Fenomena Kerelawanan Dalam Kemenangan Jokowi

Dari website: https://www.selasar.com/politik/fenomena-kerelawanan-dalam-kemenangan-jokowi

Selasa malam (22/7) pasca pengumuman rekapitulasi akhir KPU, Jokowi bersama kompatriotnya Jusuf Kalla menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Di atas kapal Phinisi, presiden terpilih tersebut kemudian menyampaikan pidato kemenangannya yang diberi judul “Saatnya Bergerak Bersama”.

Satu bagian pidato tersebut menyiratkan satu sejarah baru dalam perjalanan politik Republik ini. “Apa yang ditunjukkan para relawan mulai dari pekerja budaya dan seniman sampai pengayuh becak memberikan harapan bahwa ada semangat kegotong-royongan yang tak pernah mati,” tegas Jokowi. “Relawan” menjadi sebuah idiom baru yang membawa pengaruh besar dalam pemilu negeri ini.

Kemenangan Jokowi memang tak bisa dilepaskan dari kerja keras para relawan. Namun, kemunculan relawan tentu bukan instan dan tanpa alasan. Ardi Wilda mencoba merunut perjalanan kemunculan gerakan kerelawanan di Indonesia dengan mewawancarai Aquino Hayunta. Ia dikenal sebagai pegiat organisasi anak muda Pamflet dan Koalisi Seni Indonesia.

Ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, ia banyak bercerita mengenai kemunculan relawan dalam empat lima tahun ke belakang, problem yang dihadapi kerelawanan, serta apa yang bisa relawan Jokowi lakukan ke depan. Berikut petikan hasil wawancara penulis:

Bila ditilik ke belakang bagaimana gerakan kerelawanan mulai marak?

Saya perhatikan dalam konteks Indonesia kerelawanan muncul mulai 2008, khususnya di kota besar. Penyebabnya karena banyak anak muda memiliki kesempatan untuk berorganisasi di luar kampus.

Ditarik ke belakang lagi, 2002-2006 seperti ada kekosongan gerakan mahasiswa dan kurangnya regenerasi bagi gerakan aktivis sipil. Mungkin karena para mahasiswa angkatan 1998 sudah lulus dan keluar kampus di 2002.

“Untungnya” pada tahun 2006 itu ada Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi (RUU APP), yang penuh kontroversi sehingga merangsang begitu banyak orang untuk bereaksi.

Saya ingat dulu demo menolak RUU APP pada April 2006 adalah demo terbesar sejak 2002. Sejak 2002 saya tidak pernah melihat demo sebesar RUU APP. Di situ juga mulai organisasi-organisasi yang menentang RUU tersebut menerima relawan dari mahasiswa. Aliansi Mawar Putih yang menolak RUU APP misalnya, menggunakan banyak tenaga relawan mahasiswa untuk mengumpulkan petisi dari masyarakat. Ketika itu petisi masih dilakukan secara manual, menyebarkan kertas tercetak atau melalui SMS dan terkumpul sekitar 16 ribu petisi.

Kenapa mahasiswa? Karena yang terganggu kebanyakan anak muda. Terganggu dalam konteks terancam kebebasan berekspresinya. Selain itu juga punya kelebihan waktu dan tenaga.

Terus 2008 kesempatan untuk membuat organisasi makin besar, karena ada berbagai organisasi internasional maupun nasional yang membuka kesempatan untuk pertukaran budaya, short course atau pelatihan bagi anak muda sehingga mulailah banyak bermunculan organisasi anak muda. Sejak itu aktivisme jadi seperti tren. Sesuatu yang cool buat anak muda. Anak muda yang cool itu yang berwawasan luas dan yang berwawasan luas itu punya kepedulian sosial. Kegiatan sosial juga menjadi poin plus untuk cari kerjaan atau cari beasiswa.

Baru sekitar dua-tiga tahun ini kerelawanan terasa sangat meledak. Bahkan ada organisasi yang sengaja memfokuskan diri pada kerelawanan seperti Indo Relawan juga Indonesia Mengajar. Namun, memang kalau dilihat ini masih bergerak di kota-kota besar, mungkin karena faktor informasi yang lebih mudah didapat.

Faktor pendukung selain itu?

Saya belum pernah melakukan studi mendalam soal ini, Pamflet yang pernah melakukan. Hipotesanya adalah kampus saat ini minim aktivisme sosial, kalaupun ada kesibukan di dalam kampus hanya dikuasai oleh kelompok tertentu dan masih kentalnya senioritas. Jadi seringnya sekadar menjadi sayap politik saja.

Di sisi lain, anak-anak yang tidak tertampung di situ akan membuat organisasi lain yang modelnya sebenarnya seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Jadi, ada beberapa individu punya minat sama kemudian membuat organisasi. Kalau dulu basisnya almamater atau lingkungan pendidikan, sekarang basisnya kesadaran atau isu.

Apakah organisasi sayap parpol di kampus juga bisa disebut kerelawanan?

Menurut saya tidak. Itu lebih pada bentuk politisasi mesin partai terkait, usaha mesin partai mencari konstituennya, memperluas kekuasaan dan jangkauannya.

Itu bukan bentuk kerelawanan. Kalau kerelawanan bentuknya lintas identitas dengan disatukan oleh kepentingan bersama.

Kalau bentuk kepartaian sulit untuk dikatakan kerelawanan walaupun tidak dibayar sekalipun. Karena ia bekerja untuk membesarkan organisasi bukan menangani isu. Kalau kerja kerelawanan lebih pro aktif pada isunya.

Bukankah pola-pola yang digunakan oleh parpol mirip dengan kerelawanan, dalam pengkaderan misalnya?

Tidak. Partai tentu sudah punya standar dahulu baru merekrut. Orang diminta untuk mengikuti standarnya.

Kalau kerelawanan sifatnya biasanya berbasis isu. Polanya biasanya diawali oleh kumpul dan diikat oleh keprihatinan yang sama dan tergerak untuk melakukan sesuatu. Baru kemudian membuat organisasi. Setelah itu baru melakukan kerja organisasi seperti perekrutan. Mungkin kesamaannya setelah jadi organisasi, tapi awalnya jelas sangat berbeda.

Semangat relawan selalu dekat dengan filantropi, apakah memang selalu murni filantropi atau justru transaksional?

Tentu ada unsur filantropinya, tapi juga ada sedikit transaksional. Sederhananya begini, dengan ikut kegiatan relawan anak-anak sekarang jadi bisa nambah portofolio di CV. Mungkin ketika mencari beasiswa atau pekerjaan akan lebih mudah. Mereka juga bisa ikut konferensi, seminar atau pertukaran aktivis dengan negara lain, bahkan bisa dimuat di media massa.

Namun, justru yang dominan bukan itu, yang saya lihat malah anak muda ini sedang mencari jati diri, punya banyak waktu dan memang punya kepedulian sosial. Sehingga secara umum tetap lebih banyak unsur filantropinya.

Kerja relawan biasanya lebih dekat dengan kepentingan banyak orang. Dalam kontestasi pemilu kali ini tentu tak bisa lepas dari kepentingan satu orang, Jokowi. Apa yang bisa menjelaskan ini?

Sebenarnya ini bukan sekadar masalah Jokowi, tapi ini soal menaikkan demokrasi ke level yang lebih tinggi.

Kita melihat pemenuhan hak asasi yang stuck di pemerintahan SBY, sulit mendefinisikan karena dibilang jelek tidak, dibilang bagus juga tidak. Yang jelas adalah kenyataan bahwa negara sering tidak hadir dalam berbagai persoalan masyarakat, sehingga negara ini kerap disebut sebagai negara auto pilot.

Kita berharap jika Jokowi yang jadi presiden maka level demokrasi Indonesia bisa naik. Karena kalau kita tak bergerak atau malah mundur, perjuangan reformasi selama 16 tahun ini bisa jadi percuma, sebab semua ciri yang kita tolak selama reformasi ini ada di kubu Prabowo. Ibarat cerita maka Prabowo menjadi tokoh antagonis sehingga lebih banyak orang berkepentingan supaya si tokoh ini tidak memegang kekuasaan, maka mereka menjadi relawan.

Kerelawanan ini bukan hanya soal mendukung Jokowi. Ini lebih kepada cita-cita bersama yang menurut orang dipertaruhkan pada saat pemilu ini. Itu juga dipertegas dengan mesin partai pendukung Jokowi yang disinyalir tidak berjalan maksimal. Juga fitnah-fitnah yang menerpa Jokowi. Itu yang membuat orang bergerak sebenarnya. Ibaratnya muncul semangat, “Kalau gue enggak turun, gue sendiri yang akan rugi”.

Tadi dikatakan kerelawanan muncul pada 2008, kita tahu di 2009 juga ada Pemilu, tapi kenapa kerelawanan di politik praktis baru terjadi saat ini?

Pertama, karena capres-capres di 2009 tidak menarik kalau diibaratkan sebagai produk dagang maka semuanya mirip-mirip, masih produk lama semua. Lagipula sebelum 2009 evolusi politik kita belum sampai seperti sekarang ini. Dulu, orang yang terjun ke politik masih sangat dinyinyirin. Kita masih selalu jadi oposan, gerakan masyarakat sipil hanya tahu bagaimana menjadi oposan.

Pada 2004 itu awal ketika segelintir aktivis mencoba masuk parlemen, kemudian jumlahnya bertambah lagi pada 2009. Orang mulai sadar tidak bisa terus menerus jadi oposan, tetapi juga bisa masuk ke sistem dan membenahi sistem dari dalam.

Selama empat lima tahun ke belakang, kesadaran dan praktek-praktek tersebut terus berkembang. Titiknya di 2014 ini ketika makin banyak aktivis yang menjadi caleg. Jadi evolusi gerakan masyarakat sipil kita juga berubah.

Jokowi itu seperti hadir di saat yang tepat. Evolusi politik kita berubah, kerelawanan makin banyak dan jenuh dengan stagnannya pemerintahan SBY. Itu semua bertemu dan berjodoh dengan Jokowi.

Sebelum relawan Jokowi lebih banyak relawan dalam gerakan sosial. Jokowi jadi momentum relawan di politik. Apakah di kerelawanan ada dikotomi kerelawanan sosial dan politik?

Tidak. Tidak cocok bahkan dikotomi seperti itu. Kerelawanan itu basisnya kesadaran individu, kesadaran sosial dan politik, sekecil apapun itu. Ada dialektika antara dirinya dengan lingkungannya, dengan persoalan sosial.

Itu yang tidak saya lihat di “kerelawanan politik” dalam konteks partai. Tapi, kerelawan yang mendukung Jokowi ini beranjaknya dari kesadaran politik individu.

Lihat misalnya gerakan relawan yang mengawal perhitungan surat suara itu, kalau dia tidak punya kesadaran politik maka dia tidak akan bikin itu. Juga artis-artis misalnya kalau tidak sadar suara Jokowi harus didongkrak maka mereka tidak akan bikin konser yang di Gelora Bung Karno (GBK).

Animo kerelawanan masyarakat dalam mendukung Jokowi juga bisa kita lihat dengan membandingkan laporan keuangan Prabowo dengan Jokowi. Individu yang menyumbang Prabowo sedikit sekali kalau tidak salah sekitar 40-an individu. Sedangkan individu yang menyumbang untuk Jokowi lebih dari 40 ribu. Ini kan seperti seperti crowdfunding, kita tidak akan menyumbang kalau kita tidak suka dengan projectnya.

Kuatnya relawan Jokowi ini bisa dibaca sebagai fenomena apa?

Fenomena kalau ini sudah zamannya pemerintahan partisipatif. Kita selama ini belum pernah lihat pemerintahan partisipatif seperti yang Jokowi-Ahok lakukan di Jakarta.

Sekarang masyarakat memang ingin berperan dalam pembangunan, ingin menentukan nasibnya sendiri. Bedanya orang dijajah dengan tidak adalah kalau kita dijajah kita tidak bisa menentukan nasib sendiri. Sekarang ini kita berharap kita bisa menentukan nasib sendiri, bahwa kita ingin usulan atau keluhan kita ditampung pemerintah. Mungkin fenomena ini bisa dibaca sebagai itu, masyarakat yang lebih sadar politik.

Bahkan yang memilih Prabowo juga bisa dilihat mereka berani menentukan pilihannya dan mengemukakan argumen. Menurut saya fenomena-fenomena ini kemajuan penting. Kalau ada yang bilang ini pemilu terbaik saya setuju.

Yang terjadi di lapangan dengan masifnya kampanye hitam sangat berbeda dengan keriuhan relawan sosial media, mengapa ini bisa terjadi?

Soalnya penetrasi internet masih minim. Yang tinggal di luar kota besar hidupnya juga lebih pragmatis. Akar rumput masih bergulat dengan kehidupan ekonomi sehari-harinya. Atau terserap perhatiannya ke politik lokal.

Titik kelemahannya bisa jadi adalah infrastruktur dimana akses internet yang belum merata dan yang bekerja di sosial media tidak pernah benar-benar bekerja di akar rumput. Itu juga kritik buat kita sendiri. Kita hanya bermain di kota-kota besar tapi tidak pernah punya metode atau cara menjangkau mereka yang berada di luar akses internet.

Dari situ apa bisa dikatakan pola-pola atau metode yang dilakukan relawan Jokowi sifatnya masih bias kelas?

Dari posisi saya, saya bisa bilang iya. Karena saya tidak turun ke daerah. Tapi tentu perlu ditanyakan juga  ke relawan-relawan yang turun ke daerah tentunya. Secara umum bisa dikatakan masih bias kelas dan sangat kelas menengah sekali. Kita harus menemukan metode kerelawanan di akar rumput, itu yang jarang kita pikirkan.

Kalau akar rumput kan simpel, misalnya gotong royong membangun rumah, ada bencana alam dibantu. Kerelawanan di akar rumput ini biasanya belum terstruktur. Struktur itu pasti ada peraturan, budaya, produk-produk informasi, dan dokumentasi. Di akar rumput sifatnya masih sekadar responsif, artinya saat ada kejadian kemudian merespon. Dia belum menjadi suatu sistem yang sudah jadi.

Saat ini hasil sudah menempatkan Jokowi sebagai pemenang pilpres. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh relawan-relawan yang selama ini membantu?

Sebenarnya pekerjaan ke depan masih banyak. Kebijakan Jokowi pasti akan diserang kanan kiri. Relawan bisa jadi bumper-nya dia ketika kebijakan-kebijakan dia yang pro-reformasi hendak dijegal oleh parlemen. Relawan-relawan ini bisa jadi kekuatan. Yang penting harus dijaga bagaimana relawan-relawan ini tetap punya akses ke Jokowi. Mereka ini seperti lingkar duanya Jokowi.

Coba sekarang kalau SBY lingkar keduanya siapa? Tidak ada. Akibatnya ketika kita mau menyampaikan sesuatu ke SBY jadinya kita bingung bagaimana caranya, akhirnya lewat jalur formal.

Bisa juga menjadi gerakan sipil yang sudah sinergis dengan pemerintah bukan yang beroposisi lagi. Dalam suatu perubahan sosial kan selalu ada dua unsur yakni agency dan struktur. Selama ini agen-agen ini selalu oposan terhadap struktur. Sehingga saling jalan sendiri-sendiri.

Yang bisa dilakukan ke depan bisa jadi bagaimana yang terjadi di agency ini bisa masuk ke struktur. Mengubah struktur jadi lebih baik. Dikeroyok aja strukturnya, misalnya UU MD3. Setelah Jokowi naik pekerjaan besarnya itu, relawan bisa maju lagi.

Artinya relawan tidak mengambil jarak tapi partisipatif?

Iya. Partisipatif kritis. Artinya ia tetap setia bergerak berbasis pada suatu isu, bukan berbasis pada kepentingan politik praktis, tapi di sisi lain dia menjadi orang yang mau memberi masukan ke birokrasi. Kalau dulu kan karena birokrasinya menutup diri kita mau tidak mau harus membuat sistem alternatif yang kemudian disebut oposisi.

Kalau sekarang kita menganggap bahwa Jokowi ini orang baik dan dia butuh dukungan maka support dukungannya berubah dengan memberi dia masukan. Supportnya bukan karena kita mengkultuskan dia, tapi karena ada struktur yang harus diubah dan kebetulan ada orang baik di dalam. Lebih ke sinergis dan itu belum ada presedennya di Indonesia.

Catatan: tulisan ini hasil wawancara Ardi Wilda kepada Hayunta Aquino (pegiat organisasi anak muda Pamflet dan Koalisi Seni Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s