Kebijaksanaan Instan Para Motivator

Banyak orang yang senang sekali dengan para motivator. Itu sebabnya banyak motivator bermunculan tahun-tahun belakangan ini dan laris manis, nasihat mereka disukai orang, mereka diundang untuk mengisi banyak acara dan seminar (tidak peduli  betapa honor menyewa mereka tinggi sekali), kutipan kata-kata mereka di copy-paste di berbagai media sosial, SMS dan Blackberry Mesengger atau Whatsapp. Tak perlu heran kenapa orang-orang bisa senang dengan para motivator itu, di negara yang banyak menyimpan ketidakberesan, orang butuh asupan vitamin penyegar rohani, makanya agama dan motivasi amat laris sebagai tempat pelarian orang untuk mencari secercah cahaya di kehidupan bernegara yang suram. Nah, benarkah para motivator itu memberikan solusi beneran terhadap masalah sosial bangsa ini, kalau iya solusi yang seperti apa?

 

Mereka yang belajar ilmu-ilmu sosial tentu sedikit banyak tahu bahwa nasib kita (individu-individu dalam masyarakat) ditentukan oleh sistem sosial yang melingkupi kita. Kita tidak punya banyak pilihan karena terbatas oleh struktur sosial di sekitar kita. Misalnya seorang yang berasal dari pedesaan dan pendidikannya hanya lulus SD atau SMP tidak punya banyak pilihan selain menjadi buruh, pembantu rumah tangga atau buruh migran. Sulit baginya untuk bisa kerja kantoran, jadi jurnalis, guru, dosen atau pengusaha.  Seorang mahasiswa yang mengalami masalah di rumahnya sulit menjadi mahasiwa berprestasi karena misalnya dia harus bekerja menafkahi keluarganya dan mengurusi adik-adiknya. Masih untung dia tidak drop out. Seorang anak jalanan perempuan memiliki resiko besar terkena pelecehan seksual karena situasi lingkungannya yang tanpa perlindungan. Bahkan diantara orang-orang yang kelihatannya punya banyak kesempatanpun ternyata pilihan tersebut tidak begitu banyak. Seorang politikus yang berpendidikan dan punya uangpun tidak mudah untuk jadi gubernur, padahal ia ingin mengubah keadaan. Ia masih dibatasi oleh aturan pemilihan umum yang cuman sedikit memberi ruang untuk calon independen. Kalau mau jadi gubernur, ia harus masuk partai politik dan tentu sedikit banyak akan kecipratan kekotoran budaya politik yang ada.

 

Intinya, seringkali problem-problem yang kita hadapi bukan karena kita ini individu bodoh, malas, atau sesat. Seringkali masalah itu datang dari sistem sosial yang tidak adil, yang mengabaikan hak-hak kita, yang penuh diskriminasi dan tidak berpihak pada yang lemah. Apakah motivasi-motivasi yang dilantunkan oleh para motivator tersebut berguna untuk mengatasi masalah sosial tersebut? Paling tidak bergunakah untuk membantu memahami  persoalan?

 

Silahkan tengok koleksi kata-kata mutiara para motivator, hampir semuanya ditujukan untuk individu, bagaimana menjadi individu yang lebih baik, lebih ulet, lebih merawat diri, yang mengembangkan inner beauty, yang ikhlas, yang soleh, yang sopan, yang mencinta dan seterusnya. Jarang sekali kita temui motivasi yang membantu pembacanya membuka pikiran kritis tentang masalah sosial di sekitarnya. Akibatnya seolah-olah letak kesalahan dunia ini ada di dalam diri kita: jika kita miskin, itu salah kita kenapa kita tidak ulet. Jika nasib kita ditindas, maka itu karena kita masih jadi ‘pribadi yang lama’. Jika kita stres, itu karena kita tidak mampu memilih pikiran yang tepat dan seterusnya. Kita diarahkan untuk melihat bahwa persoalan utama ada di dalam diri kita, sementara dunia di luar sana akan baik-baik saja jika kita mau mengubah diri kita. Bukan berarti nasihat-nasihat seperti ini jelek, sama sekali bukan. Nasihat-nasihat ini bisa berguna jika memang masalahnya ada di dalam diri kita, tapi jadi tidak berguna kalau masalahnya terletak di sistem sosial yang melingkupi kita. Alih-alih membantu kita berpikir kritis, motivasi-motivasi semacam ini malah akan membuat frustasi, karena tidak membantu memecahkan masalah dalam lingkup yang lebih luas. Boleh dibilang motivasi-motivasi tersebut bersifat individualistis karena ditujukan untuk ‘kepentingan’ individu, namun tidak menyentuh masalah kita bersama sebagai sebuah masyarakat. 

 

Ini ada satu contoh motivasi yang saya temukan diluar sana:

“Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah”

 

Bayangkan jika nasihat ini dikutip oleh para pemilik modal dan menggunakannya sebagai cara untuk memacu anak buahnya atau buruhnya untuk bekerja lebih keras, pokoknya sampai lelah (baca: sakit) dulu deh, baru berhenti kerja.

 

Atau:

“Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stres adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.”

 

Bayangkan jika nasihat ini anda berikan kepada korban penggusuran atau mereka yang rumahnya terpendam lumpur Lapindo. Mereka stres karena kehilangan rumahnya, lalu anda menasihati mereka untuk memilih pikiran yang tepat, mencari jalan keluar masalah. Kalau pada akhirnya mereka menemukan jalan keluar permasalahannya (misalnya meminta pertanggungjawaban pemerintah atau pihak lain yang merugikan mereka), apakah kira-kira mereka mampu memperoleh pertanggungjawaban tersebut? Apakah cring, stres mereka  bisa hilang?

 

Model nasihat-nasihat seperti itu tanpa kita sadari sebetulnya sudah lama digunakan oleh para pemilik modal, politikus dan kaum moralis untuk menekan masyarakat agar tidak menjadi pribadi yang kritis. Persoalan-persoalan yang timbul karena adanya kuasa yang tidak adil dipindahkan seolah-olah jadi kesalahan individu. Pemilik modal bisa memaksa buruh bekerja lebih keras misalnya dengan alasan agama atau etika moral tertentu mengharuskan setiap orang bekerja keras, padahal mereka bekerja keras supaya para pemilik modal mendapat tambahan keuntungan. Dengan kata lain, nasihat-nasihat bagus semacam itu sudah berabad-abad lamanya digunakan orang untuk membuat orang lain tidak kritis; “sebelum mengkritik orang lain lebih baik lakukan introspeksi dulu”.  Nasihat ini hanya bagus untuk tingkat individu, tapi tidak membantu memahami persoalan sosial, akibatnya tidak ada perubahan sehingga orang bisa jadi makin frustasi, mengerti nasihat-nasihat yang baik namun toh dunia disekitarnya tetap tak berubah.

 

Sedangkan orang yang kerap menyarankan perubahan sosial sering di cap sebagai provokator, sebagai perusak tatanan, pencari perhatian atau kurang kerjaan. Sebagian bahkan di cap tidak nasionalis dan bahkan separatis. Sungguh, ini saatnya kita butuh kecerdasan sosial bukan hanya IQ atau EQ atau Q-Q yang lain.

 

Persoalan lainnya adalah  begitu banyaknya pesan yang kita terima. Para motivator bermunculan, dan begitu banyak nasihatnya bertebaran diluar sana, kita dibombardir oleh begitu banyak kata-kata mutiara padahal daya serap manusia terhadap pencerahan sangat rendah. Pencerahan sejati umumnya didapat dari hasil refleksi dan permenungan, proses yang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Bisa jadi kejadian berbulan atau bertahun yang lalu baru kita mengerti maknanya hari ini, setelah melalui sejumlah peristiwa yang serupa. Nasihat-nasihat bijak baru akan menemui makna sejatinya jika bertemu dengan pengalaman. Dan kalau kita percaya pada gerakan spiritual ala new wave dekade belakangan ini, kesemua pemahaman tersebut adalah hasil rajutan semesta, takdir yang sedang mengajari kita. Kurikulum takdir tidak bisa diraih dalam waktu singkat, apalagi dalam hitungan hari. Sedangkan lihatlah betapa motivasi-motivasi tersebut diproduksi dalam hitungan hari, disebarkan lewat BBM, lewat status Twitter dan Facebook, lewat seminar-seminar dan acara televisi. Mampukah kita mengingat semua nasihat-nasihat tersebut dan melahirkan pencerahan baru dalam waktu yang demikian singkat? Kecil kemungkinannya. Pencerahan melalui status twitter atau Facebook hanya akan lewat seperti status-status lainnya, dengan kata lain, akan menjadi basi keesokan harinya. Basi bukan karena tidak relevan, tapi basi karena kita sudah tidak ingat lagi.

 

Fenomena kebijaksanaan instan ini sudah sering kita temui dalam kehidupan dewasa ini. Begitu banyak mutiara kebijaksanaan masa lampau yang sudah dibukukan, dibaca orang dan menjadi best seller. Banyak praktek-praktek meditasi, yoga dan pengobatan alternatif yang dilakukan orang, namun dunia kita hanya sedikit berubah. Apakah kita sempat meresapkan semua kebijaksanaan yang kita baca itu? Semua ini karena perubahan ke dalam diri tidak akan berarti tanpa adanya perubahan sosial, kita ibarat punya banyak pilihan namun masih terkurung dalam satu ruang besar. Pilihan-pilihan tersedia di dalam ruangan itu namun sama sekali tidak membantu kita untuk keluar dari ruangan itu. Pilihan-pilihan tersebut sifatnya menjadi virtual karena tidak berdampak pada kenyataan. Kita merasa seolah-olah sudah berubah hanya karena bisa memilih. Sebetulnya yang terjadi adalah kita diberi banyak pilihan supaya kita tidak menyadari bahwa tidak ada perubahan yang terjadi.

 

Persoalan-persoalan diatas adalah persoalan isi dari nasihat-nasihat yang dilontarkan para motivator, persoalan ‘barang dagangan’ yang dijual. Persoalan berikutnya ada di dalam diri para motivator tersebut. Pertama, cara mereka sendiri menghadapi masalah, sebut saja kritik dari orang lain. Bagaimana sang motivator bersikap terhadap kritik yang ditujukan pada dirinya? Menerima atau menolak dengan keras? Konsistenkah mereka dengan nasihat-nasihat yang mereka lontarkan? Silahkan anda jawab sendiri berdasarkan pengamatan anda terhadap motivator favorit anda, sudah ada beberapa kasus yang bisa jadi contoh. Kedua, bagaimana mereka memproduksi ‘barang dagangan’ tersebut? Materinya orisinil hasil permenungan mereka, atau mereka mengolahnya dari sumber lain? Maksudnya mereka ini produsen langsung atau sekedar distributor yang hanya mengubah kemasan? Coba saja anda riset kecil-kecilan di internet membandingkan nasihat-nasihat yang mereka produksi dengan kata-kata mutiara yang tersebar di internet.

 

Kita bisa mulai dari kalimat mutiara berikut:

“Mustahil semua orang akan menyukai kita walau kita berbuat baik semaksimal mungkin. Tak usah aneh dan kecewa, terus saja berbuat yang terbaik, karena itulah yang kembali kepada kita.”

 

Kalau kita search di google, ada beberapa kalimat yang mirip:

 

Just try your best, try everything you can. And don’t you worry what they tell themselves when you’re away.”

Atau:

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.

Give the world the best you have anyway.”

 

Tentu ada banyak sekali nasihat-nasihat yang bukan benar-benar orisinil, dan apakah memang perlu orisinalitas tersebut? Bukankah yang penting adalah inti dari pesannya? Tentu tak ada yang salah dengan memproduksi sendiri atau hanya sebagai distributor, namun jelas kini bahwa semuanya terkait dengan proses produksi dan distribusi, alias ini semua hanya barang dagangan yang masih bercokol dalam sistem yang sama, sistem kapitalisme. Makin mirip dengan kapitalisme ketika anda merasa bahwa dengan meng-copy paste nasihat-nasihat tersebut dan menyebarkannya lantas orang akan memandang anda sebagai manusia bijak. Persis sama seperti ketika anda pakai baju merk Zara supaya orang lain mengira anda modis.

 

Saran saya jika memang anda suka sekali dengan nasihat-nasihat seperti itu, perlakukanlah mereka seperti alarm atau reminder, untuk mengingatkan anda akan sesuatu yang perlu dikerjakan atau dilakukan. Kayaknya sulit kalau anda berharap semua itu bisa membantu anda ‘keluar dari ruangan’ yang mengungkung anda. Toh anda masih nyaman ada di ruangan itu kan?

5 thoughts on “Kebijaksanaan Instan Para Motivator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s