Di Balik Lembur

Sering kita kerja lembur, terkadang karena pekerjaan memang banyak, kadang karena siangnya kita bekerja kurang efektif sehingga waktu jam kerja selesai kerjaan kita belum selesai. Buat yang masih jomblo mungkin lembur bisa berfungsi sebagai pengisi waktu after office, daripada bengong di rumah lebih baik ketemu teman-teman kantor dalam suasana yang lebih informal. Jika sekali-kali kita lembur, itu adalah hal yang normal banget. Tapi kalau sudah setiap hari lembur, mungkin kita perlu berpikir lebih jauh.

Pertama yang harus kita pikirkan apakah betul pekerjaan kita sebanyak itu? Atau lebih tepatnya; apakah beban kerja kita berada pada porsi yang wajar? Jangan-jangan kita sering lembur karena beban kerja kita seharusnya didistribusikan kepada orang lain, artinya, harus ada lebih dari satu orang yang mengerjakan hal tersebut. Mungkin kita juga sering menunda pekerjaan padahal beban masuk datang secara kontinyu. Atau jangan-jangan kita lembur supaya bisa dapat uang lembur?

Sudah menjadi salah kaprah bahwa loyalitas pekerja antara lain ditunjukkan dengan lembur. Kalau prinsip ini muncul di kalangan pegawai korporasi tentu masih bisa dimaklumi, tapi ternyata di kalangan pekerja sosial (LSM) ada juga prinsip demikian. Kalau nggak lembur nggak militan. Padahal kebanyakan orang lembur karena pada waktu bekerja tidak efektif, entah karena datang siang, entah karena chatting, telpon, ngobrol waktu kerja.

Kalau boleh diulang, sebab-sebab lembur antara lain adalah:

1. Kurang efektif waktu bekerja, termasuk sering menunda pekerjaan.
2. Perencanaan yang kurang matang:
1. bingung apa yang akan dikerjakan (sehingga trial and error),
2. bertindak secara impulsif
3. kurang mengantisipasi persoalan yang bisa muncul
4. kurang koordinasi, sehingga nggak sinkron dengan rekan kerja satu tim
5. tenaga kerja kurang atau beban kerja berlebihan (tugas untuk dua orang atau lebih dikerjakan oleh satu orang)
3. Improvisasi yang berlebihan, baik dari diri sendiri maupun dari atasan.
4. Tidak menerapkan knowledge management (lihat bawah)
5. Budaya lingkungan kerja yang “memuja” lembur.
6. Perusahaan yang mengeksploitasi karyawan.
7. Faktor-faktor lain: mengejar uang lembur, mengejar penghargaan dari atasan, alasan sosial/bergaul dengan teman selingkungan kerja, mencari pengisi waktu, browsing internet untuk keperluan pribadi dll/ memakai resource kantor untuk kepentingan pribadi atau sembari menunggu jalan agak lengang atau sekedar dianggap sibuk danberhasil oleh keluarga, tetangga atau teman (ada juga lho yang seperti ini).

Kita juga mesti lebih kritis melihat persoalan lembur ini dari sisi perusahaan. Sering perusahaan tidak memiliki karyawan yang cukup, sementara target-target pekerjaannya berlebihan. Ini praktek yang sering terjadi untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan. Seharusnya perusahaan punya perhitungan tentang beban kerja dan tenaga kerja yang biasa disebut dengan man hour. Artinya setiap pekerjaan/proyek tertentu akan dijabarkan dalam sub-sub pekerjaan, lalu akan dihitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap sub pekerjaan. Dari situ akan dapat total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Misalnya untuk menyelenggarakan acara peluncuran buku dibutuhkan 100 man hours alias 100 jam kerja, jika peluncuran buku tersebut dilaksanakan dalam waktu seminggu kemudian, bisa dihitung berapa tenaga kerja yang dibutuhkan:

100:8:5= 2,5 à dibulatkan ke atas menjadi 3, artinya dibutuhkan tenaga kerja sebanyak 3 orang. Angka 8 maksudnya waktu kerja per hari yang 8 jam dan angka 5 maksudnya 5 hari dalam seminggu. Sekarang tinggal kemauan manajer untuk menghitung dengan rinci man-hours yang dibutuhkan, dan tergantung kemauan perusahaan apakah mau mengeluarkan uangnya untuk membayar 3 orang tenaga kerja untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Ini cara perhitungan paling sederhana.

Seharusnya dengan bantuan perhitungan man hour di atas, lembur tidak perlu terjadi. Lembur hanya perlu terjadi jika:

1. Ada masalah yang timbul di luar perencanaan yang terjadi.
2. Pekerja mengganti waktu bekerjanya yang tidak ia jalani karena ijin atau sakit yang berdampak pada belum tercapainya target yang sudah direncanakan. Menurut saya seandainya si pekerja dapat memenuhi targetnya walaupun ijin atau sakit, tentu penggantian tersebut tidak diperlukan.
3. Ada pekerjaan yang betul-betul belum pernah dilakukan sehingga pekerja harus memulai semuanya dari awal, dimana pekerjaan semacam ini memerlukan banyak trial and error, improvisasi serta pekerjaan sampingan lainnya.
4. Ada kegiatan kantor yang hanya bisa dilakukan di luar waktu kerja (launching produk perusahaan waktu dinner misalnya).

Ilmu manajemen modern memberikan banyak solusi untuk bekerja seefektif mungkin, antara lain dengan konsep knowledge management (KM), diIndonesiakan menjadi manajemen pengetahuan. Konsep ini membantu sebuah organisasi untuk bisa mencapai target secara maksimal dengan upaya seefektif mungkin. Secara sederhana KM bisa diurakan menjadi kegiatan mencatat, menyimpan, mendistribusikan serta menerima dan mengolah umpan balik dari catatan yang didistribusikan tersebut.

Apa yang dicatat? Apapun yang terkait dengan pekerjaan; lesson learned, hambatan apa saja yang ditemukan, metode yang terbukti baik dan berhasil dalam melaksanakan suatu pekerjaan, dan segala catatan lainnya yang dapat membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Catatan-catatan dan analisa tersebut harus didistribusikan ke seluruh organisasi. Kaitannya dengan lembur jelas, jika selama ini karyawan dalam melaksanakan pekerjaan sering re-inventing the wheel (mencari metode untuk mengerjakan sesuatu dari awal, padahal metode tersebut sudah pernah dipraktekkan rekan kerjanya) karena tidak adanya pencatatan yang baik. Tentu pekerjaan semacam ini membuang-buang energi dan waktu. Salah satu inti dari kegiatan KM adalah memindahkan pengetahuan personal menjadi pengetahuan bersama, sehingga jika ada salah seorang staf telah berhasil menemukan cara yang terbaik untuk melakukan st pekerjaan, maka baiklah jika hal tersebut diberitahukan juga kepada yang lain.

Delapan jam kerja yang berlaku saat ini adalah hasil perjuangan kaum buruh. Dulu buruh sering dipaksa bekerja hingga lebih dari 12 jam lamanya. Praktis buruh tidak memiliki waktu untuk kehidupan pribadinya. Mereka menjadi mesin produksi bagi para pemilik kapital saat itu. Selanjutnya gerakan buruh berhasil mendesakkan jumlah jam kerja yang lebih manusiawi, yaitu 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Jadi inti dari perjuangan kaum buruh adalah agar mereka dapat menikmati kehidupan pribadi (berkeluarga, mengurus anak/pasangan hidup, punya waktu untuk hobi), meningkatkan kualitas hidup (kesehatan, kebahagiaan) dan tidak sekedar menjadi mesin produksi.

Negara yang menerapkan sistem kesejahteraan telah melangkah cukup jauh dalam hal memberikan ruang bagi para karyawannya untuk “bernafas”:

1. Selain libur pada hari sabtu-minggu, kantor juga ditutup setengah hari pada hari Jumat.
2. Tidak membuka toko-toko pada hari Minggu, memberikan kesempatan karyawannya untuk berlibur/bertemu keluarga mereka yang juga libur pada hari itu.
3. Memberikan cuti hamil selama 6 bulan, bahkan setahun.

Karena itu praktek lembur yang berlebihan haruslah ditolak. Ia bukan indikator dari kesetiaan karyawan, namun sering menjadi indikator dari eksploitasi.

3 thoughts on “Di Balik Lembur

  1. Alimah berkata:

    informasi menarik dan penting, terutama aku yang everyday mau tidak mau harus lembur, karena memang kerja jurnalist sulit untuk diatur-atur sesuai jam kerja. tapi fakta kurang mengefektifkan waktu itu memang benar adanya. tapi bagi saya facebook, milis, ngimel, neg-blog, dan sejenisnya menjadi bagian dari kerja itu sendiri, so bisa bersosialisasi di tengah penat adalah anugerah. he….he…semoga tidak terkesan membela diri, karena memang selain reporting, juga ngurus2 updating dunia maya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s