Film Festival

Tampaknya ada pandangan kalau film festival dianggap lebih bermutu daripada film “biasa”. Film biasa maksudnya film-film yang biasa diputar di bioskop, sifatnya musiman, biasanya dibuat oleh Hollywood, Bollywood atau oleh orang Indonesia sendiri. Film-film biasa sepertinya mengacu ke film-film populer, temanya ringan, yang dipilih oleh pengusaha bioskop untuk diputar karena dianggap bakal laku, biasanya berjenis action, horor, komedi slapstik atau drama percintaan. Sedangkan film festival mungkin bisa kita artikan secara ringan sebagai film-film yang jarang dipilih untuk diputar di bioskop, karena dianggap calon penontonnya sedikit, butuh mikir sedikit untuk mengerti jalan ceritanya dan jenisnya drama kehidupan, thriller atau komedi (yang butuh mikir dikit baru bisa ketawa).

Pada awalnya kehadiran film festival cukup menyegarkan, karena film-film biasa/populer sering menampilkan imajinasi atau gaya hidup berlebihan yang sebetulnya tidak masuk ke dalam hidup sehari-hari. Cerita-cerita yang ditampilkan dalam film-film festival dianggap dapat mencerminkan kehidupan manusia yang lebih nyata. Karena dekatnya dengan kehidupan nyata, maka film festival dapat membantu kita untuk melakukan refleksi, mengerti problem-problem sosial di sekitar kita yang sering disembunyikan oleh film-film biasa. Pokoknya dalem deh🙂. Kadang-kadang film festival juga menampilkan pendekatan sinematografi yang berbeda, yang eksperimental. Film-film dokumenter sekarang juga mulai banyak yang diputar dalam sebuah festival film.

 

Ada beberapa catatan ringan soal film-film festival. Pertama, saat ini film-film festival jadi lebih mudah diakses oleh masyarakat Indonesia (eh, maksudnya Jakarta), karena banyaknya festival-festival film yang diselenggarakan di Jakarta. Ada Jiffest, ada Q Film Festival dll. Namun festival-festival ini masih menjadi tontonan elit, bukan soal harga tiketnya, namun lebih pada akses yang lebih mudah dan biasa dijangkau oleh menengah ke atas. Jiffest misalnya, sebagian filmnya memang gratis, namun sistem pembelian tiketnya agak-agak ribet, apalagi buat orang yang biasa antri di bioskop, selain itu ia diputar di tempat-tempat yang lumayan berkelas.

 

Kedua, di luar festival film, cukup sulit menemukan film-film festival. Ada satu tempat penyewaan film festival yaitu Indies Jakarta di Tebet. Tapi harganya itu lho, membershipnya sekitar Rp 80.000 – 120.000 per bulan. Kok sama dengan harga beli satu kaset DVD asli ya? Memang sih, dengan harga sekian tidak dibatasi kalau pelanggan mau bolak-balik meminjam DVD dalam satu bulan (oh ya, dalam satu kali peminjaman dibatasi jumlah yang bisa dibawa pulang, jadi tidak bisa meminjam banyak-banyak) , tapi berapa banyak sih waktu yang dimiliki orang Jakarta untuk bisa bolak-balik ke Tebet untuk meminjam film? Alternatif untuk memperoleh film-film festival murah dan mudah adalah DVD bajakan, kalau kita jeli mencari, kadang-kadang kita bisa nemu satu-dua film festival. Namun cara ini tidak disarankan ya, karena bagaimanapun juga itu bajakan.

 

Ketiga saya lihat di katalog Jiffest tahun ini kok ada film-film seperti Pocong, Kuntilanak, Hantu Jeruk Purut dan sejenisnya ya? Apakah film-film ini termasuk film festival? Memang sih belum ada kriteria jelas apa film festival itu, sehingga sah-sah saja film-film horor seperti itu diputar di Jiffest. Hanya saja bukankah film-film seperti itu sudah mendapatkan kesempatannya diputar di bioskop-bioskop regular? Tidakkah Jiffest memberikan kesempatan kepada film-film yang tidak mendapatkan tempat di bioskop karena dianggap tidak laku? Atau jangan-jangan film Indonesia di luar genre bioskop tidak banyak diproduksi? Atau ini sebuah strategi untuk menarik minat masyarakat yang lebih luas?

 

Terakhir, saya secara sadar memang menyetujui pembagian istilah antara “film festival” dengan “film bioskop” walau pembagian ini masih bermasalah, namun perlu juga karena saya melihat perlunya ada tontonan alternatif buat kita, tontonan yang lebih bermutu, mendidik dan reflektif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s