Mengapa kita tak pantas lagi bilang “suka sama suka” – Versi 2.0

Kekerasan seksual pada bentuknya yang tradisional mungkin tidak ditemukan dalam kasus-kasus tertentu. Jangan bayangkan seseorang yang menunggu di tikungan jalan lantas menyergap perempuan yang sedang lewat lalu memperkosanya, atau maling yang masuk ke rumah sasarannya dan memperkosa karyawan rumah tangga yang sedang seorang diri menunggu rumah.

Saya sedang mengkhayalkan skenario seperti berikut:

Kekerasan itu mungkin berawal dari sebuah café di sebuah tempat kebudayaan dimana seorang laki-laki menatap seorang perempuan dan memutuskan dalam hati bahwa ia akan meniduri perempuan tersebut. Laki-laki tersebut punya perjalanan karir cukup panjang dalam bidang sastra dan sudah menghasilkan beberapa karya sastra. Lantas kesempatan itu datang dan si perempuan ini ternyata seorang mahasiswa yang menaruh minat terhadap sastra (mungkin pernah menerbitkan buku kumpulan puisinya secara indie) dan si laki-laki menawarkan berdiskusi tentang sastra secara lebih personal di kamar kost-nya.

“Ayo kita belajar baca puisi di kamar kost saya, kalau di tempat ini kita tidak bisa teriak-teriak” kata si Laki.

Sebagai seorang perempuan yang kagum terhadap si laki yang punya track record cukup baik di bidang sastra tersebut, tentu ia tidak menolak. Apalagi sikap si Laki yang kebapakan dan momong membuat si perempuan muda tersebut merasa aman untuk berurusan dengannya.

Pergilah mereka ke kamar kost si laki dan mereka berdiskusi dan mereka membaca puisi dan si laki dengan satu-dua cara akhirnya bisa berhubungan seks dengan perempuan tersebut. Sesi tersebut selesai dan si perempuan pulang.

Suka sama suka?

Bagaimana jika skenario tersebut berulang dan berulang dan dilakukan dengan banyak perempuan? Bukankah skenario tersebut akhirnya menjadi modus operandi? Bukankah akhirnya deretan perempuan-perempuan tersebut menjadi target operasi belaka, bukan pribadi-pribadi yang direncanakan untuk disayangi atau dikasihi? Dan masih bisakah kita menyebutnya dengan suka-sama-suka?

Batas tipis ini yang kurang dimengerti oleh banyak laki-laki, bahwa kekerasan seksual bukan hanya terjadi jika ada pemaksaan fisik yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan visum seketika, namun terjadi jika sejak dari awal ada ketimpangan kuasa dan ketimpangan ekspektasi. Kekerasan seksual terjadi sejak lelaki memandang perempuan sebagai target dan obyek seks. Lelaki memanfaatkan wibawa, pengalaman, ketenaran dan sejumlah pesona lainnya untuk menggaet target seks tersebut. Bahkan posisi tertentu di institusi tertentu menjadi nilai tambah untuk menjerat targetnya. Maka seringkali kita dengar ada dosen bisa berhubungan seks dengan mahasiswanya, seniman ternama tidur dengan pengagumnya dan seterusnya. Maka kita sering kita lihat tempat kejadian perkara dimulai dari wilayah sebuah institusi lantas bergeser ke wilayah yang lebih “aman” (untuk tidak menyebutnya wilayah privat karena akan menyebabkan kesalahpahaman).

Bagi si perempuan kesadaran bahwa dirinya merupakan target operasi mungkin datang sangat belakangan ketika peristiwa tersebut lewat dalam kenangannya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah namun tidak bisa mengidentifikasinya karena ia “buta huruf” terhadap jenis relasi semacam itu. Referensi terdekat yang bisa ia ingat hanyalah adegan one night stand di sebuah episode “How I Met Your Mother” yang makin membuatnya menganggap bahwa kejadian yang ia alami lumrah adanya. Kecuali jika pada bulan berikutnya ada kejadian yang tak lumrah yaitu menstruasinya tak kunjung datang.

Kekerasan seksual terjadi bukan hanya ketika ada “lelaki yang pergi sebelum hubungan emosional dan psikologis diselesaikan dengan pantas” (1), namun sudah dimulai sejak ada lelaki yang menatap perempuan sebagai obyek seks dan merencanakan serangkaian modus operasional untuk mendapatkan target seksnya tersebut. Hubungan amat sulit diselesaikan dengan pantas jika memang diawali dengan sesuatu yang tidak pantas dan timpang.

(1). Lihat tulisan Ayu Utami : http://ayuutami.com/mengapa-kita-tak-pantas-lagi-bilang-suka-sama-suka/

 

11 thoughts on “Mengapa kita tak pantas lagi bilang “suka sama suka” – Versi 2.0

  1. saya suka bagian ini:

    kekerasan seksual bukan hanya terjadi jika ada pemaksaan fisik yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan visum seketika, namun terjadi jika sejak dari awal ada ketimpangan kuasa dan ketimpangan ekspektasi. Kekerasan seksual terjadi sejak lelaki memandang perempuan sebagai target dan obyek seks. Lelaki memanfaatkan wibawa, pengalaman, ketenaran dan sejumlah pesona lainnya untuk menggaet target seks tersebut. Bahkan posisi tertentu di institusi tertentu menjadi nilai tambah untuk menjerat targetnya.

  2. jadi, mulut penyair itu mirip bulu ekor&sayap burung merak yg meregang saat menarik hati lawan jenis. ga salah di regangkan sekali-sekali. yg penting jangan keseringan.🙂

  3. yang terbaca oleh pikiran saya yg bodoh, tulisan ini menyimpulkan:
    -laki2 penggoda, perempuan digoda
    -laki-laki pemangsa, perempuan dimangsa

    (mendadak saya jd ingat moneta, dan grup2 dangdut panggung lain yg biduanitanya bikin birahi memuncak… di sana perempuan punya “kuasa”)

  4. wawan berkata:

    apakah si perempuan punya pilihan untuk tidak melayani rayuan gombal si lelaki? Kalau si perempuan masih punya kuasa untuk memilih “tidak” artinya relasi kekuasaan itu tidak timpang sekali kan?

  5. Reblogged this on Percikan-Percikan Hati and commented:
    Suka sama suka … dari sudut pandang siapa?
    Budaya patriarki tetaplah bercokol kuat dimana pun, tak hanya di Indonesia kukira. Topik “suka sama suka” ini sedang mengemuka akhir-akhir ini setelah kasus asusila yang dilakukan oleh seorang penyair ternama kepada seorang mahasiswi. Banyak yang tanpa empati menuduh sang korban — seperti banyak terjadi di kasus perkosaan yang lain — menawarkan diri hanya karena dialah yang datang ke kediaman sang penyair.

    Tulisan Aquino Hayunta ini sangat mewakili suara sang korban. I love it.🙂

    GG 12.56 06122013

  6. tulisan yang jernih, Saya suka tulisan ini karena jauh lebih jelas dan gamblang melihat ketimpangan kuasa & ekspektasi utk melihat persoalan penyair SS dibanding artikel Ayu Utami. Ketimpangan ekspektasi adalah sebuah pemahaman baru buat saya. Karena saya sekarang bisa memahami bahwa dengan “ekspektasi” yang kadang2 sering laki2 sebut sebagai “panggilan alamiah” saat melihat lawan jenis, telah membuat laki2 bisa divonis melakukan “kekerasan seksual”. Harus hati2 nih otak he he he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s