Telanjang

Aku berjalan selama beberapa saat menyusuri Jl. Siaga II sebelum akhirnya menyadari bahwa di depanku berjalan seorang ibu bertelanjang bulat. Dari belakang yang kelihatan hanyalah pantat dan perutnya yang gemuk. Waktu aku melewatinya, aku hanya melirik mukanya, tidak berani melihat badannya, tampaknya umurnya sekitar akhir 30-an atau awal 40-an. Orang-orang yang lalu lalang di jalan itu tentunya mendapat tontonan aneh. Pasti mereka pikir ibu ini orang gila. Namun jalannya cukup tegap dan pasti, tidak mengambang seperti yang biasa terjadi pada orang yang terganggu pikirannya.

Ndak tau kenapa punggungku yang sekarang membelakanginya terasa dingin. Bukan karena takut dikejar, namun karena ada sebaris kalimat yang tiba-tiba muncul di kepalaku: “Ketika aku lapar, kamu tidak memberi aku makan. Ketika aku telanjang, kamu tidak memberi aku pakaian. Ketika aku telanjang, ketika aku telanjang”.

Resah benar rasanya ketika kalimat itu semakin menguing-nguing dalam kepala seiring langkahku yang menjauh. Kebetulan tidak jauh ada sebuah musholla, dan di depannya sedang berjaga seorang penerima zakat. Aku hampiri orang itu dan bertanya kalau-kalau ia menyimpan baju bekas.

“Untuk ibu-ibu yang telanjang di situ mas” kataku.
“Orang gila ya?”
“Wah nggak tau deh gila apa nggak, mungkin juga gelandangan”

Nggak tau kenapa, orang-orang kalau melihat orang telanjang dan kumal di jalan langsung mengira kalau orang itu gila. Padahal belum tentu.

Si mas itu ternyata tidak punya baju, namun segera ia berteriak ke tetangganya. Tak lama tetangganya itu keluar membawa sebuah daster bekas. Aku dan mas itu segera mendatangi si ibu itu.

“Bu, ini ada daster, ayo dipakai dulu”. Sementara itu seorang pekerja rumah tangga ternyata juga punya inisiatif yang sama. Jadinya ia akan memperoleh dua buah baju. Tapi tidak disangka ibu itu menolak baju-baju yang kami sodorkan. “Nggak” katanya.“Lho, ini untuk ibu, pakai saja” “Nggak mau, saya carinya uang!”“Lho kenapa ibu nggak mau pakai baju?” Kata mas penjaga zakat“Panas!”(Wah jangan-jangan memang orang gila. Tapi sorot matanya tidak seperti orang gila)“Punya duit 40 rebu nggak? Buat pulang nih!” tanya si ibu.“Iya, nanti saya kasih uang, tapi pakai dulu bajunya bu” kataku“Nggak mau!”“Ini baju udah di doa’in lho bu, nanti kalau pakai ini rejekinya lancar” kataku bodoh.“Iya bu, udah di doa’in nih!” kata si mas ikutan bodoh.“Nggak percaya sama doa-doa!” katanya sambil mengibaskan tangan.“Ya udah bu, ini duit sekedarnya, tapi habis itu pakai baju ya!”

Dia melihat uang yang kuberi jauh dibawah “40 rebu” (malu aku menyebutnya) kontan dia menolak. Dengan langkah pastinya dia berjalan menjauh. Satpam di rukan terdekat serta beberapa supir mencoba membantu, ada yang pakai bahasa jawa segala. Ternyata nggak ‘ngaruh. Si ibu tetap menolak upaya pemberadaban kita dan bertahan pada ketelanjangannya.

Aku berlalu pergi sambil merasa seperti lambungku sedang mengolah sebuah sendal jepit. Sesuatu yang tidak bisa kucerna.Pertama tentu ada umpatan menyalahkan diri; “Kenapa tidak kukasih saja duit ’40 rebu’ yang dia minta?” Kedua ada kecurigaan bahwa ibu itu memang gila, atau kalaupun tidak gila, ia telanjang untuk mencari perhatian, sehingga siapa tau ada orang yang mau memberinya uang ’40 rebu’.Ketiga, sendal jepit dalam lambung.

Lebih mudah memang mengambil kesimpulan nomor dua dan menganggap kejadian itu sebagai suatu dinamika
kota besar.Tapi ada sesuatu di balik itu.Ketika ada anggota masyarakat di tengah kita yang telanjang, kita harus menggugat diri kita sendiri, karena seperti kata Gandhi, kemiskinan ada karena keserakahan. 

Aku teringat cerita tentang perampasan tanah di suatu tempat. Ketika para penggusur sudah bersiap melakukan eksekusi atas tanah itu, para warga laki-laki tampaknya sudah tidak berdaya. Majulah para perempuan-perempuannya dan sambil menangis mereka membuka baju mereka. Telanjang! Hasilnya, para petugas tidak tahu apa yang harus diperbuat dan akhirnya menunda perampasan tanah itu (walau akhirnya toh tanah itu dirampas juga). 

Ketika ada anggota masyarakat kita yang harus telanjang, maka ada pertanyaan yang harus dijawab: apa sebenarnya makna sebuah ketelanjangan?

Mengapa para perempuan di tempat yang akan dirampas tanahnya itu melakukan aksi buka baju, aku tidak tahu. Pernah ada yang memberikan analisa mengenai hal itu, tapi aku lupa penjelasannya. Yang jelas perempuan memang sering menjadi benteng terakhir (dan juga pertama) penjaga kehidupan. Mungkin ketelanjangan mereka menunjukkan bahwa tidak ada lagi yang lebih berharga, pun tidak “martabat”, bagi mereka selain melihat bahwa kehidupan di tempat itu terjaga dan berjalan sebagaimana normalnya.

Kaum nudis merayakan ketelanjangan dengan memberi makna bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau disembunyikan antara sesama manusia. Mungkin sama dengan situasi taman zaitun ketika masih dihuni oleh Adam dan Hawa yang telanjang. Ketika itu mereka tidak memiliki kekhawatiran akan segala sesuatu. Hidup berkecukupan, tidak mengenal dosa, tidak perlu menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Tidak akan ada yang menilai mereka gendut, kurus, atau baik dan buruk. Mungkin juga karena mereka belum mengenal mana yang baik dan yang buruk, karena itu tak perlu ada yang ditutupi. Kita semua juga pernah ada dalam situasi seperti itu. Tentunya waktu kita masih bayi.Tidak mudah untuk bertelanjang ria di depan umum atau dalam komunitas terbatas sekalipun. Pertama-tama kita harus bisa menerima diri kita sendiri, termasuk menerima bahwa apa yang sering disebut sebagai “kemaluan” sebenarnya tidak memalukan, karena bagaimanapun juga itu adalah bagian dari diri kita. Kedua, kita juga harus bisa menerima orang lain, melihat ketelanjangan mereka tanpa menilai baik atau buruknya.

Gelandangan atau “orang gila” telanjang karena mungkin mereka tidak punya baju. Baju mereka yang melekat di badan mungkin sudah demikian rusaknya sehingga kalaupun dipakai akan menyebabkan gatal, sehingga lebih baik tidak dipakai, dan juga memang sudah tidak bisa dipakai lagi. Mereka tidak punya pilihan, padahal belum tentu mereka memiliki kondisi mental siap telanjang seperti kaum nudis. Kita sebagai anggota masyarakat ikut ditelanjangi, bahwa betapa tidak pedulinya kita pada nasib orang lain, tidak peduli pada tatanan sosial yang memunculkan ketidakadilan sosial yang akhirnya menyebabkan sekelompok dari kita harus telanjang. Ketika kita merasa tidak berkenan melihat seseorang telanjang berkeliaran di jalan, maka sebenarnya kita sedang tidak berkenan terhadap tatanan sosial kita. Dan jika lantas kita mencap orang yang telanjang itu sebagai gila, maka menurutku itu adalah pemikiran pintas dalam menjelaskan suatu fenomena. Orang tidak berdaya untuk mencerna kenapa sampai ada orang yang telanjang, pakaian dilekatkan sebagai satu-satunya simbol martabat, sehingga ketika ada orang yang tidak menjaga martabat itu dia pasti gila, bukan miskin, apalagi bukan karena ketidakadilan sosial.

Padahal, seringkali orang yang gila adalah mereka yang membalut tubuh mereka dengan pakaian berlapis-lapis. Lapis pakaian dari kain dan benang serta lapis pakaian harga diri, status, kedudukan dan kekuasaan. Setelah mereka membalut tubuh mereka dengan lapis-lapis martabat itu, lantas mereka menelanjanginya sendiri dengan kelakuan mereka yang korup, jahat dan sadis.Mereka yang terpaksa telanjang dan mereka yang menelanjangi dirinya sendiri, adalah dua macam ketelanjangan. 

Hilangnya hak seseorang adalah juga kehilangan bagi semua – William Reece Smith, Jr

 

5 thoughts on “Telanjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s