Lucunya Orang Beragama di Indonesia – Kasus Sinetron “Sebuah Penantian”

Harus kita akui bahwa banyak film layar lebar maupun televisi yang mampu menggugah pemirsanya. Menggugah dalam arti sederhana seperti terharu, gembira, optimis, sampai menggugah dalam arti yang lebih kuat lagi seperti memotivasi atau merubah sikap dan perilaku.

Sejumlah besar orang percaya bahwa Sinetron “Sebuah Penantian” adalah salah satu film televisi yang akan mampu memberikan perubahan besar pada penontonnya. Sinetron ini dimaksudkan sebagai sinetron rohani untuk orang Kristen, namun ternyata ia juga mendapat perhatian dari orang Islam.

Sebagian (ingat, saya memakai kata sebagian di sini) orang Kristen percaya bahwa sinetron tersebut dapat menggugah orang yang menontonnya, syukur-syukur bisa membantu pemirsa menerima warta gembira yang dibawa oleh agama Kristen. Teman saya mengirimkan SMS berbunyi:

“Tolong forward sebanyak mungkin. Pemutaran film rohani “SEBUAH PENANTIAN” 15 Desember 16.30-17.30 WIB di RCTI Film oleh Billy Graham Ministry. Film pernah diputar di India & hasilnya sudah menggugah jutaan jiwa untuk terima Tuhan Yesus..Pray for this..Karna film yang diputar tidak diklankan -GBU-“

Sebelum SMS ini saya sudah melihat sejumlah email beredar di beberapa mailing list yang bunyinya serupa. Mereka yang menulis, mem-forward email dan SMS ini tentu percaya bahwa sebuah sinetron dapat mengubah iman jutaan orang dalam durasi kurang dari 1 jam (karena diselingi iklan). Saya sendiri tidak tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan angka “jutaan” tersebut. Apakah memang ada survei yang dilakukan setelah film tersebut diputar di India, dan secara stastistik angka orang yang pindah ke agama Kristen naik secara tiba-tiba pada waktu yang sama. Jikapun memang ada penambahan besar-besaran seperti itu, apakah memang betul itu diakibatkan oleh film tersebut? Sulit untuk menjawabnya, kecuali di pesawat televisi orang-orang dipasangi alat sensor agama seperti alat yang mampu mengukur rating acara televisi.

Bagaimana dengan sikap dari orang Islam? Sebagian (ingat, saya memakai kata sebagian di sini) orang Islam ternyata juga percaya bahwa sinetron tersebut mungkin saja dapat membuat orang yang beriman dapat tiba-tiba pindah agama hanya dalam waktu kurang dari 1 jam. Rupanya email yang di forward teman-teman Kristen terbaca oleh teman-teman Islam dan kemudian menimbulkan semacam ketakutan. Salah satu email yang disebarluaskan oleh teman-teman Islam berbunyi:

“Assalamu alaikum wrwb.

WASPADAI !!! Misi gereja di TV pada tanggal 15 Desember 2007, jam 16.30-17.30 serentak di RCTI, TRANS TV, TVRI. Judul : “My Hope Indonesia”
diganti menjadi “Sebuah Penantian”. Di India pernah diputar dengan judul yang sama & berhasil menghipnotis jutaan penduduknya.

Berikut ada bocoran mengenai misi dari Gereja yang akan ditayangkan di TV tanggal 15 Desember 2007, eleiminir keluarga kita khususnya anak2 agar terjaga dari tontonan dimaksud. QS. At Tahrim (66) : 6.

Kirim complain ke http://www.kpi. <http://www.kpi.go.id/&gt; go.id/ bahwa umat islam keberatan dan menolak keras atas akan ditayangkannya acara pemurtadan masal ini di seluruh statiun TV!!! Dan meminta untuk dibatalkan penayangannya.

Atau bagi yang tetap penasaran menonton, sebaiknya jangan lepas dari wudhu selama menonton film ini agar terhindar dari ‘Kuasa Gelap’ dan dilindungi oleh Allah SWT”,

Sinetron ini ternyata dianggap bagian dari pemurtadan massal. Selain karena diputar di televisi, sinetron ini digambarkan disertai dengan mantra-mantra ajaib yang dapat menyulap pemirsanya menjadi lupa diri dan pindah agama. Sungguh-sungguh ajaib! Saya sering makan mie instan, tapi baru kali ini dengar ada metode pemindahan agama yang juga sangat instan. Namun sejumlah orang percaya pada hal ini, mengingat bahwa email-email peringatan ini di forward ke banyak orang. Bahkan teman saya yang lulusan segar dari sebuah jurusan Filsafat universitas negeri terkemuka juga percaya bahwa ada semacam magic yang menyertai acara-acara kerohanian Kristen di televisi. Teman saya itu lupa bahwa acara Mimbar Agama di televisi itu pastinya berisi syiar agama, entah itu agama Islam, Kristen, Hindu atau Budha, yang ditujukan untuk para pemeluk agama itu sendiri. Semua agama dapat porsi dan kesempatannya untuk tampil di televisi.

Saya sendiri karena penasaran menanti dan akhirnya melihat sinetron tersebut. Ia bercerita soal pengampunan, tema standar film-film Kristen. Seorang Ayah diceritakan pergi bersama perempuan lain, dan meninggalkan istrinya, seorang anak laki dan seorang anak perempuan. Peristiwa itu begitu membekas di hati sang anak laki. Bertahun-tahun kemudian si anak perempuan menemukan ayahnya sendiri, miskin dan sakit-sakitan. Ia bermaksud untuk mempersatukan keluarganya kembali dengan mengajak ayahnya kembali ke rumah. Ibunya juga sudah setuju dan memaafkan segala perbuatan suaminya itu. Tinggal si anak sulung laki-laki yang tidak bisa mengampuni ayahnya. Ia tidak mau menerima ayahnya kembali, apalagi selama ini ia yang harus menghidupi keluarganya karena ketiadaan seorang ayah. Dan ketika adik perempuannya serta ibunya nekat membawa kembali sang ayah, ia memilih untuk keluar rumah. Begitu bencinya ia pada ayahnya itu, si sulung terpaksa memberitahu ke adik perempuannya bahwa ia tidak bisa menghadiri pernikahan adiknya itu, karena di pesta pernikahan itu pasti akan ada ayahnya. Akhirnya happy ending, si sulung datang ke pernikahan adiknya dan saling memaafkan dengan ayahnya dan they live happily ever after.

Memang ceritanya menurut saya cukup menyentuh, namun jauh dari yang dipromosikan melalui SMS dan email. Jalan cerita semacam itu sudah diceritakan berulang kali dalam sinetron-sinetron dan film, apalagi film-film rohani Kristen. Singkat kata, sinetron ini tidak mempunyai daya bius yang diharapkan atau ditakuti oleh sebagian orang. Tentu ini pendapat subyektif dan tergantung selera masing-masing. Namun jika “selera” saya masih bisa berperan, tentu ini menandakan bahwa tidak ada unsur gaib dalam sinetron ini. Karena jika memang sinetron ini pakai magic, maka yang namanya “selera” itu sudah tidak berfungsi, seharusnya saya terbius begitu saja. Pekerja rumah tangga saya yang ikut menonton bahkan tidak mengikuti sampai habis, ia lebih tertarik menyapu jalan di depan rumah sembari ngobrol bareng tetangga (karena sinetron ini diputar sore hari). Sejauh ini belum saya dengar tentang orang yang pindah agama karena sinetron ini.

Kita bisa melihat bahwa terkadang (padahal sering) orang beragama bisa menjadi sangat lucu, padahal tampilan yang mereka tunjukkan sangat serius, bahkan tegang. Dibalik kelucuan itu ada masalah kronis yang hinggap dalam hubungan antar agama di Indonesia. Ada kecurigaan, bahwa agama lain senantiasa menjadi ancaman bagi agamanya. Ada harapan kekanak-kanakan bahwa agamanyalah yang paling benar-yang lainnya salah sehingga perlu didoakan agar “bertobat”. Ada juga kemasabodohan, tidak mau mencoba mengenal agama tetangganya, sehingga lebih mudah menunjukkan sikap curiga dan bermusuhan.

Di tengah sikap kenakan-kanakan ini bukan tidak mungkin para politisi nebeng bermain, menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan pembelaannya terhadap umatnya. Yah siapa tahu bisa dapat “trade mark” menjadi pembela umat terdepan sehingga ketika pemilu nanti bisa menambah jatah coblosan.

Di tengah sikap ajaib ini pemerintah tidak berbuat sesuatu yang berarti, sering ia malah salah tingkah dan akhirnya memenangkan suara yang terbanyak, mungkin karena suara terbanyak itu diartikan sebagai suara terbanyak dalam pemilu.

Agama yang seharusnya mencerahkan justru menjadikan orang picik, sempit, curiga, percaya mistik dan… lucu. Ayo, jika anda merasa sebagai orang beragama, mari kita tampilkan agama kita dengan tampilan yang luwes, welas asih, plural namun isinya serius. Bukan dengan tampilan yang serius, kaku namun isinya lucu.

18 thoughts on “Lucunya Orang Beragama di Indonesia – Kasus Sinetron “Sebuah Penantian”

  1. Daniel Zacharias berkata:

    Memang benar, saya setuju banget, kita masih jauh ketinggalan, lebih mementingkan religiositas ketimbang spiritualitas.

    DZ

  2. RIO Manaloe berkata:

    Ciri-ciri bangsa yang terkutuk, Negara ini akan makin hancur, karena terlalu membanggakan Agama, Tapi nggak mengerti arti nya. Kebanyakan hanya omong Kosong, dan ini bukti yang paling nyata. Saya yakin sampai kapanpun Negara ini tidak akan bangkit kalau “agama” selalu dikait-kaitkan. God Bless us…

  3. yolanda berkata:

    mas quin,
    bagi saya agama adalah jodoh
    dan tidak abadi
    sedangkan iman adalah misteri
    punya nilai keabadian

    jadi apapun agama kita
    kalo kita percaya Tuhan itu ada dan ‘memilihkan’ agama buat kita masing-masing
    tentunya Tuhan menentukan sesuai dengan kapasitas kita masing-masing

    iman yang bersifat abadi dan universal
    menyatukan kita – siapapun jodoh kita –

  4. @ Pak Daniel dan Pak Rio, anda benar, inilah saatnya kita meninggalkan religiositas sempit yang mirip jangkar kapal yang menahan negara kita untuk melaju. Salam kenal.
    @ Mas Hatim, salam kenal juga
    @ mbak Yolanda, puitis banget komentarnya, cieee…

  5. trespasser berkata:

    bnar! gw biarpun bukan ‘pemeluk agama terbesar di indonesia’ fine2 aja dgn pluralitas agama. gw malah suka ama sinetron “Para Pencari Tuhan” yg dikhususkan buat islam.

    pesan buat fron2 tertentu:
    sadar oi! dunia bukan buat kalian doank!

    bukannya bnyk agama=bnyk hari besar= bnyk libur?

  6. duh, smakin lama gw bingung ma konsep orang beragama..mo maen saing2an banyakan pengikut apa..apa sih??!
    jujur, ketika konsep beragama udah masuk ke lingkup begini, gw ga lain cuman ngurut dada dan berucap lirih..”emang buat apa sih orang beragama?” buat kepuasan batin bukaaan??!
    duh, ga usah diajak ribet deh, scr kalo lo masih yakin ma agama lo..mo lo digodain seribu juta setan juga lo bisa kuat2 aja..ya kalo lo gara2 liat acara itu trus pindah agama..yoweis, brarti dah dapet pencerahan gr2 film itu…
    cuman saran gw: pencerahan itu mesti diperoleh dengan kondisi pikiran yang memang benar2 siap dan rasional..dan kondisi iman yang siap untuk digempur..*halah*
    maksudnya: iman kita tak akan goyah hny dgn sbuah film kl kita yakin seutuhnya ma konsep ketuhanan yg kita miliki..
    so..just let it flow..^__^

  7. well, saya setuju agama harus membuat kita tercerahkan…namun seringkali secara manusiawi setiap orang berusaha menjadikan apa yang ada dalam dirinya terlihat unggul dari kualitas yang tidak dimilikinya…..

  8. Tara berkata:

    dalam al Quran dikatakan,
    Lakum dinukum, waliyadiin
    yg artinya adalah
    Bagimu agama mu, bagiku agamaku
    Islam adalah agama yg mensupport toleransi

  9. [_]:-|…

    hm…, memang kalau ada orang sampai ngirim sms, email atau bentuk bentuk selebaran yang mendeskreditkan sesuatu kepada orang lain yang tidak memandang siapa orang itu maka seharusnya kita tidak perlu terlalu percayalah, pasti kerjaan orang iseng yang tidak bertanggungjawab sehingga rasanya tulisan inipun tidak perlulah terbit …[_]:-|…

    Kalau kita mau adil dan lebih sedikit universal lagi…maka sadarilah di dunia ini tidak hanya ada orang baik saja tapi dihuni oleh jutaan manusia dengan berbagai latar belakang yang sangat berbeda-beda. termasuk di indonesia.

    Keyakinan saya ini pasti tidak ada orang yang menyangkalnya bahwa di setiap bangsa di dunia ini pasti ada kebaikan pasti ada keburukan. bukan di Indoensia saja. bukan di Islam saja atau kristen saja.

    Kata kuncinya adalah manusianya…oknumnya…

    Coba anda bayangkan karena tulisan anda ini ada yang koment (asukowe)”…saya malu dengan kelakuan saudara saya..”. kalau kita mau jujur dan sedikit mengadopsi rasa emosi maka anda bisa dikatakan sudah berhasil memprovokasi seperti sms atau email tadi. apa bedanya…

    Kenapa bisa demikian, karena tanpa berfikir lagi asokowe ini merasa yang nulis sms itu adalah saudaranya sesama ISLAM karena anda langsung menulis “teman-teman islam berbunyi :…” padahal belum tentukan?

    trus kalau Islam mau lebih memelihara emosinya lebih banyak lagi ketimbang sabarnya maka tulisan anda ini sangat menyakitkan….

    mari kita ulas :
    perhatikan paragraf terakhir…kata “Agama seharusnya mencerahkan justru menjadikan …” di awal kalimat refers to ke agama siapa?.jawabannya pasti agama oknum yang forward email itu kan….

    trus agama yang salamnya …”assalaamu ‘alaikum wrwb” dalam email itu agama apa? islam kan…

    [_]:-| hm…bagaiamana?

    • Budiarna berkata:

      Buat aditya jason, saya rasa jelas sekali penulisnya mengkritik perilaku oknum-oknum dari kedua agama, dalam hal ini islam dan kristen. Dalam tulisan itu kan dikutib bukan hanya ”assalaamu‘alaikum wrwb” tapi juga “Pray for this GBU-“.

      Introspeksi sajalah buat semua orang, tidak perlu terlalu sensitif.

      • @Budiarna :terima kasih atas atensinya…

        kalau saya boleh koreksi kalimat paragraf terakhir itu kalau tidak mau menyinggung manusia sensitif seharusnya redaksinya tidaklah demikian, mungkin bisa ditukar seperti ini :

        “Agama adalah sarana penncerahan bagi orang-orang picik, sempit, curiga, percaya mistik dan… lucu. Ayo, jika anda merasa sebagai orang picik, sempit, curiga dsb, mari kita jalankan agama kita secara baik dan serius(sungguh-sungguh). Bukan dengan tampilan yang luwes, lentur namun ngawur aplikasinya.

        bagaimana ? [_]:-)

  10. Bung adityajason: memang seperti itulah redaksi yang saya buat, dan itu saya tujukan untuk semua saja orang beragama yang berpikiran sempit. Nah kalau anda merasa punya pikiran luas tentu tak perlu tersinggung dg redaksi kalimat itu kan?

  11. Benar apa yang anda sampaikan di sini, sikap beragama di Indonesia harusnya membawa kepada kerukunan, bukanya kecurigaan dan saling intimidasi. Kenapa kita kalah sama Jepang yang kebanyakan penduduknya tidak punya agama, tetapi merupakan negara paling rukun di dunia. Keber-agama-an di Indoensia juga berpikir sempit, dan bisa diberdayakan orang yang ambil kesempatan di dalamnya, gampang di provokasi…

  12. iyah , saya juga setuju !!😀 namun saya juga lebih banyak belajar dan menyadari bahwa bukan agama memang yang harus dipermasalahkan, karena agama pengajarannya itu baik, namun sepandai-pandai manusia, ada iblis yang selalu mengawasi dan lebih pandai untuk memakai, menjatuhkan dan menjaukan kita dari Tuhan kita. bukan mau sok*an disini, tapi pokok yang harus dipersalahkan itu adalah iblis, kita harus berpegang teguh pada Iman kepercayaan kita dan kalahkan iblis maka jalan kita akan selalu baik dan juga negara kita ini Indonesia akan maju berkembang.😉

    mungkin itu yang saya pikirkan, maaf kalau dipandangan sodara* sya teralalu sok . #Tuhan Membekati kita🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s