai anti barat yang otomatis bisa di cap sebagai komunis), yang merasa bangga kalau bisa menggunakan bahasa asing, yang dirasa derajatnya lebih tinggi dari bahasa Indonesia. Mereka bicara seperti itu supaya orang tahu bahwa pendidikan mereka tinggi atau bahwa mereka nge-trend atau pernah ke luar negeri.

Bukannya aku anti dengan orang yang pakai bahasa asing, tapi agak risih aja denger orang bicara campur-campur. Kelihatannya kok nggak punya kepribadian. Lain lagi masalahnya kalau kita bicara bahasa asing karena memang sedang mengasah ketrampilan kita, itu sih memang perlu. Jangan bilang kalau mereka yang pakai bahasa campur-campur itu sedang latihan. Menurutku mereka bukan sedang latihan, mereka sedang nggak jelas. Baiklah, mungkin ini masalah selera.

Dengan titik tolak bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, termasuk oleh pelajar dan mahasiswa, maka aku berkesimpulan bukanlah bahasa Indonesianya yang terbatas dalam mengekspresikan pikiran kita, tapi kemampuan kitalah yang terbatas untuk menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang jarang dipakai tentunya bahasa yang kurang dikuasai. Hampir setiap bahasa asing sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya, kecuali mungkin bahasa-bahasa yang menyangkut soal informasi tehnologi, yang berkembangnya juga sangat cepat. Kalau kita merasa aneh menggunakan bahasa Indonesia, sebenarnya banyak kata dalam bahasa inggris juga nggak kalah anehnya. Nggak usah jauh-jauh, lihat saja menu komputer kita, kata “cut” atau “copy” atau “bandwith” misalnya. Mungkin ketika dulu pertama kali digunakan untuk dunia komputer kedengarannya tetap aneh bagi orang yang bahasa ibunya adalah bahasa inggris. Jika kita menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, mungkin juga terasa aneh: “potong” dan “salin”.

Aku pikir ini lantas soal kebiasaan, jika kita sudah biasa menggunakan kata “salin” untuk sesuatu yang kita asosiasikan artinya dengan “menggandakan suatu obyek di layar komputer dan menyimpannya di dalam clip board” maka lama-lama istilah itu tidak akan terasa aneh lagi. Jadi ini soal kebiasaan, bukan soal ada satu bahasa yang lebih mampu mengakomodasi pikiran dibanding bahasa lainnya. Bahasa itu lahir dari akal budi kita, sehingga tidaklah pantas jika kita dibatasi oleh bahasa; jika bahasa terbatas, maka kita punya wewenang untuk memperluasnya sampai ke tingkat maksimal. Dalam bahasa inggris pun istilah-istilah baru banyak diciptakan. Masalahnya adalah para penggunanya membiasakan diri untuk menggunakannya.

Contoh bahwa kita mampu membiasakan diri dalam berbahasa adalah kalimat ini: “Mari kita mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga”. Ini bahasa yang nggak logis dan sebenarnya aneh kalau dipikir-pikir, tapi karena kita sudah begitu biasa menggunakannya, maka tampak sebagai bahasa yang “baik dan benar”.

Jadi kalau penggantian penggunaan kata “download” jadi “mengunduh” tinggal soal kebiasaan. “Unduh”, kata dasar dari “mengunduh”, diambil dari bahasa Jawa yang artinya: dipetik, diambil, dipungut, dialap, dijolok, dikait, didatangkan. Aku rasa cukup sesuai artinya dengan “download”.

Akibat lain dari tidak dibiasakannya menggunakan bahasa Indonesia yang logis adalah pikiran kita juga jadi tidak logis, atau paling tidak susah untuk menguraikan sesuatu dengan gaya yang logis. Makanya pelajar dan mahasiswa paling takut sama soal berbentuk esai, karena soal esai mengharuskan kita tidak hanya menentukan sikap kita terhadap jawaban, tapi juga membuat kita harus berpikir keras untuk mengungkapkan pikirankita dalam bentuk tulisan.

Apakah masa depan bahasa Indonesia suram? Tergantung, tapi melihat banyaknya penulis muda yang bermunculan dan semakin populernya blogging, aku sedikit optimis. Menggunakan bahasa yang baik dimulai dari membaca dan menulis, dan menulis bisa dimulai dari membuat catatan harian.

Akhir kata, aku sadar bahwa tidak semua catatan ini ditulis pakai bahasa Indonesia yang benar, namanya juga membiasakan diri. Lalu bukan berarti aku tidak setuju dengan penggunaan bahasa pergaulan, karena menurutku tidak ada yang seekspresif bahasa sehari-hari di Indonesia. Aku cuma ingin mengatakan bahwa bahasa bukan cuma masalah ekspresi, tapi juga ada logika, tranfer pengetahuan dan dokumentasi, yang semuanya itu menentukan apakah kita mau jadi bangsa yang “begini-begini” saja atau mau lebih maju lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s