Semaraknya Escher dan Hundertwasser

Suatu saat Friedensreich Hundertwasser, seorang pelukis asal Austria, pernah berkata; “The rigid, straight line is fundamentally alien to humanity, life and the whole of creation”; yang kalau diterjemahkan kurang lebih: “Garis lurus yang kaku pada dasarnya adalah barang yang asing dalam kemanusiaan, kehidupan dan seluruh penciptaan”.

 

Maksud Hundertwasser kita memang tidak bisa menemukan garis lurus alami di alam sekitar kita, termasuk diri kita. Tidak ada wajah manusia yang persis lurus, tidak ada tangkai pohon atau batu yang persis lurus. Bahkan bentuk-bentuk geometris seperti segi tiga atau segi empat yang benar-benar sempurna tidak pernah ada di alam ini. Lebih jauh lagi ia mengatakan kalau segala mahluk hidup berkembang dari sel, sehingga bentuk geometris yang rapih adalah bertentangan dengan hakikat mahluk hidup. Kita dapat melihat bahwa lukisan-lukisan Hundertwasser sama sekali tidak menyertakan pola geometris, apalagi garis lurus. Lukisannya penuh gairah, penuh warna dan bebas bermain-main dengan bentuk yang sebetulnya nyaris kekanak-kanakan. Hunderwasser bahkan tampaknya tidak membutuhkan bantuan garis perspektif atau bantuan divine proportion. Ia melukis sebagaimana ia pikir hidup itu berjalan, dengan spontan penuh warna dan bisa ia tafsirkan sendiri.

Di ujung lainnya adalah seorang Mauritz Cornelis Escher seorang seniman asal Belanda. Hasil karya seninya penuh dengan bidang geometris yang rapih. Ia mengukur dan menghitung betul gambar-gambar yang ia hasilkan. Ia menyebut dirinya seniman grafis, karena menurut kata-katanya sendiri; “…sudah dari sononya saya bukanlah seniman yang spontan. Cetakan grafis yang saya hasilkan memerlukan kesabaran dan pemikiran yang masak. Ide yang ingin saya ekspresikan biasanya mengkristal setelah saya perhitungkan masak-masak.”.

Kita bisa melihat Escher membuat banyak pedoman dan bantuan, serta beberapa kali uji coba serta variasi untuk mendapatkan hasil akhir seni yang membuat ia sreg. Namun lukisan cetak yang ia hasilkan mampu memukau, justru karena penguasaannya terhadap garis lurus, bentuk geometris serta bantuan perspektif, ia mampu menghasilkan suatu dunia yang absurd, penuh fantasi sekaligus menghibur.

Jika Hunderwasser menghasilkan karya-karya segar karena ketidakpercayaannya pada pedoman, Escher justru menghasilkan karya-karya yang menarik karena mengandalkan pedoman.

Di luar sana sebagian dari kita juga menyukai pedoman, sementara lainnya menyukai spontanitas spiritual ala Hundertwasser. Sebagian orang begitu percaya kekuatan pedoman rasio, ilmu pengetahuan atau logika. Sementara sebagian lainnya percaya pada kekuatan spiritualitas dan intuisi. Mereka yang percaya kekuatan rasio menggunakan pedoman obyektifitas, pembuktian dan akan mengkaitkan segala gejala sesuai dengan garis bantu pedoman ilmu pengetahuan. Mereka yang percaya intuisi percaya pada kekuatan subyektifitas, pesan tersembunyi di alam dan tidak takut keluar dari pedoman.

Sulit untuk menilai, mana tipe manusia yang lebih baik, apakah mereka yang percaya pada rasionalitas-obyektif ataukah mereka yang percaya pada spiritualitas-intuitif. Lukisan Hundertwasser maupun Escher sama-sama indah dan penuh inspirasi. Keindahan bisa datang dari mana saja tampaknya.

Yang tidak indah adalah kalau misalnya Hundertwasser kemudian punya kesempatan dan kekuasaan untuk menentukan metode berkesenian mana yang paling baik, lalu ia mengklaim cara dan filosofi menggambarnya adalah yang paling benar, cara lainnya adalah salah, keliru dan kafir. Ia mungkin saja lantas melarang melukis dengan cara Escher, karena dianggap bertentangan kemanusiaan, kehidupan dan seluruh penciptaan.

Yang tidak indah kalau seandainya Escher diangkat menjadi dewa kecil kesenian lalu menerbitkan sertifikat cara menggambar yang benar. Semua orang yang ingin menjadi seniman harus memperoleh sertifikat tersebut yang ujiannya ditentukan dengan cara dan metode Escher. Tiba-tiba semua seniman lukis diwajibkan memiliki penggaris, jangka dan alat-alat ukur lainnya. Mungkin saja seniman macam Hundertwasser akan dikucilkan dari pergaulan antar seniman lukis, atau lebih parah (jika Escher memiliki Pasukan Penegak Metode Escher) ia bisa dijebloskan ke penjara atau dianiaya.

Tentu seni jadi tidak lucu lagi. Hidup jadi tidak bergairah lagi. Dunia akan lebih semarak jika orang-orang macam Escher dan Hunderwasser sama-sama punya kesempatan mewarnai hidup. Dunia akan menjadi lebih nyaman ditinggali kalau anda dan saya punya kesempatan menunjukkan warna asli kita, mengetahui bahwa ada cara dan metode berpikir yang berbeda dan mengakui kalau kita berbeda.

***

Lihat karya-karya Hundertwasser disini: http://images.google.co.id/images?q=Hundertwasser&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a&um=1&ie=UTF-8&sa=N&hl=id&tab=wi

Lihat karya-karya Escher disini: http://images.google.co.id/images?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&um=1&sa=1&q=escher&btnG=Telusuri+gambar&aq=f&oq=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s