Ketika Aksi Solidaritas Pilih-Pilih Sasaran

Hari ini aku pergi naik kereta rel listrik sampai stasiun Cawang, dan dari sana jalan kaki menuju kedutaan besar Saudi Arabia. Puluhan orang sudah dengan manisnya berdemo di sana (demo kok manis?). Beberapa wajah yang tak asing juga sudah nongkrong persis di depan gerbang kedutaan tersebut. Ada apa nih kok ngumpul-ngumpul di depan Kedubes Saudi Arabia siang-siang bolong 35 derajat celcius begini? Ini laporannya:

————————–

Hari ini giliran Kedutaan Besar Saudi Arabia yang terkena demonstrasi terkait isu penyerangan Israel ke Jalur Gaza. Sejumlah anggota masyarakat tampak memenuhi gerbang kedutaan tersebut sambil meneriakkan tuntutan mereka.

Kelompok masyarakat ini menamakan dirinya Masyarakat Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina. Kelompok ini menilai bahwa negara-negara Timur Tengah, termasuk Saudi Arabia dan Mesir hanya bersikap ala kadarnya, memberi yang paling minim dari semestinya yang dapat mereka sumbangkan. Tak ada yang bisa dilakukan oleh negara-negara Timur Tengah tersebut kecuali melakukan ritus pertemuan, konferensi untuk kemudian menerbitkan rekomendasi yang tidak memiliki pengaruh nyata ke dalam penyelesaian konflik.

Padahal negara-negara Timur Tengah tersebut memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menekan baik Israel maupun sekutunya, Amerika Serikat. Dipercaya bahwa keterlibatan negara-negara Timur Tengah secara intensif akan mempercepat tercapainya negara Palestina merdeka.

Masyarakat Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina memandang bahwa bangsa Palestina berhak untuk merdeka, dan tindakan Israel kepada mereka sebetulnya mirip dengan tindakan Holocaust yang dulu diperbuat oleh Nazi Jerman kepada warga keturunan Yahudi di Eropa ketika Perang Dunia ke II dahulu.

Setelah menyampaikan pendapatnya, mereka bergerak ke Kedubes Mesir untuk menyampaikan tuntutan yang sama. (Ternyata baru keesokan harinya ke Kedutaan Mesirnya)

———————-

Aku bergabung dalam aksi itu karena ada dua keprihatinan sekaligus:
1. Prihatin akan nasib korban-korban sipil (terutama anak-anak) dalam konflik antara Israel dan Hamas.
2. Prihatin karena aksi-aksi keprihatinan yang ada sering dijual untuk kepentingan promosi politik, sehingga salah satu akibatnya adalah aksi solidaritas yang pilih-pilih sasaran.

Aku yakin kita semua berbagi keprihatinan yang sama untuk nomor 1 di atas, namun tidak untuk yang nomor 2. Kalau mau konsisten dan serius seharusnya aksi solidaritas ditujukan kepada semua pihak yang berkontribusi pada konflik ini dan yang membiarkan serta menarik keuntungan dari konflik ini. Dalam konsep Hak Asasi Manusia, pembiaran terhadap terjadinya pelanggaran HAM sesungguhnya adalah pelanggaran HAM juga.

Kita bisa lihat betapa negara-negara Arab tidak berbuat banyak, bahkan pemerintah Mesir tidak kunjung membuka pintu perbatasan di Rafah bagi bantuan ke Palestina (http://www.detiknews.com/read/2009/01/05/143246/1063265/10/krisis-tokoh-timur-tengah-terpaksa-cueki-palestina). Betapa ironisnya ketika “teman-teman dekat” Palestina juga membiarkan tragedi itu terjadi. Kalau AS dan Israel semua orang juga sudah tahu kalau mereka itu sumber permasalahannya, tapi orang sering lupa pada “teman-teman dekat” ini sebetulnya juga bermain dalam konflik ini.

Lihat juga tulisan ini:
http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009010123594416

Di mana puluhan ribu massa yang kemarin dg gagah berani mendemo kedutaan AS? Kenapa mereka tidak hadir di kedutaan Saudi Arabia juga hari ini? Kita bisa mempertanyakan ada apa di balik sikap mereka yang tidak konsisten tersebut? Ada banyak spekulasi beredar di luar sana bahwa mereka menjual isu Palestina untuk menggalang dukungan masyarakat. Menggalang dukungan di atas penderitaan rakyat Palestina. Tapi tentu kita tidak boleh percaya begitu saja dengan spekulasi. Kita mesti punya indikator yang lain untuk menilai apakah kira-kira spekulasi itu betul. Gempa di Papua yang baru saja terjadi bisa jadi salah satu indikator buat menilai keesungguhan gerakan kemanusiaan yg mereka gelar.

Gempa di Papua hari ini merupakan peringatan agar kita tidak melupakan sesama kita yang dekat sekaligus menjadi ujian apakah pihak2 yang menyatakan solidaritasnya ke Palestina juga melakukan hal yang sama untuk rekan satu negaranya. Yah, paling tidak kalau kemarin ada 50 ribu orang berhasil dikerahkan untuk demo Palestina, tentu tidak sulit menyisihkan 5000 orang saja untuk solidaritas dg Papua. Lagipula lebih murah biaya ke sananya.

———-

Omong-omong, Fadjroel Rachman juga membuat catatan serupa:
http://www.facebook.com/profile.php?id=731595563&ref=name#/note.php?note_id=54774198942&ref=mf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s